RSS FEEDLOGIN

EDITORIAL BISNIS: Tenang, Ekonomi Masih Tumbuh Kok

Didit A. Susanto   -   Rabu, 06 Februari 2013, 05:57 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Ketahuan sudah pertumbuhan ekonomi nasional 2012 tidak secantik yang dibayangkan sebelumnya. Ibarat apel yang disatroni ulat, buah itu tentu tidak dapat disebut utuh lagi, kurang menggairahkan. Begitulah yang terjadi pada angka pertumbuhan produk domestik bruto kita tersebut, yang sedikit terganggu oleh kinerja sektor ekspor.

Berdasarkan pengumuman Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu ternyata ‘hanya’ 6,23%, meleset dari proyeksi sebelumnya yang dipatok 6,5%—dan sempat dikoreksi menjadi sekitar 6,3%-6,5%. Selain melorotnya kinerja ekspor yang pada 2012 hanya tumbuh 2,01% tapi impor tumbuh 6,65%, kambing hitam yang mejadi penyebab kemelesetan pertumbuhan itu adalah belanja pemerintah yang tidak optimal, yakni kurang dari 90%.

Untungnya, konsumsi domestik yang meningkat sekitar 5,28% masih tetap dapat diandalkan dan melanjutkan perannya sebagai juru selamat pertumbuhan PDB 2012 tersebut, namun kontribusi terbesar berasal dari pembentukan modal tetap brutp (PMTB) yang mencapai 9,81%.

Melihat besaran angka pertumbuhan di atas 6% tersebut, pemerintah barangkali akan tetap bersikap optimistis seperti yang terjadi selama ini dan selalu mendengungkan bahwa prestasi tersebut menunjukkan bahwa  birokrasi telah bekerja keras, sehingga Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia dengan pertumbuhan seignifikan itu.

Beberapa pernyataan pejabat tinggi pemerintah sering teruar bahwa tidak mudah bagi suatu negara untuk dapat tumbuh setinggi Indonesia, yang diklaim hanya kalah dari China, selama beberapa tahun terakhir, mengingat krisis masih mendera sejumlah perekonomian di berbagai belahan dunia, terutama Eropa.

Kinerja investasi juga diklaim sebagai amazing dengan total nilai Rp313,2 triliun, karena realisasi investasi asing pada 2012 mencapai Rp221 triliun, yang konon merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Koran ini memandang bahwa prestasi pertumbuhan ekonomi itu memang layak disyukuri, tapi jangan lupa bahwa itu sekadar angka. Hal yang lebih mendasar adalah apakah mampukah pemerintah yang sekarang berkuasa mewariskan pertumbuhan yang berkelanjutan. Belum terlihat kerja keras yang dapat menjadikan perekonomian nasional tidak rawan krisis.

Tidak sedikit suara-suara di luaran yang mengatakan pertumbuhan ekonomi 6% bagi negara seperti Indonesia tergolong mediocre atau—menurut bahasa anak gaul—biasa banget. Bahkan, beberapa analis profan sempat mencibir bahwa kalau ekonomi nasional hanya tumbuh di kisaran 6% itu berarti pemerintah nyaris tidak ngapa-ngapain. “Pemerintah tidur saja juga ekonomi bisa tumbuh segitu.”

Karenanya, dalam beberapa tahun terakhir di kalangan masyarakat beredar jargon bahwa perekonomian Indonesia menggunakan sistem kendali autopilot. Ini merupakan sindiran halus—tapi tajam—bahwa seharusnya jika dikelola lebih intens dan firm, nisacaya angka pertumbuhan 7% dapat dicapai dengan mudah.

Berbagai cibiran maupun jargon itu ramai bermunculan, misalnya, ketika menyaksikan elit pemimpin negara ini terlalu sibuk mengurus kepentingan partai, dan cenderung tidak hadir pada berbagai persoalan kritis yang seharusnya menjadi prioritas mereka. Krisis yang melanda Partai Demokrat setahun terakhir, misalnya, mau tidak mau menyita perhatian Presiden Yudhoyono yang merupakan Ketua Dewan Penasihat sekaligus salah satu founding fathers organisasi politik tersebut.

Tapi jangan khawatir, rakyat Indonesia masih memiliki persediaan maaf yang cukup untuk dapat memaafkan kinerja pemerintah yang kurang optimal tersebut. Juga untuk tahun ini, yang kinerja pemerintah dikhawatirkan akan lebih turun, karena konsentrasi mereka bukan lagi pada bagaimana menjaga perekonomian nasional, tapi bagaiman menghadapi tahun politik 2014. Rakyat selalu memaklumi kok.

Editor : Martin Sihombing

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.