RSS FEEDLOGIN

HARGA BBM NAIK: Industri Kecil Tekstil Kian Tertekan

Adi Ginanjar Maulana   -   Jumat, 03 Mei 2013, 19:00 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130420_tekstil.jpgBISNIS.COM, BANDUNG–Industri kecil tekstil dan produk tekstil di Jawa Barat mengaku resah terhadap rencana penaikan harga BBM yang dipastikan akan menekan bisnisnya.

Wakil Ketua Bidang Ekspor Koperasi Industri Tekstil (Koperintek) Kabupaten Bandung Asep Zaenal mengemukakan hingga kini pihaknya belum menemukan solusi apabila penaikan BBM terjadi.

“Kami prediksi imbas penaikan BBM yang besar terjadi pada produktivitas industri dan pengupahan tenaga kerja,” kata Asep kepada Bisnis, Jumat (3/5/2013).

Dia menjelaskan, penurunan produktivitas industri sudah terjadi sejak pascapenaikan upah dan tarif dasar listrik (TDL) awal tahun lalu hingga 10%.

Menurutnya, jika penaikan BBM sangat tinggi, produktivitas industri akan semakin tertekan karena akumulasi beban penaikan upah dan TDL.

“Pengalaman dari penaikan upah dan TDL, produktivitas industri menurun dari produksi baju muslim misalnya 30 kodi per minggu menjadi 20 kodi per minggu,” ungkapnya.

Imbas dari kenaikan upah dan TDL juga sudah membuat bahan baku produksi naik 10%. Harga kain yang asalnya Rp13.000 per yard menjadi Rp14.000 per yard dan benang dari Rp10.500 per lusin menjadi Rp11.500 per lusin.

Dia mengatakan, semestinya pemerintah tidak menaikkan bahan pokok industri a.l listrik dan BBM setiap tahun, karena menjadi beban bagi industri kecil.

“Dulu, kami bisa berpikir rasional karena penaikan listrik dan BBM bisa 5-10 tahun sekali. Kalau sekarang kurang dari 5 tahun penaikan terus menerus sehingga berimbas negatif terhadap pengusaha,” tegasnya.

Meski demikian, hingga kini IKM di bawah naungan Koperintek terdapat 58 industri, masih bertahan tanpa PHK. “Kalau yang gulung tikar serta pengurangan tenaga kerja memang belum ada namun kami antisipasi dengan pengurangan produksi.” (Wandrik Panca Adiguna/mfm)

Editor : Fatkhul Maskur

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.