
BISNIS.COM, JAKARTA-Rambut yang telah memutih serta kulit keriput menunjukkan dia tidak muda lagi. Wanita itu bernama Eli, akrabnya disebut Emak Eli. Di sebuah warung yang terbilang sangat sederhana, hanya dibuat dari tiang bambu serta atap terpal, Emak Eli menjual aneka minuman dan makanan.
Wanita yang masih terlihat bugar ini mangkal di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Sekitaran kawasan tersebut berdiri berbagai gedung penting, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Keuangan di Jl. Lapangan Banteng Timur serta Kementerian Agama di Jl. Lapangan Banteng Barat.
"Sekarang sih agak sepi karena hari libur, biasanya orang-orang Kementerian nongkrong di sini kalau jam istirahat kerja," katanya di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (16/3/2013).
Para pegawai Kementerian kerapkali duduk di bangku kayu maupun bangku plastik yang disediakan Emak. Sekedar minum kopi dan merokok. Atau “ngadem”, menikmati sepoi angin di taman tengah kota itu.
"Kalau merokok di kantor kan belum tentu boleh," tambahnya.
Dengan bangganya dia mengungkapkan pendapat, dirinya adalah pedagang kaki lima yang tak pernah diusir petugas Satpol PP. Tempatnya berjualan memang tidak mengganggu ketertiban karena bukan di trotoar jalanan, bahkan Emak senang bisa menghadirkan “tempat nongkrong” di taman itu.
Emak Eli telah melewati kerasnya berjuang hidup di metropolitan. Puluhan tahun lalu, Emak kabur dari kampungnya di Subang. Ulahnya itu membuatnya harus berkutat dengan pahitnya kehidupan ibu kota. Sebelum menjadi pedagang kaki lima (PKL), Eli muda pernah menjadi pesuruh, dirinya kerapkali diperlakukan kasar.
“Berkali-kali Emak juga pernah nikah, tapi ga punya anak,” katanya yang berusia 80-an. Namun saat ini Emak Eli punya anak angkat, yang diasuhnya sejak kecil karena orangtua anak tersebut entah di mana. Ternyata, Emak juga berhasil menyekolahkan sang anak perempuan angkatnya hingga lulus SMA.
Sosok Emak juga cukup disegani di kalangan PKL, Emak sering membantu para PKL yang terlibat masalah. Bahkan Emak punya trik khusus menghadapi para pemuda yang dipandang orang lain sebagai preman.
“Mereka itu bisa ngamuk karena lapar, kalau Emak suka ngasih saja makanan ke mereka. Toh kalau mereka punya duit nanti juga pasti dibayar,” kata Emak tulus.
Di balik rimbun pepohonan Taman Lapangan Banteng, Emak Eli selalu setia menanti pembeli. Baginya, hidup di Jakarta harus berjuang. Seperti dirinya, meski “hanya” pedagang kaki lima, dia merasa tak mengganggu orang lain atau lingkungannya, justru menjadi tempat bernaung di tengah panasnya Jakarta, di tengah kepenatan pikiran orang-orang yang menghuni kota ini. Bahkan, selevel pegawai Kementerian, tak sungkan menyambangi warungnya, di sela tugas memikirkan kepentingan negara.
“Emak juga senang, Jokowi pernah nengok ke sini,” ungkapnya.
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.