RSS FEEDLOGIN

IMF: Peta Ekonomi Dunia Telah Berubah, Negara Berkembang Dominan

Fajar Sidik   -   Rabu, 13 Maret 2013, 09:27 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130215_imf-1.jpgBISNIS.COM, WASHINGTON - Wakil Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Zhu Min mengungkapkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan negara maju yang pesat, dunia telah menjadi lebih saling terkait dan peta ekonomi global sedang mengalami beberapa perubahan mendasar.

Menurutnya, negara berkembang telah mencatat pertumbuhan lebih cepat daripada negara maju dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang mencatat pangsa semakin lebih besar dari produksi ekonomi global.

Zhu mengatakan itu pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh Paul H. Nitze School of Advanced International Studies (SAIS) di bawah Johns Hopkins University di Washington, Selasa (12/3/2013).

Negara-negara berkembang juga membuat kontribusi yang semakin penting untuk pertumbuhan konsumsi dan perdagangan global, yang mendorong "perubahan gravitasi global," kata Zhu kepada sekelompok pakar, mahasiswa dan perwakilan media.

Namun, dibandingkan dengan Amerika Serikat, negara-negara berkembang seperti China masih mencatat pangsa yang sangat kecil dari transaksi keuangan global dalam hal aset dan kewajiban eksternal mereka dalam total volume global.

Negara maju seperti Amerika Serikat dapat memiliki efek "spillover" jauh lebih besar di seluruh dunia melalui hubungan keuangan, katanya.

Karena "hiper-konektivitas" dari pasar keuangan dan perdagangan dari negara yang berbeda, koordinasi global telah menjadi lebih penting daripada sebelumnya, kata Zhu seperti dilansir Xinhua.

Negara maju seperti zona euro dihadapkan dengan "masalah sulit" dari utang yang besar dan memperkuat pertumbuhan ekonomi, karena rasio utang publik mereka terhadap produk domestik bruto (PDB) mereka telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, ekonom itu memperingatkan.

Source : Newswire

Editor : Fajar Sidik

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.