Buku pertama yang saya baca tentang cara menjadi kaya, seingat saya, adalah buku Robert G. Allen yang berjudul Creating Wealt. Itu terjadi hampir 30 tahun lalu, di pertengahan tahun 1980-an, ketika kehidupan saya, secara material, tergolong miskin.
Buku itu membekas dalam di benak saya. Walaupun tidak banyak ajaran yang bisa saya terapkan, dan saya sendiri sampai saat ini tidak tergolong kaya, namun saya tetap merasakan banyak manfaat yang saya peroleh dari membacanya.
Allen memulai bukunya dengan pertanyaan provokatif: "Mengapa uang mengalir ke sebagian orang seperti magnet, sementara menjauh dari sebagian lainnya?"
Dia menyodorkan jawaban bahwa kesalahan utama terletak pada asumsi dan cara pandang kita yang salah tentang kekayaan dan cara menjadi kaya. Lebih repot lagi karena kita terus berpegang pada cara pandang yang keliru itu terus menerus sampai mati.
Paradigma yang keliru itu memerangkap kita seperti monyet-monyet Afrika. Orang-orang Afrika menangkap monyet dengan cara yang unik. Pemburu monyet membuat lubang sebesar tangan monyet di tempurung kelapa, lalu menaruh beberapa butir kacang dalam kelapa yang telah dilubangi tersebut. Kelapa itu kemudian diikat dengan tali yang ujungnya dipegang pemburu.
Menyadari bahwa di dalam kelapa ada kacang, monyet akan memasukkan tangannya ke dalam dan menggenggam kacang tersebut. Namun tangan yang menggenggam erat tersebut tidak akan bisa keluar dari lobang. Monyet monyet tersebut tetap bertahan tidak mau melepaskan genggamannya walaupun sang pemburu telah menarik tali yang mengikat kelapa tersebut ke arahnya.
Dalam mempertahankan cara pandang, kita cenderung menjadi monyet-monyet Afrika. Bagi pembaca yang bersedia melepaskan peanut idea yang digenggamnya dan melakukan program ulang terhadap paradigma menyangkut upaya menjadi kaya, saya singkat beberapa konsepsi yang keliru versi Allen berikut ini.
KORUPSI!
Kesalahan konsepsi yang pertama adalah menganggap bahwa dengan memiliki pekerjaan yang baik sebagai pegawai, Anda punya kesempatan menjadi kaya. Boleh jadi hanya ada satu cara untuk menjadi kaya dengan posisi menjadi pegawai: Korupsi! Menjadi pegawai yang jujur indentik dengan menerima dengan tulus untuk tidak menjadi kaya.
Memperoleh pekerjaan yang bagus dan bekerja keras, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia, cukup untuk mengangkat Anda ke kelas menengah secara mateeial, tapi tidak untuk menjadi kaya. Menjadi kaya itu bukan working harder but working smarter. Wealth is when small effort produce large results.
MENABUNG
Kesalahan konsepsi yang kedua adalah menganggap bahwa menabung merupakan investasi yang bagus. Disiplin menabung adalah tindakan yang bagus, bahkan itu merupakan langkah awal untuk membangun kekayaan. Tapi berapa banyak orang yang bisa menjadi kaya dengan hasil tabungan? Menjadi kaya membutuhkan transformasi dari saving minded ke arah investing minded.
MEMINJAM
Kesalahan konsepsi yang ketiga adalah menganggap bahwa meminjam uang selalu berarti petaka. Betul, berhentilah berhutang untuk membeli penampilan, berhutanglah untuk tujuan produktif. Someone can never become wealthy without going into some form of investment debt. Acuannya sederhana, Anda boleh mengutang bila imbal hasil usaha produktif Anda lebih besar dari tingkat bunga. Dan jangan mengambil utang jangka pendek untuk investasi jangka panjang.
KEAMANAN DANA
Kesalahan konsepsi yang keempat mengganggap keamanan dana adalah yang terpenting. Orang Amerika bilang no pain no gain, no guts no glory. Risiko dan keuntungan adalah dua muka dari mata uang yang sama. Risk is an essential part of progress. The more you love security the more likely you will avoid risk, you also avoid opportunity, because risk is the price you pay for opportunity.
KEGAGALAN
Kesalahan konsepsi yang kelima menganggap kegagalan adalah sesuatu yang buruk. Semua biografi yang pernah terbit memberi kesaksian bahwa orang yang sukses adalah orang yang sering mengalami kegagalan. Mendaki ke puncak harus berani jatuh. Karena itu kegagalan merupakan bagian dari sukses. Yang paling penting dalam menghadapi kegagalan adalah sikap mental yang positif.
Kegagalan meningkatkan injenuitas dan fleksibilitas. Kegagalan memberikan kita cakrawala baru yang meningkatkan kemampuan kita dalam menemukan cara mencapai tujuan. "Failure is not falling down, it's staying down" kata Mary Pickford. Jatuh ke dalam air tidak akan membuat anda tenggelam, kecuali bila anda diam dan tidak bangkit kembali.
BUKAN UANG
Kesalahan konsepsi keenam, yang menurut saya paling penting adalah menganggap bahwa kekayaan indentik semata mata dengan uang. Uang adalah tampilan bukan substansi. Kaya adalah state of mind. Kaya adalah cara pikir, cara pandang, sikap hidup.
Bagi sebagian kita ucapan Henry Ford berikut akan kedengaran sombong. Ketika dia ditanya apa yang akan dia lakukan seandainya kehilangan seluruh kekayaannya? Ford menjawab ringan: "Saya akan mendapatkannya kembali dalam lima tahun".
Kita cenderung menilai takabur ucapan Donald Trump yang mengatakan "Kalau Anda dilahirkan miskin, itu bukan kesalahan Anda, tapi kalau anda meninggal dalam keadaan miskin, itu sepenuhnya kesalahan Anda."
Yang perlu ditonjolkan dari ucapan itu adalah semangat pantang menyerah. Ada sebuah riset klasik tentang sikap menyerah ini. Sejumlah ikan tombak dimasukkan ke dalam akuarium bersama dengan segerombolan ikan teri. Ikan-ikan tombak itu, secala alamiah memangsa ikan-ikan teri yang ditemuinya.
Lalu para peneliti memisahkan ikan tombak itu dengan gerombolan teri dengan dengan cara menyisipkan selembar kaca tembus pandang. Pada tahap awal, ikan tombak itu akan berusaha memangsa teri teri yang dilihatnya, tapi selalu terbentur pada kaca.
Akhirnya ikan-ikan tombak itu menyerah. Bahkan setelah kaca pemisah diambil, mereka tetap tidak lagi memangsa teri teri yang berada di samping mereka. Ikan tombak itu kemudian mati kelaparan di tengah tengah hidangan yang siap santap.
Manusia tentu saja lebih cerdik ketimbang ikan. Tuhan mengaruniakan sumber sumber kekayan nyaris tanpa batas. Tergantung kita apa mau menggalinya apa tidak.......
o> Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business
Source : Hasan Zein Mahmud
Editor : Lahyanto Nadie
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.