JAKARTA: Jelang tutup tahun, tim regulator ajang balap jet darat Formula One memutuskan sebuah perbaikan regulasi bagi penggunaan sistem sayap gerak pengurang hambatan udara (DRS) bagi musim balap tahun mendatang.Peranti DRS atau Drag Reduction System memungkinkan pembalap membuka elemen atas di sayap belakang mobil. Dianggap sebagai piranti rumit, DRS memiliki fungsi penting sebagai kontrol terharap seluruh sistem aerodinamis mobil, terutama pergerakan sayap belakang, yang berguna memperlambat atau mempercepat mobil.Penggunaan DRS memberi keuntungan bagi pembalap dengan mendapat kecepatan tambahan sebanyak 10-12 km/jam. Dengan peranti ini, aksi salip menyalip semakin banyak.Menurut Direktur perlombaan Federasi Balap Internasional (FIA) Charlie Whiting seperti dikutip dari laman resmi F1 menyatakan FIA bersikukuh tidak akan ada penambahan zona bagi pengunaan DRS sehingga keterampilan pembalap menjadi berkurang.“Tidak ada yang ingin membuat salah satu aspek utama keterampilan pengemudi dengan membuat menyalip terlalu mudah,” ujarnya tegas.Dengan ketetapan ini, wilayah penggunaan DRS (DRZ zone) tetap diberikan di jalur lurus terpanjang di setiap lintasan sehingga membuat peluang menyalip menjadi mungkin tetapi tetap tidak terlalu mudah dilakukan.Direktur teknis McLaren Paddy Lowe, anggota berpengaruh dari Kelompok Kerja Teknis menyatakan bermain-main dengan desain aerodinamis tidak pernah akan menjadi solusi karena mobil F1 akan selalu perlu downforce untuk menghasilkan kinerja tinggi.Meski bersikukuh dengan jumlah zona DRS, FIA tengah memikirkan untuk menambah titik lokasi DRS di Melbourne, Australia dan Valencia, Spanyol.Kombinasi penggunaan sistem KERS dan DRS pada musim balap 2011 adalah sebuah langkah positif dalam balapan Formula One. Penggunaan KERS sempat ditunda selama dua musim, sebelum benar-benar digunakan pada musim 2010.KERS (Kinetic Energy Recovery System) adalah sistem pemanfaatkan energi kinetik yang terbuang dari rem. Ini memungkinkan pengemudi untuk meningkatkan daya pacu mobil.(api)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.