10 TAHUN lalu, khalayak niscaya tak mengenal Hary Tanoesoedibjo (47 tahun). Kini, dia adalah salah satu pengusaha papan atas terpopuler dengan koneksi politik yang tak bisa diremehkan.
Pertanyaannya, bagaimana bisa, Hary Tanoe yang 10 tahun lalu masih nobody, setelah berbagai kekuatan politik silih berganti tampil mengisi panggung nasional, sekarang jadi somebody?
Tak seperti banyak pengusaha papan atas yang tumbuh secara tradisional, pria kelahiran Surabaya, 26 September 1965 ini adalah hasil cetakan formal lembaga pendidikan asing.
Hary lulus dengan gelar Bachelor of Commerce dari Carleton University, Ottawa, pada 1988 dan meraih Master of Business Administration dari Ottawa University, Ottawa-Kanada, pada 1989.
Dengan latar itulah, pada 2 November 1989, Hary mendirikan PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) yang tercatat di Bursa Efek Surabaya. Bhakti inilah perusahaan yang kelak jadi kapal induknya.
Pada February 1990, Hary memindahkan kantor Bhakti ke Jakarta, tepat saat pemerintah memulai paket deregulasi dan hampir secara bersamaan, booming pasar modal dimulai.
Hasilnya, Bhakti tumbuh cepat di hampir segala bidang, mulai dari perdagangan saham & surat berharga, manajemen investasi, penjaminan, penasehat keuangan sampai riset pasar.
Pada 1995, seiring diperolehnya kepercayaan pasar, terutama asing, Bhakti mulai melakukan sejumlah aksi akuisisi, dilanjutkan dengan merilis sejumlah produk bursa 2 tahun kemudian.
Dan pada tahun itu pula, sesaat sebelum krisis meledakkan pasar modal Indonesia, Bhakti melakukan dual listing di Bursa Efek Jakarta sekaligus Bursa Efek Surabaya
Bukannya jatuh akibat krisis, pada tahun menentukan itu Bhakti justru mengakuisisi PT Bimantara Citra, kapal induk milik anak mantan Presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo.
Dari akusisi itulah kemudian Bhakti beroleh RCTI, yang belakangan dikonsolidasikan ke dalam MNC Group. Sejalan dengan itu, bisnis Hary pun berkembang pesat.
Nyaris seluruh lini dirambahnya, mulai dari PT Bank Jabar Banten Tbk sampai mendirikan MNC Life. Tak cukup itu, bisnis tambang dan transportasi juga tak luput dari bidikannya.
Puncaknya, berkala Forbes tahun 2011 menempatkan suami Liliana Tanaja ini dalam peringkat ke-22 daftar orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$1,19 miliar.
Tidak mulus
TENTU saja perjalanan Hary Tanoe tidak mulus. Beberapa tahun lalu, dia masuk ke pusaran kasus dugaan gratifikasi mobil jaguar kepada sejumlah orang dekat Presiden SBY.
Dia juga Hary berseteru dengan Tutut (Siti Hardiyanti Rukmana) dalam kepemilikan TPI, disusul pemeriksaan KPK dalam kaitan dugaan korupsi pajak Bhakti pertengahan tahun lalu.
Dalam dosis tertentu, pelaku pasar modal juga menyimpan kecurigaan pada Hary, terutama kaitannya dengan aksi goreng saham PT Agis Tbk (TMPI), juga kebenaran bisnis tambangnya.
Itulah sebabnya, kenapa tahun lalu, sayup-sayup kita mendengar istilah 'Bakrie wannabe', julukan baru untuk Hary yang diberikan oleh sejumlah pelaku pasar yang iseng.
Tapi dengan percaya diri, pada waktu hampir bersamaan, Hary bergabung ke Partai Nasionalis Demokrat bentukan Surya Paloh, disusul kongsi antara MNC Group dan Metro Group.
Kini, Hary mengejutkan publik dengan mundur dari Partai Nasdem yang baru dinyatakan lolos jadi peserta Pemilu 2014. Kongsinya dengan Surya Paloh pecah.
Dengan segala centang perenang 10 tahun itu, rasanya tak berlebihan kalau dalam waktu dekat ini kita masih akan melihat manuver Hary. Tunggu saja. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)
Editor : Bastanul Siregar
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.