Jepang, negeri yang pernah terpuruk saat kalah pada Perang Dunia II, dengan cepat bangkit kembali menjadi bangsa besar. Kuncinya hanya satu: semangat pantang menyerah dan inovasi.Keunggulan inovasi juga telah membuat banyak negara maju tetap dan semakin survive. Amerika Serikat, misalnya. Meskipun negeri itu sejak beberapa tahun terakhir terus-menerus mengalami tekanan karena krisis ekonomi dunia, Amerika Serikat tetap akan survive. Ini karena kekayaan inovasi AmerikaSerikat belum ada tandingannya hingga saat ini.Ekonomi berbasis inovasi tidak saja membuat perekonomiannya unggul, tetapi juga berdaya saing. Indonesia pun dituntut untuk menggeser orientasi, dengan terus mengembangkan ekonomi berbasis inovasi ini, ketimbang sekadar mengandalkan ke unggulan sumber daya alam. Apalagi jika hanya mengandalkan ’daya saing’ sumber daya manusia, yakni sekadar upah buruh murah. Pasti akan kian tertinggal dari negara lain yang memiliki kemampuan membangun inovasi yang unggul.Dalam konteks itulah, membangun ekonomi berbasis inovasi menjadi begitu penting dan strategis. Semangat inilah yang juga ditekankan oleh Wakil Pre siden Boediono, saat menutup Indonesia-Japan Innovation Convention 2012 di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Minggu (2/12).Wapres bahkan mengaitkan inovasi dengan pengembangan kewirausahaan. Saat ini populasi entrepreneur di Indonesia relatif kecil. Merujuk Data Bank Dunia, jumlah wirausahawan di Indonesia pada 2008 hanya 1,56% dari populasi.Angka ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 4%, Thailand 4,1% dan Singapura 7,2%, mengutip Boediono. Gambaran tersebut memperlihatkan Indonesia butuh lebih banyak entrepreneur yang inovatif.Maka, sejalan dengan hubungan Indonesia dan Jepang, yang tahun depan genap memasuki tahun ke-55, masyarakat kedua negara dapat memperoleh manfaat dari pengembangan kerja sama dalam menciptakan produk, proses produksi dan bisnis, serta pemasaran yang inovatif.Sejalan dengan itu, tantangan kita adalah menciptakan sinergi dalam menggali peluang penelitian dan pengembangan, yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan dunia usaha dan kehidupan masyarakat.Langkah demikian akan memberikan lebih banyak keuntungan tidak saja bagi Jepang, tetapi juga Indonesia. Tujuan itulah yang, menurut hemat harian ini, menjadi pesan pokok dari Indonesia-Japan Innovation Convention 2012 di Bandung sejak Jumat yang berakhir Minggu (2/12).Pesan tersebut bahkan terangkum dalam Deklarasi Inovasi Bandung, yang terdiri dari tujuh butir dengan cakupan luas, dari kerja sama strategis hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Semuanya mengarah kepada peta jalan pengembangan ekonomi berbasis inovasi. Pemangku kepentingan yang tersentuh tidak hanya pelaku bisnis, tetapi juga lingkungan akademis, masyarakat dan pemerintah. Begitu pun sektor yang menjadi fokus cukup luas, antara lain energi, bioteknologi, transportasi, material, industri kreatif, kewirausahaan dan kebijakan.Namun, harian ini melihat lahirnya deklarasi itu saja tidak cukup. Perlu langkah lanjutan yang lebih serius agar peta jalan itu menjadi kenyataan. Semua pemangku kepentingan dituntut tidak sekadar memahami peta jalan, tetapi juga menjalankannya.Karena itulah, lahirnya peta jalan pengembangan ekonomi berbasis inovasi dari Bandung semestinya ditindaklanjuti dengan rangkaian kebijakan yang mendukung. Jika tidak, ia hanya akan terhenti pada seonggok kertas kerja, yang tidak akan banyak memberi makna.
Source : Bisnis Indonesia
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.