BULAN ini, Eropa, Amerika Serikat dan Jepang kembali menggemparkan perekonomian global dengan diumumkannya kebijakan pembelian surat utang (quantitative easing/QE) secara besar-besaran oleh bank sentral masing-masing negara.
Pada 6 September 2012, Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan rencana pembelian surat utang negara (SUN) anggota zona euro yang mendapatkan bantuan dana Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM).
Seminggu kemudian, 12 September, Mahkamah Konstitusi (MK) Jerman merestui rencana pemberian dana ESM untuk menggantikan peran dana Fasilitas Stabilitas Finansial Eropa (EFSF) yang selama ini dipakai untuk menalangi (bailout) negara zona euro yang terlilit utang.
Dua hari berikutnya, 14 September, the Federal Reserve (the Fed) AS akhirnya menggulirkan kembali stimulus dalam rangka meningkatkan upaya pemulihan perekonomian terbesar di dunia itu dan menurunkan angka pengangguran.
Kemudian, pada 19 September Bank Jepang (BoJ) di luar dugaan meningkatkan dana program pembelian asetnya sebesar 10 triliun yen atau US$126 miliar untuk menghadapi ancaman terjungkalnya perekonomian terbesar ketiga di dunia itu ke jurang resesi.
Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Ichsan Fauzi memperingatkan bahwa gelombang besar likuiditas ke pasar finansial secara mendadak dapat berbahaya jika sektor riil tidak mampu menyerapnya.
Kebijakan QE secara agresif oleh ketiga bank sentral ini akan memompa likuiditas yang tiba-tiba. “Hal ini berpotensi memunculkan kembali liquidity trap,” ujarnya kepada Bisnis.
Menurut para penganut mazhab ekonomi Keynes, liquidity trap adalah gagalnya suntikan dana dari bank sentral ke sistem keuangan untuk menurunkan beban utang dan menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Baik ECB, the Fed maupun BoJ akan meningkatkan jumlah uang yang dicetaknya untuk membeli surat utang baik SUN, obligasi korporasi, maupun sekuritisasi beragun hipotek di pasar finansial, sehingga likuiditas didalamnya meningkat.
Namun, perekonomian Eropa tinggal selangkah lagi menuju jurang resesi, sedangkan pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang babak belur oleh krisis 2008 belum kunjung berhasil dan merata, dan pertumbuhan ekonomi Jepang terancam resesi setelah melambat akibat dilanda gempa dan tsunami pada tahun lalu.
Pertumbuhan ekonomi China, selaku pemilik terbesar Treasuries (SUN AS), juga terus melambat. Menurut Fauzi, kondisi sektor riil keempat perekonomian terbesar di dunia ini masih terlalu lemah untuk menyerap lonjakan likuiditas itu.
QE jadi sentimen positif
Meskipun demikian, Fauzi melihat adanya kemungkinan upaya tersebut dapat efektif. Dengan ditunjukkan dan dilaksanakannya komitmen ‘melakukan apapun yang diperlukan’ oleh ECB dan the Fed, keyakinan ekonomi berpotensi pulih kembali.
Bukti awal untuk menunjukkan pulihnya keyakinan para pelaku ekonomi terlihat dari bergairahnya bursa saham, obligasi, dan komoditas berjangka di seluruh dunia, terutama setelah pengumuman the Fed.
Kedua kebijakan ini telah menjadi sentimen positif bagi investor di pasar finansial. Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang memprediksi kinerja bursa global akan terus begairah paling tidak dalam beberapa pekan mendatang.
“Ada ekspektasi perubahan total kondisi ekonomi dunia sebagai dahsyatnya dampak yang akan dihasilkan program-program stimulus besar,” katanya.
Dengan keyakinan ekonomi yang membaik, para konsumen akan rela belanja lebih banyak, para pelaku bisnis tidak akan segan meningkatkan investasi untuk ekspansi, dan perusahaan-perusahaan siap merekrut lebih banyak karyawan.
Dengan begitu kegiatan ekonomi dapat kembali bergerak kuat. Apalagi, the Fed dan ECB menerapkan belanja obligasi tanpa batasan waktu dan jumlah. Kebijakan ini baru dihentikan setelah mereka menyaksikan perekonomian membaik.
The Fed bahkan menjadikan angka pengangguran sebagai salah satu indikator membaiknya perekonomian. Berkurangnya angka pengangguran berarti lebih banyak orang bekerja, sehingga daya beli meningkat dan konsumsi domestik dapat kembali memainkan perannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi utama.
“Ini keputusan yang revolusioner karena dikaitkan dengan pengangguran. Selama pengangguran masih tinggi, tidak hanya suku bunga acuan the Fed yang akan tetap rendah, tapi QE [quantitative easing] akan terus berlangsung,” ujar Fauzi.
Adapun dampak kebijakan bank-bank sentral itu ke Indonesia, menurut Fauzi, adalah penguatan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia diperkirakan tidak akan menerapkan kebijakan yang ekstrim terhadap suku bunga acuannya dalam waktu dekat. (03/yus) (redaksi@bisnis.co.id)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.