RSS FEEDLOGIN

Gorden Ambulans Pun Ada Tarifnya

Yeni H. Simanjuntak   -   Rabu, 01 Mei 2013, 14:32 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130501_ambulan.jpg“Bahkan gorden di ambulans saja ada jenisnya. Pokoknya bisnis rumah duka itu dukamu bahagiaku deh,” ujar Felicia, warga Jakarta yang pernah menggunakan jasa layanan rumah duka saat neneknya meninggal dunia.

Total biaya yang dikeluarkan oleh keluarganya saat itu sebesar Rp40 juta, termasuk satu kaveling di TPU Tanah Kusir. Rumitnya pengurusan pemakaman menjadi alasan keluarga Felicia memilih menggunakan jasa rumah duka.

Ada rupa, ada harga. Jenis gorden yang dipasang pada ambulans pengangkut jenazah tersebut menentukan berapa biaya yang harus dibayar. Gorden yang bagus, tentu dikenakan tarif lebih mahal dibandingkan dengan gorden dengan kualitas di bawahnya.

Demikianlah bisnis rumah duka. Tarif akan mengikuti bentuk layanan yang diminta oleh konsumennya. Ada yang murah, ada pula layanan dengan tarif selangit. Semua tentunya disesuaikan dengan layanan yang digunakan.

Jika keluarga Felicia harus merogoh kocek hingga Rp40 juta, tidak demikian halnya dengan keluarga Siboru yang memakai jasa Rumah Duka RS UKI Jakarta. Dengan membayar Rp5,7 juta, semuanya layanan hingga pemakaman sudah termasuk di dalamnya. Namun, tentu saja dengan kualitas peti mati yang berbeda dan TPU yang berbeda pula.

Bagi Antonio Tjahjadi, Rp5,7 juta tentu saja tidak cukup. Dia memilih untuk mengeluarkan biaya hingga Rp80 juta untuk paket rumah duka VVIP, peti jenazah, dekorasi, dan konsumsi dari Rumah Duka Heaven Funeral Home untuk prosesi pemakaman jasad ayahnya.

“Saya rasa harga yang ditawarkan sesuai dengan apa yang kami dapat. Tamu juga kerasan. Mengeluarkan uang untuk menghormati orang yang kita sayang, saya pikir adalah sesuatu yang wajar,” katanya.

Direktur sebuah perusahaan asuransi ini tertarik karena ragam fasilitas yang membuat nyaman keluarga dan tamu. Selain itu, suasana yang dihadirkan dalam rumah duka tidaklah menyeramkan seperti kebanyakan rumah duka lain.

“Ditinggal orang yang kita sayang itu memang sedih, tetapi di sisi lain kami sadar bahwa kami juga ingin memberi kenyamanan kepada banyak orang yang ingin memberi penghormatan terakhir,” jelasnya.

Jika Antonio menjadikan penghormatan terakhir sebagai alasannya untuk memilih layanan rumah duka yang mahal untuk prosesi pemakaman jasad ayahnya, lain lagi dengan Shanti Danoe. Kepanikan membuatnya benar-benar terbantu dengan adanya layanan rumah duka.

Istrinya meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Jakarta pada pukul 10 malam. Masalahnya, jasad istrinya tersebut akan dimakamkan di Banjarmasin. Untuk itu, keluarga mereka harus menunggu penerbangan pagi untuk mengangkut jenazah ke Banjarmasin.

“Saya tidak perlu repot, semua keperluan sudah diurus rumah duka,” ujarnya mengenang kejadian 2 tahun lalu. Dengan biaya yang tidak sampai Rp1 juta, pelayanan yang didapat sudah termasuk jasa memandikan jenazah, ruang persemayaman, hingga mobil mengantar jenazah.  Semua pelayanan ini ia dapatkan dari Rumah Duka  RSPAD Gatot Subroto yang letaknya bersebelahan dengan rumah sakit tempat sang istri divonis meninggal.

UNTUK KEPRAKTISAN

Kepraktisan menjadi salah satu alasan utama pemilihan layanan rumah duka oleh keluarga yang tengah berduka. Reza, salah satu kerabat almarhum Rachmat Pakpahan (mantan karyawan PT Freeport), menyebutkan keluarganya harus menyewa ruangan selama 3 hari, sepaket dengan dekorasi, peti jenazah, organ tunggal, dan tenda. Untuk itu, keluarganya mengeluarkan uang hingga Rp10 juta.

“Itu belum termasuk biaya catering. Bisa sampai Rp15 juta,” tuturnya. Seluruh biaya itu belum termasuk biaya pengantaran jenazah ke TPU Pondok Kelapa yang ditangani sendiri  oleh pihak keluarga.

Bukan hanya dalam pengurusan jenazah, kepraktisan juga menjadi prioritas saat mengebumikan jenazah. Pengurusan izin kaveling makam yang dinilai cukup merepotkan membuat beberapa orang memilih proses yang lebih praktis.

“Saat itu membayar Rp1,2 juta langsung ke penggali makam, tidak melalui kantor,” kata Rama mengenang proses pemakaman ayahnya beberapa waktu lalu. Dia tahu pengurusan langsung di kantor TPU biasanya dikenakan biaya Rp700.000–Rp800.000 atau lebih rendah dari uang yang telah dia keluarkan. Namun, birokrasi yang berbelit, membuat Rama memilih jalan pintas.

 

Source : Dimas Novita Sari

Editor : Martin Sihombing

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.