NUSA DUA: Industri gas global kini berada di persimpangan jalan.Krisis ekonomi yang melanda Eropa yang hingga kini belum berangsur pulih, ekonomi China yang sedang melambat serta di belahan lain, tepatnya di Amerika Utara sedang mengalami boom shale gas.Berkaitan dengan kondisi gas global seperti itu, Bisnis mewawancarai Ketua Indonesia Gas Asociation Hendi Prio Santoso, yang juga dirut PT Perusahaan Gas Negara Tbk di sela-sela pertemuan Gas Information Exchange in Western Pacific Area (Gasex) 2012 belum lama ini. Berikut petikannya.Sebagai Ketua IGA, bagaimana pandangan Anda terhadap kondisi industri gas secara umum?Ada beberapa perkembangan global yang mempengaruhi bisnis gas dewasa ini.Bahan bakar gas itu sebenarnya masuk katagori energi transisi, dari bahan bakar minyak menuju energi alternatif termasuk energi baru terbarukan (renewable energy).Namun, persoalannya dunia energi baru saja terjadi musibah berupa adanya peristiwa Fukushima—gempa bumi yang melanda Jepang.Bencana itu mengakibatkan retaknya fasilitas reaktor nuklir Fukushima sehingga operasi pembangkit berbasis nuklir di negara itu harus dihentikan.Akibatnya ekspansi energi berbasis nuklir kini mulai direm.Selain itu masih adanya financial turmoil. Kawasan Eropa masih belum beranjak dari krisis.Demikian pula dengan China yang ekonominya sedang melambat. Di sisi lain, di Amerika Serikat kini ditemukan shale gas—gas yang berasal dari serpihan bebatuan.Perkembangan produksi gas Australia yang segera masuk ke pasar juga telah memengaruhi pasar gas global.Bayangkan, dengan adanya boom shale gas dengan harga US$3 per juta Btu (British thermal unit) telah memengaruhi pasar gas global.Dengan kondisi itu, artinya Indonesia sebagai salah satu produsen gas dunia lebih baik memprioritaskan gas bagi kepentingan domestik saja?Memang adanya pernyataan pemerintah Indonesia untuk lebih memprioritaskan produksi gasnya bagi kepentingan domestik telah menjadi perhatian pelaku bisnis gas global (investor).Indonesia harus mereview rencana jangka panjang industry gas secara keseluruhan, baik di bidang infrastruktur, maupun akselerasi kegiatan hulu.Di tataran global, satu saat Eropa akan rebound lagi. Begitu juga dengan Jepang, Mereka kini sangat tergantung sekali dengan gas setelah terhentinya reaktor Fukushima.Dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus tetap menggenjot eksplorasi dan produksi. Yang jelas, harga gas akan kembali ekuilibrium dari kondisi saat ini floating.Bagaimana posisi PGN?Bagi PGN harus tetap fokus ke core business-nya. Kami akan memperkuat portofolio bisnisnya dengan memperkuat infrastruktur dan memasok kebutuhan gas bagi industri dan rumah tangga.Namun fenomena shale gas juga harus mendapatkan perhatian. Bayangkan produksi shale gas, yang merupakan produk unconventional gas, mulai masuk ke pasar pada 2017.Misalnya Singapura sudah mendapatkan komitmen pasokan shale gas sebanyak 3 MMscfd. Volume yang sama juga didapatkan oleh India, Korea, dan Spanyol.Dengan adanya fenomena itu, PGN kini semakin yakin dengan bisnis gas yang selama ini ditekuninya. Peranan gas sebagai feedstock kini sudah semakin penting.Kami juga mulai masuk ke bisnis hulu. Kami telah memiliki satu blok CBM (Coal bed methane) di Sumatra Selatan.Kami juga berencana melakukan akuisisi terhadap dua blok migas pada tahun ini.Untuk kepentingan itu, kami telah menyediakan anggaran US$500 juta untuk kepentingan infrastruktur dan akuisisi.Kami harapkan akuisisi itu bisa direalisasikan pada akhir tahun ini. (ra)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.