Baru Agustus lalu didapuk menjadi Direktur Utama PT Jamsostek (Persero), Elvyn G. Masassya dihadapkan pada tugas besar yaitu menakhodai perusahaan jaminan sosial milik negara ini dalam gerak transformasinya menjadi badan penyelenggara jaminan sosial ketenagakerjaan. Bisnis mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan eksekutif yang hobi bermusik ini pekan lalu di kantornya. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana perjalanan karier Anda selama ini?
Secara personal saya mengawali karier profesional sebagai banker di BNI tahun 90-an, komisaris Bank Bali pada 2001, direksi Bank Permata pada 2002-2007. Kemudian saya kembali ke BNI sebagai corsec 6 bulan, lalu ditugaskan sebagai Direktur Tuban Petrochemical pada 2008. Pada akhir Desember 2008 menjadi Direktur Investasi Jamsostek. Kemudian per Agustus 2012 saya ditugaskan sebagai CEO.
Selama menjadi seorang pekerja profesional, pasang surut seperti apa yang pernah Anda alami dalam masa kepemimpinan Anda?
Hampir semua perusahaan di mana saya ditugaskan sebagai senior manager pada dasarnya butuh penanganan khusus. Misalnya saya ditugaskan sebagai komisaris di Bank Bali setelah bank tersebut terkena kasus. Termasuk saat ini, saya ditugaskan menjadi CEO Jamsostek adalah saat Jamsostek harus bertransformasi menjadi BPJS. Situasi ini sangat butuh leadership dan strategi konsep yang bagus.
Sektor mana yang paling menantang di antara semua lini bisnis yang pernah Anda pimpin?
Ketika jadi CEO tantangannya berbeda, kalau dulu banyak berkutat soal strategic technical sekarang lebih pada memberi visi direction yang sesuai.
Selama ini keputusan sulit apakah yang pernah dihadapi perusahaan dan bagaimana Anda memecahkannya?
Jelas ada keputusan yang amat sulit. Keputusan tersulit ya saat kita menghadapi keputusan simalakama. Apa pun keputusan yang diambil semua kurang enak. Tetapi sebagai pemimpin harus tetap ambil keputusan. Ambil keputusan yang paling minimal risikonya.
Keputusan apa yang paling monumental yang pernah Anda ambil?
Saya merasakan mengambil keputusan yang implikasinya besar saat menjadi Direktur Investasi Jamsostek. Ketika masuk Jamsostek, situasi investasi kurang menggembirakan. Potensi investasi di saham dalam keadaan potential lost Rp3,7 triliun. Saya kemudian ambil keputusan yang cukup signifikan. Ketika harga turun saya minta divisi terkait untuk membeli secara besar-besaran.
Apa yang membuat Anda berani mengambil keputusan tersebut?
Saat itu memang ada dua konsekuensi kalau pembelian salah harga akan jatuh lagi ke bawah dan lost makin besar. Tapi kalau timing-nya pas maka akan cepat recovery. Potential lost Rp3,7 triliun menjadi potential gain Rp3,6 triliun. Seorang pemimpin harus menjadi risk taker tapi tetap terukur. Jadi keputusan diambil harus dengan pertimbangan yang matang. Seorang pemimpin juga tidak bisa mendiamkan keadaan tanpa mengambil keputusan.
Bisa digambarkan rencana 1 hingga 2 tahun ke depan untuk PT Jamsostek ?
Ketika saya ditugaskan di sini yang saya amati pertama adalah masalah legal karena secara hukum akan ada perubahan dari PT persero menjadi badan hukum publik. Ini tercantum di UU No.24 Tahun 2011. Ketika jadi badan hukum publik konsekuensinya berbeda dengan persero. Jadi new vision statement-nya menjadi BPJS berkelas dunia, yang terpercaya, serta bersahabat unggul dalam operasional dan pelayanan.
Kenapa tiga aspek ini yang diangkat dalam new vision Jamsostek?
Pertama, BPJS berkelas dunia karena di Indonesia tidak ada competitor social security dengan segmen pekerja swasta nonpegawai negeri dan TNI. Oleh karena itu benchmark-nya adalah social security di negara lain. Kedua, aspek trustworthy. Social security itu mengelola dana secara amanah, dana ini bisa dikelola kalau ada kepercayaan sehingga pengelolaannya harus bisa dipercaya. Kemudian bersahabat sebuah lembaga yang mengelola dana publik harus dekat dengan publik dapat diakses secara transparan.
Ada visi Jamsostek yang menyatakan unggul dalam operasional, maksudnya bagaimana?
