RSS FEEDLOGIN

FILM NASIONAL: Mengembalikan Kejayaan Karya Anak Bangsa

Miftahul Khoer   -   Kamis, 18 April 2013, 06:59 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

 

130418_film indonesia.jpgBISNIS.COM, JAKARTA--Masih membekas dalam benak Siti Hilaliah saat menonton film “Habibie & Ainun” beberapa waktu lalu di sebuah bioskop di Bandung. Matanya berkaca-kaca kala beberapa adegan Habibie yang menunjukan kecintaannya kepada Ainun.

Wanita berusia 23 tahun yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi itu mengaku sempat meneteskan air mata. Karakter kuat dan akting para pemain film membuatnya seolah melihat Habibie dari dekat.

“Kisah cintanya romantis, mengharu biru, penuh suka cita dan cerita perjuangan hidup mereka juga membangkitkan rasa nasionalisme,” ungkapnya kepada Bisnis belum lama ini.

Film “Habibie & Ainun” garapan sutradara Faozan Rizal merupakan salah satu film terlaris di tahun ini. Dalam 40 hari, film yang diperankan Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari itu mampu menyedot 4 juta penonton.

Hal tersebut membawa angin segar bahwa perfilman Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan kembali dari segi kualitas, kuantitas maupun produksi.

Ahman Sya, Direktur Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya (EKSB) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan tahun ini film Indonesia diharapkan mampu menembus 100 judul yang diproduksi para sineas Tanah Air.

“Kami mendorong kepada para sineas untuk lebih banyak berkarya lagi, dan bukan hanya kuantitas saja tapi kualitas filmnya juga harus mumpuni,” ungkapnya.

Tahun 2012, Kemenparekraf menargetkan produksi film lokal sebanyak 86 film sementara realisasinya di luar ekspektasi dengan jumlah 96 film, hal itu cukup mengejutkan ketika raihan produksi film lebih tinggi dari target.

 “Artinya kami optimistis target 100 film di tahun ini akan tercapai, hingga April saja sudah ada 30 judul film,” ungkapnya.

Jauh sebelumnya, dekade 1990-an (1990-2000), kondisi perfilman Indonesia mengalami keterpurukan. Data dari Katalog Film Indonesia dan Sinematek menyebutkan pada dekade tersebut jumlah produksi film nasional hanya berjumlah 229 film saja.

Hal tersebut terlihat timpang dengan perkembangan produksi film pada dekade 1941-1970 dengan jumlah produksi 619 film, dekade 1971-1980 sebanyak 680 film dan dekade 1971-1980 lebih membanggakan lagi dengan jumlah 752 film.

Ahman Sya mengakui jika kondisi perfilman saat ini cukup memiliki tantangan luar biasa dibandingkan dengan berpuluh-puluh tahun sebelumnya. “Untuk itu, kondisi seperti ini merupakan pekerjaan rumah bersama bagaimana membangkitkan kembali perfilman nasional.”

Ada beberapa pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengembalikan kejayaan film Indonesia seperti era 80-an. Selain memproduksi banyak film lokal, pemerintah juga diharapkan mampu memberikan suasana segar terkait dengan perbioskopan dalam negeri.

Betapa tidak, dari jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, hanya ada 700 bioskop yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Itu pun 10 dari 33 provinsi dan 450 dari 497 kota belum terjangkau bioskop.

Data tersebut berbanding terbalik dengan jumlah bioskop yang ada pada dekade 1970-an (1970-1979) yang mencapai 8.720 bioskop di Indonesia. Sementara jumlah bioskop pada dekade 1980-an (1980-1989) mencapai 16.739. "Untuk itu, kami selalu mendorong kepada pengusaha yang punya modal agar ikut berpartisipasi membuka bioskop yang representatif," tuturnya.

Dia mengakui beberapa kota dan kabupaten di Indonesia tidak memiliki wahana film, padahal lanjutnya, film merupakan sebagai wahana holistik untuk membangun karakter bangsa.

Pemerintah, lanjut Ahman, terus mengimbau agar para pengusaha bioskop bisa mengikuti jejak pemain besar Bioskop 21 dan Blitz Megaplex, terlebih hingga saat ini industri film hanya 'dikuasai' kedua pemain tersebut.

Ahman Sya mengungkapkan pihaknya terbuka bagi siapa saja yang ingin ‘bermain’ di industri bioskop selama proses persaingan usaha sesuai dengan koridor-koridor hukum yang berlaku.

“Sekarang eranya demokrasi, siapa saja boleh bersaing untuk bermain di industri film, apalagi dengan banyaknya bioskop bakal memberikan manfaat besar bagi masyarakat banyak,” ungkapnya.

Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti menargetkan tahun ini pihaknya akan menambah 100 mobil bioskop keliling (bioling) guna menyebarluaskan sekaligus mengenalkan film ke seluruh masyarakat Indonesia.

“Inginnya secara keseluruhan bioling terdapat 1000 unit, sementara baru sampai 50 unit saja,” ungkapnya.

Wiendu berharap dengan adanya bioling tersebut seluruh mayarakat di Indonesia bisa mengakses film tanpa harus pergi ke bioskop di kota-kota besar.

Marcella Zalianty, salah aktris dan sutradara film Indonesia menuturkan dirinya kerap mengedukasi masyarakat dengan film melalui nonton bareng film-film karya anak bangsa.

Dia berharap para sineas mengangkat film bertemakan lokalitas budaya lokal setiap daerah. “film ini kan merupakan sebuah instrumen budaya yang diharapkan didukung oleh pemerintah. Selain itu film juga merupakan diplomasi negara,” katanya kepada Bisnis di Bandung belum
lama ini.

Dengan adanya bioling yang merambah ke penjuru daerah, masyarakat akan terpengaruh dan lebih mengenal bagaimana perfilman Tanah Air hasil karya anak bangsa. (Miftahul Khoer)

Source : Miftahul Khoer

Editor : Martin Sihombing

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.