Sahabat saya, sebut saja Ali, punya hajatan besar. Dia akan mantu untuk pertama kali, menikahkan anak perempuan tertuanya. Berbulan-bulan sebelum hari H, Ali sudah diserbu ketegangan.
Gadis cantik kesayangannya, yang telah dibesarkan selama 23 tahun, kini saatnya disunting orang. Dan dia ingin melepaskannya dengan sebuah pesta nikah yang meriah. Sebagai mantan pejabat wajar kalau dia menginginkan pesta besar.
Bukankah budaya kita menempatkan kebesaran pesta walimah sebagai salah satu simbol penting gengsi dan status sosial sebuah keluarga?
Kebetulan tradisi di Tanah Air memberikan hak penyelenggaraan pesta perkawinan pada keluarga mempelai perempuan. Keluarga mempelai lelaki biasanya dimintai bantuan atau bahkan menanggung seluruh biaya pesta.
Itulah tradisi patrilineal yang dianut sebagian besar etnis di Indonesia. Sebagai mantan pejabat, Ali menjaga gengsi untuk tidak membicarakan hal yang menyangkut perkiraan biaya pesta dan pembagian tanggung jawab dengan calon besannya, seraya beranggapan bahwa calon besan akan dengan sukarela menanggung biaya pesta, paling tidak separuhnya.
Setelah pesta meriah itu usai, barulah beban kewajiban yang timbul dari pesta--yang lebih dari Rp1 miliar--menjadi urusan. Sekarang tak terelakkan pembicaraan tentang pembagian beban. Situasi menjadi buruk ketika pembicaraan dengan besan tidak berjalan mulus.
Sementara itu, anak gadis dan menantunya, sejak awal memang tidak memiliki gambaran dan perencanaan apapun tentang konsekuensi finansial yang akan timbul dari kehendak mereka membangun rumah tangga.
Mereka terbuai oleh cinta remaja yang membara. Yang mereka ingat hanyalah undangan, gaun pengantin, tuksedo, kembang, tempat yang bergengsi, dekorasi yang gemerlap, dan hidangan yang istimewa, dan memorable honeymoon. Mereka tidak menyadari bahwa semua kemewahan itu pada tahap awal bisa membuat retak dua keluarga yang seharusnya menyatu.
Mereka tidak punya antisipasi bahwa akibat beban itu akan mereka pikul cukup lama setelah bulan madu mereka usai.
Pesta perkawinan baru merupakan gerbang memasuki kehidupan rumah tangga. Kalau di pintu gerbang saja situasi sudah tidak nyaman, bagaimana kehidupan selanjutnya akan dijalani. Tidak kalah penting adalah bagaimana perencanaan finansial keluarga setelah layar digerek naik dan biduk mulai berlayar.
Perkawinan akan mengikat dua manusia ke dalam satu kehidupan bersama. Seperti juga peristiwa besar dalam perjalanan hidup sesorang, perencanaan keuangan merupakan hal yang serius yang tak boleh diabaikan. Getting married means sharing financial responsibility.
Saya punya teman pasangan yang bisa akur dalam banyak hal tapi hampir selalu bertengkar bila sampai pada urusan keuangan. Sang suami adalah, walaupun berperan sebagai the bread maker, juga orang yang sangat boros, punya utang yang bertumpuk, suka belanja tanpa memperhitungkan keadaan keuangan rumah tangga. Sebaliknya, isterinya seorang yang biasa sangat disiplin dalam mengatur belanja rumah tangga.
3 HAL WAJIB
Menyangkut perencanaan keuangan, setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan oleh calon pasangan, saat mereka memutuskan untuk menikah.
Pertama, mulailah dengan kejujuran dan keterbukaan tentang kondisi finansial masing masing. Ini tidak mudah, karena gampang tergelincir pada kesan mata duitan. Masing-masing pihak secara terbuka memberitahu pihak lain tentang asset yang dimilki, hutang yang masih harus dibayar, investasi yang sedang dikelola.
Lebih dari itu, masing-masing juga harus terbuka tentang sikap mereka terhadap uang (financial habits).
Kedua, berangkat dari saling penegertian masing-masing, pasangan kemudian mencoba menyusun perencanaan keuangan bersama, menentukan sasaran yang hendak dicapai serta tahapan tahapannya, serta menetapkan prioritas.
Termasuk di dalamnya keputusan untuk langsung memiliki anak atau menunda, merencanakan tempat tinggal, kendaraan, asuransi dan lain-lain.
Ketiga, yang paling penting adalah mencoba memahami sudut pandang pasangannya tentang financial habits masing masing. Upaya menyamakan persepsi sering sangat krusial apabila pasangan berasal dari latar belakang ekonomi yang jauh berbeda.
Tiga hal di atas merupakan upaya menyingkirkan bibit-bibit pertengkaran di kemudian hari yang dipicu oleh aspek keuangan.
SIMAKLAH TIPS INI:
Setelah menjalani kehidupan rumah tangga, perencanaan keuangan seyogianya menjadi lebih rinci. Simak beberapa tips berikut:
Pertama, menerjemahkan tujuan finansial yang telah disepakati bersama ke dalam bujet rumah tangga.
Kedua, kesepakatan tentang siapa yang bertanggung jawab mengelola bujet rumah tangga.
Ketiga, mekanisme persetujuan bersama menyangkut pengeluaran - atau meminjam uang - dalam jumlah besar yang belum diantisipasi dalam bujet, seperti mengambil kredit rumah, membeli mobil dan semacam itu.
Keempat, kesepakatan tentang status kepemilikan dan pengelolaan asset yang sudah dimiliki masing masing sebelum menikah.
Kelima, mungkin dibutuhkan perjanjian tentang solusi finansial seandainya kemudian berpisah. Kehadiran perjanjian semacam itu sering menimbulkan kesan buruk seakan akan perkawinan tidak akan langgeng. Tapi empiris membuktikan bahwa selain hak mengasuh anak, solusi finansial merupakan hal yang paling sulit diputuskan pada saat pasangan suami isteri bercerai.
Uang, sekali lagi, bukan merupakan hal yang terpenting dalam membina kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga. Namun fakta di sekitar kita menjadi saksi seringnya keributan rumah tangga yang bersumber dari ketidak sepahaman di bidang keuangan.
Lebih parah, sebagian dari keributan itu tidak bermuara pada saling penegertian, tapi berrujung pada perceraian. Fenomena semacam itu terjadi bukan hanya ada rumah tangga yang secara ekonomis sulit, tapi juga dari keluarga dengan latar belakang berkecukupan…….
Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business.
Source : Hasan Zein Mahmud
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.