JAKARTA--Ada banyak poin yang harus diperhatikan untuk mengembangkan pariwisata. Apa saja poin-poin tersebut?
Presiden Direktur El John Media Johnnie Sugiarto memaparkan setiap tempat wisata akan lebih dikenal dan berkembang bila mempunyai budaya yang menarik. Di Indonesia hal ini sangat dimiliki oleh setiap daerah.
"Karena ada budaya yang bagus dan tidak ada di tempat lain, itu menjadi daya tarik," ujarnya dalam Seminar Revitalisasi Industri Pariwisata dan Kewirausahaan Nasional untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa di Universitas Sahid, Selasa (5/3/2013).
Selain budaya, sumber daya alam juga punya peran penting. Johnnie memberi contoh Borobudur adalah salah satu cagar alam yang daya tarik wisatanya sangat besar.
Lalu bagaimana dengan negara-negara yang minim akan budaya dan SDA? Acara (event) menjadi kunci untuk mendatangkan turis baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sebagai contoh, tutur Johnnie, Singapura setiap tahun mempunyai sekitar 600 acara mulai dari konser musik hingga tontonan balap. Kegiatan tersebut pun membuat tamu-tamu dari luar negeri berdatangan.
Akan tetapi budaya, SDA dan acara yang menarik juga harus dibarengi dengan manajemen destinasi yang baik.
Bila pengelola wisata tidak mengatur dengan baik akan membuat wisatawan enggan kembali.
Salah satu unsur dalam manajemen destinasi yang mendukung ialah aksesbilitas dan menjadi kunci untuk mengembangkan wisata.
"Akses ya sulit menuju tempat wisata membuat orang malas dan tidak mau datang. Akses yang sulit membuat destinasi wisata sulit dijual," ucapnya.
Tak kalah penting, lanjut Johnnie, adalah keamanan pada suatu tempat wisata. Namun keamanan yang dimaksud tidak hanya keamanan fisik.
Kesehatan suatu makanan serta psikologis turis harus dijaga dengan baik oleh pengelola wisata. Di Indonesia sendiri pernah terjadi kasus pembunuhan di Danau Toba.
Akibat kasus tersebut yang tersebar ke negara luar membuat jumlah wisatawan asing menurun drastis. Hotel-hotel yang berada di sekitar Danau Toba pun menjadi sepi. (ra)
Source : Mahmudi Restyanto
Editor : Rustam Agus
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.