RSS FEEDLOGIN

EKONOMI CHINA: Investasi Asing di Bawah Perkiraan

John Andhi Oktaveri   -   Kamis, 16 Mei 2013, 11:48 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130512_china ekonomi.jpgBISNIS.COM, JAKARTA—Investasi asing langsung di China lebih rendah dari perkiraan analis sehingga memicu kekhawatiran atas prospek pertumbuhan, setelah triwulan terakhir terjadi penurunan laju ekonomi.

Investasi di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu  naik hanya 0,4% dari periode tahun sebelumnya menjadi $8,4 miliar, menurut Kementerian Perdagangan hari ini, Kamis (16/5/2013)  di Beijing.

Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan 5,7% yang dicapai pada Maret dan rata-rata 6,2% sebagaimana diperkirakan 8 analis berdasarkan hasil survei Bloomberg News.

Bank of America Corp. dan JPMorgan Chase & Co. memangkas perkiraan pertumbuhan China pada 2013 menjadi  7,6% setelah melihat kinerja produksi sektor industri selama April.

Selain adanya  kekhawatiran atas prospek ekonomi jangka pendek, peningkatan biaya tenaga kerja akan membuat negara tersebut kurang menarik sebagai basis industri.

“Model lama tidak bisa lagi berjalan dengan baik,” ujar Jianguang, ekonom Asia terkemuka yang bekerja di Mizuho

Securities Asia Ltd. sebelum data tersebut dikeluarkan. China tidak kompetitif lagi untuk tenaga kerja padat karya di tengah meningkatnya biaya buruh, kekhawatiran atas lingkungan serta aturan tenaga kerja yang lebih ketat, ujar Shen.

Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan pemerintah akan menyederhanakan birokrasi untuk mendorong investasi swasta dan mengurangi peran pemerintah di bidang perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 7,7% selama triwulan pertama membuat para analis memperkirakan akan terjadi pertumbuhan 8% sebagaimana disurvei oleh Bloomberg News dan naik 7,9% pada triwulan keempat. Pemerintah pada Maret mematok target pertumbuhan 2013 sebesar 7,5% atau sama dengan target 2012.

Sebuah survei yang mengumpulkan pendapat 325 anggota Kamar Dagang Amerika Serikat di China pada November dan Desember menemukan bahwa peningkatan biaya buruh merupakan risiko bisnis terbesar di negara tersebut. (bas)

 

Source : Bloomberg

Editor : Bambang Supriyanto

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.