RSS FEEDLOGIN

EDITORIAL BISNIS: Memperkuat Infrastruktur Transportasi

Editor   -   Kamis, 21 Maret 2013, 09:19 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130213_monorel jkt.jpegKita senang membaca berita bahwa penjualan mobil di Indonesia pada tahun lalu berhasil melampaui 1,1 juta unit.

Hal itu menandakan makin banyak orang yang punya kesempatan memiliki kendaraan pribadi, mobilitas masyarakat bisa meningkat, dan makin banyak industri ikutan di sektor otomotif akan turut berkembang.

Akan tetapi, kita kecewa bahwa penjualan kendaraan itu otomatis diiringi oleh meningkatnya kemacetan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas yang sudah parah di kota besar seperti Jakarta akan semakin menggila karena penambahan kendaraan tidak diiringi dengan peningkatan infrastruktur jalan yang memadai.

Kita juga senang mendengar kabar bahwa PT Kereta Api Indonesia berencana menambah jumlah gerbong kereta secara signifikan, kendati dengan gerbong bekas dari luar negeri.

Namun, kita kecewa bahwa upaya penambahan frekuensi perjalanan kereta, contohnya kereta Commuter Line Jabotabek, terhambat oleh banyaknya perlintasan sebidang.

Perlintasan sebidang antara rel kereta dan jalan raya membuat kereta harus ’berebut jalan’ dengan mobil dan kendaraan lain. Jika perlintasan semacam itu ditutup setiap 5 menit karena ada kereta Commuter Line yang lewat maka dampak kemacetannya tentu signifikan. Kita memerlukan banyak jalan layang untuk mengatasi hal tersebut.

Awal pekan ini, kita juga mendengar kabar menggembirakan bahwa maskapai penerbangan domestik mampu memborong ratus­an pesawat Airbus setelah sebelumnya memborong ratusan pesawat dari Boeing. Sebuah prestasi langka bahkan bagi maskapai besar berskala internasional.

karena penambahan kendaraan tidak diiringi dengan peningkatan infrastruktur jalan yang memadai.

Namun, kita juga khawatir bila kedatangan pesawat-pesawat baru itu tidak disertai dengan pengembangan infrastruktur pendukung yang mencukupi.

Kita membaca ada kekhawatiran mengenai kesiapan tempat parkir, ada kecemasan tentang pengaturaan lalu lintas udara yang kian sibuk dan melebihi kapasitas, serta ada tanda tanya mengenai pe­ngembangan bandar udara di daerah.

Bahkan sempat muncul rumor bahwa negara tetangga menawarkan fasilitas parkir dan hub yang dapat digunakan oleh maskapai dari Indonesia yang terkendala oleh keterbatasan infrastruktur pendukungnya di dalam negeri.

Kita tentu berharap bahwa perkembangan penjualan mobil, penambahan pesawat yang beroperasi di Indonesia, serta penam­bahan unit transportasi massal seperti kereta api, membawa dampak yang bermakna bagi perekonomian.

Namun, semua itu memerlukan dukungan infrastruktur yang cukup. Tanpa itu, multiplier effect yang tercipta menjadi tidak maksimal.

Penjualan mobil, penambahan kereta, serta penambahan pesawat yang dampaknya kurang maksimal bagi mobilitas penduduk dan kegiatan ekonomi hanyalah sedikit contoh.

Namun, semua itu memerlukan dukungan infrastruktur yang cukup. Tanpa itu, multiplier effect yang tercipta menjadi tidak maksimal.

Hal serupa dapat terjadi dalam moda transportasi lain dan skala yang berbeda seperti keterbatasan akses ke pelabuhan yang menyebabkan kemacetan dan kongesti, keterbatasan jalur khusus bus (busway), dan sebagainya.

Oleh karena itu, wajar bila kita tentu berharap pemerintah harus sigap dalam mengembangkan infrastruktur yang terkait dengan trans­­­­portasi. Kita menyadari bah­­­­wa pembangunan infrastruktur me­­­merlukan biaya amat besar.

Kesigapan pembangunan infrastruktur hanya bisa terjadi bila ada perencanaan yang bersifat menyeluruh dan jangka panjang.

Perencanaan dan pembangunan infrastruktur hendaknya ti­­­dak hanya melibatkan pemerintah pusat, melainkan juga pe­­­merintah daerah, badan usaha milik negara, serta badan usaha milik daerah, serta sektor swasta terkait.

Apabila infrastruktur pendukungnya memadai maka kita bisa berharap banyak bahwa penambahan alat transportasi bisa membawa dampak signifikan bagi kegiatan ekonomi.

Source : Bisnis Indonesia

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.