RSS FEEDLOGIN

EKONOMI CHINA Diproyeksi Tumbuh 8,5%

Reporter   -   Jumat, 22 Maret 2013, 16:35 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130313_peti kemas ekspor.jpgBISNIS.COM, BEIJING-- Perekonomian China diperkirakan tumbuh 8,5% pada tahun ini dan akan lebih meningkat pada 2014 seiring investasi swasta dalam negeri serta reformasi di negara tirai bambu tersebut. Bahkan, China diproyeksi bakal menjadi ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2016, disesuaikan dengan perbedaan harga.

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) melansir prospek pertumbuhan ekonomi China tersebut dalam satu hasil laporan resmi survei terbaru ekonomi China yang dirilis di Beijing.

Adapun dalam laporan OECD setebal 161 halaman itu, salah satu poin utama yang diproyeksi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pengeluaran investasi dari negara berperingkat ekonomi kedua terbesar di dunia.

Meski laju inflasi dan pelemahan permintaan ekspor mesti tetap diwaspadai pemerintah China sebagai resiko jangka panjang untuk pertumbuhan ekonominya.

Menurut lembaga yang berbasis di Prancis tersebut, investasi swasta di dalam negeri terkhusus dalam sektor kereta api, peningkatan kapasitas jalan, serta penyediaan perumahan bagi warga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi China.

"Tingkat investasi swasta memberikan dampak yang cukup besar, dan kami perkirakan masih banyak lagi investasi infrastruktur yang dibutuhkan kedepannya," kata Richard Herd, Kepala OECD Cina, seperti yang dikutip Reuters, Jum'at (22/3/2013).

Adapun pada tahun ini, Pemerintah China memangkas pertumbuhan ekonominya menjadi 7,5% dan mematok proyeksi pertumbuhan 7% sampai 2015.

Pemangkasan tersebut menyusul pertumbuhan ekonomi China yang sempat turun di level terndah sebesar 7,8% pada 2012 akibat melemahnya permintaan ekspor dari Uni Eropa dan Amerika, pelanggan ekspor terbesar China.

"Dari survei terbaru OECD menunjukkan bahwa China bisa kembali mencapai pertumbuhan ekonomi pada level tertinggi meskipun secara bertahap, dengan rerarta 8% per kapita selama satu dekade," kata Herd.

Pelemahan permintaan ekspor tetap menjadi risiko eksternal potensial terbesar pada 2013, kendati inflasi adalah faktor risiko terbesar dalam negeri untuk menjaga stimulus kebijakan yang telah mendukung pemulihan ekonomi di China yang memegang pada kuartal keempat 2012.

Herd mengatakan data ekonomi resmi sejauh ini di kuartal pertama tahun 2013 didukung di atas konsensus OECD, dengan konsumsi dalam negeri - kunci strategi ekonomi Beijing untuk menyapih ekonomi dari ekspor dan investasi, baik dengan upah yang lebih tinggi berdetak dan inflasi terkendali.

"Untuk mempertahankan pertumbuhan yang kuat dan inklusif secara sosial atas momentum, reformasi jangka panjang juga dibutuhkan," kata Herd.

Source : Reuters, Amri Nur Rahmat

Editor : Sutarno

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.