RSS FEEDLOGIN

INDUSTRI SOFTWARE: Ekspor Diprediksi Tumbuh 20%

Didit A. Susanto   -   Rabu, 13 Februari 2013, 10:06 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

JAKARTA—Ekspor peranti lunak (software) dari Indonesia diprediksi hanya akan tumbuh tak lebih dari 20% tahun ini. Selain persaingan yang cukup ketat, developer lokal juga dihadapkan pada tantangan inovasi.

Ketua Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengatakan di Indonesia impor software masih cukup dominan. Dia memprediksi belanja IT service (jasa Teknologi Informasi) di Indonesia bisa mecapai Rp10 triliun tahun ini. Sebagian di antaranya merupakan belanja software dengan skema software as a service (saas).

Spending software di Indonesia mungkin mencapai Rp3,5 triliun tahun ini. Ekspor software harus diakui memang masih kecil sekali,” ujar dia kepada Bisnis hari ini, Selasa (12/2/2013).

Menurut Djarot kondisi itu wajar lantaran belanja TI di Indonesia sebagian besar dialokasikan ke hardware. Porsinya mencapai 80%, sementara porsi biaya software dan services masing-masing 8% dan 12%. Kondisi itu jauh berbeda jauh dengan belanja IT di luar negeri yang hampir 70% di antaranya dialokasikan untuk software.

“Jadi terlihat jelas di situ bagaimana pendayagunaan ICT,” imbuh dia.

Meski begitu Djarot mengatakan pihaknya tetap optimistis software lokal akan tumbuh. Selain pertumbuhan sektor lain seperti Internet dan smartphone, industri software lokal yang selama ini bergerak di sektor cloud dan services juga berpotensi mencuat. Hal itu dipicu ketersediaan sejumlah platform untuk perangkat Apple, Android maupun Windows.

Tahun lalu belanja software diperkirakan mencapai Rp3,2 triliun. Tahun ini, jumlah itu diprediksi akan tumbuh 5%, di mana layanan yang berkaitan dengan software juga naik sekitar 23%. Aspiluki memperkirakan pertumbuhan belanja software total bakal naik 11% tahun ini.

Menurut dia persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan software lokal untuk memacu inovasi. Lonjakan bisnis mobile dan cloud harus diimbangi dengan strategi baru. Djarot meyakini foundation software semacam accounting dan sejenisnya masih banyak dibutuhkan di negara berkembang. Namun perusahaan software harus mulai mempertimbangkan untuk memproduksi software berbasis Internet agar tetap bertahan. (sut)

Source : Galih Kurniawan

Editor : Sutarno

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.