Operasional di sini tujuannya menjadikan seluruh pekerja menjadi anggota Jamsostek. Pelayanan cepat kemudian akurasi pembayaran klaim, dan yang ketiga akses mudah. Di bidang pelayanan high speed dengan klaim one day service. Proses bisnis berorientasi dengan customer centric dan customer oriented. Nantinya segala hal mulai dari registrasi, pembayaran, dan klaim akan bisa dilakukan secara online. Caranya dengan kerja sama dengan bank.
Bagaimana cara menuju destinasi tersebut?
Jadi per 1 Januari 2014 Jamsostek harus sudah menjadi badan hukum publik. Kalau ditarik hanya ada waktu 15 bulan. Dalam kurun waktu pendek saya membagi direction menjadi tiga state. September-Desember 2012 adalah fase rekonsolidasi. Kemudian 2013 feed in infrastructure. Kemudian fase ketiga memberikan sustainability services.
Kemudian kiat Anda memperbaiki kinerja investasi di PT Jamsostek?
Di sini perbaikan sistem dilakukan. Sistem investasi bank kita scoring dari score kita tentukan berapa limit penempatan di tiap bank. Jadi tidak ada negosiasi semua by sistem dan relatif lebih terkelola. Kedua, hubungan dengan sekuritas. Kita skor mereka dan dari scoring muncul limit transaksi masing-masing sekuritas. Saya menerapkan strategic asset allocation. Sehingga kami bisa menaikkan aset dari Rp60 miliar menjadi Rp120 miliar dalam waktu 4 tahun.
Bagaimana memotivasi karyawan untuk bersama-sama menuju tujuan perusahaan?
Saya melakukan pembinaan untuk memotivasi karyawan. Pemimpin itu memberikan inspirasi. Saya juga melakukan adjustment kepada sistem. Jadi pembicaraan bukan hanya teknis pekerjaan tapi falsafah hidup.
Apa falsafah hidup Anda dalam bekerja?
Sebagai profesional mazhabnya 5K. Kalau bekerja, apa pun profesi kita bekerja harus dengan kesungguhan jangan setengah-setengah. Saya tekankan kalau bisa kasih 10 kenapa kasih 5. Kedua, bekerja dengan kejujuran. Ketiga, bekerja dengan kehati-hatian. Keempat, bekerja dengan kegembiraan datang ke kantor mesti happy karena 70% hidup kita ada di office. Kelima, bekerja dengan keikhlasan ada. Hidup ini adalah ikhtiar. Kalau kamu ingin mendapat sinar matahari maka jangan pernah berdiri di satu tempat tapi ikuti perjalanan matahari tersebut.
Siapakah tokoh idola Anda?
Orang yang saya respect adalah almarhum ayah saya yang mendidik dengan cara yang cukup keras. Itu saya sadari menjadi bagian membentuk disiplin dan tanggung jawab.
Kedua, ibu saya menginspirasi makna kasih sayang bagaimana memberi rasa care, empati, dan peduli. Kalau tokoh lain misalnya Mahatma Gandhi yang ikut serta merasakan penderitaan orang banyak. Saya kagum juga pada Soekarno sebagai pemimpin sekaligus inisiator.
Saya juga kagum pada Nabi Muhammad. Bagaimana nabi berjuang meraih kebenaran dan never give up, Dari mereka ada values yang saya terapkan, jangan putus asa dan lakukan suatu hal untuk sampai di tujuan.
Apakah Anda akan menyiapkan kader CEO sebagai pengganti Anda nanti?
Pimpinan yang berhasil adalah yang bisa melahirkan pimpinan yang baru. Untuk menciptakannya maka saya menciptakan aspek kompetitif. Setiap orang diberi kesempatan menambah kemampuan.
Bagaimana membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan?
Senin hingga Jumat saya bekerja, Sabtu me time atau bertemu dengan teman-teman. Minggu hari untuk keluarga. Semua bisa dilakukan asal memiliki management waktu yang tepat.
Apa hobi Anda?
Saya senang musik. Saya senang sepak bola. Sepak bola yang saya sukai dari negara Spanyol. Sepak bola Spanyol mengajarkan prestasi tidak harus dilahirkan negara besar.
Kemudian sepak bola itu mengajarkan teamwork. Kalau 11 orang terlalu pintar maka akan terjadi selfish ego. Maka dibutuhkan team work. Organisasi itu juga adalah teamwork yaitu bagaimana menggerakkan suatu organisasi. Sementara musik saya paling suka jazz.
Kenapa memilih jazz? Apalagi Anda pernah mengeluarkan album dengan tema jazz?
Menurut saya aliran musik jazz paling demokratis. Setiap pemain dalam musik jazz diberi kesempatan untuk menunjukkan keahliannya. Musik itu juga bagian dari poin happiness yang saya ceritakan harus dimiliki orang ketika bekerja. (redaksi@bisnis.co.id)
Source : Intan Pratiwi & Anugerah Perkasa
Editor : Sitta Husein
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.