Dalam sepekan terakhir ini Amerika Selatan menjadi pusat perhatian dunia. Yang pertama, Presiden Venezuela Hugo Chavez meninggal dunia pada Selasa, 5 Maret, karena sakit kanker.
Kedua, terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik bergelar Paus Fransiskus, yang berasal dari Argentina, pada Rabu, 13 Maret.
Berpulangnya Hugo Chavez, 58, menimbulkan luka mendalam bagi rakyatnya—sekitar 9 juta orang turun ke jalan mengantarkan kepergian selamanya sang pemimpin karismatik itu—dan membuat karya-karyanya bagi rakyat jelata mencuat ke permukaan.
Selama masa kepemimpinannya jumlah warga miskin turun lebih dari 50%. Hidup mereka dibuat lebih mudah. Contohnya, dia membangun transportasi publik untuk penduduk yang terasing di pegunungan-pegunungan agar dengan mudah mereka bisa mencapai kota terdekat guna membeli kebutuhan sehari-hari.
Caranya sederhana saja: Menggunakan kereta gantung, seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah atau di tempat-tempat liburan lainnya di negeri kita.
Ah, jadi teringat anak-anak sekolah dasar di Provinsi Banten yang mempertaruhkan nyawa setiap hari, melewati aliran deras sungai—yang kadang tingginya sampai di dada mereka—hanya untuk sampai ke sekolah. Adakah para pemimpin setempat memikirkan nasib anak-anak tersebut?
Pemerintah Chavez juga mendirikan supermarket khusus untuk warga miskin dengan harga super miring, tapi tak kalah besar dan lengkap barangnya dengan tempat belanja kaum berharta.
Masih banyak lagi proyek-proyek Chavez untuk menolong rakyat jelata. Ini belum bicara programnya membantu negara-negara tetangga yang kurang beruntung. Sebagai catatan, Venezuela adalah negeri kaya minyak.
Sentuhan nyata pada kehidupan rakyat itulah yang membuat Chavez meninggalkan dunia ini sebagai orang terhormat tak hanya di mata rakyatnya, tapi juga bangsa-bangsa di Amerika Selatan, dan dunia.
Ulasan tentang kehidupan Jorge Mario Bergoglio—nama asli Paus Fransiskus— sebagai pastor dan uskup di Argentina banyak menyoroti kesederhanaan dan sentuhannya dengan masalah sehari-hari umat, yang mencerminkan komitmen dan keberpihakannya kepada kaum terpinggirkan.
Sebagai uskup dia memilih tinggal di flat sederhana daripada istana untuk ‘pangeran gereja’ yang disediakan baginya sesuai dengan jabatannya itu. Dia bepergian naik bus kota atau metro, dan memasak sendiri.
Bergoglio mengritik tajam gereja yang tak mau membaptis anak-anak dari orangtua tunggal. Baginya, gereja seharusnya mampu mewujudkan ajaran kasih dalam hidup sehari-hari dengan merangkul orang-orang malang, bukannya menjadi pusat selebrasi keagamaan semata.
Dia sendiri menyontohkan hal itu dengan membasuh dan mencium kaki penderita AIDS pada sebuah upacara Kamis Putih di Buenos Aires. Contoh kesederhanaannya yang paling gres adalah ketika dia meminta supir mengambil barang-barangnya di tempat penginapan para kardinal dan menanyakan berapa sewa kamar yang harus dia bayar. Supirnya menjawab bahwa penginapan tersebut milik Vatikan, dan Vatikan kini milik Paus Fransiskus…
Bagi dunia, apa relevansi kehadiran orang baru di Tahta Suci? Tak terhindarkan, posisi paus sebagai pemimpin agama besar membuat pandangannya tentang nilai-nilai kebaikan universal mendapatkan perhatian global.
Besar harapan bahwa Paus Fransiskus, 76, akan membawa pengaruh besar dalam mendorong dunia ke arah yang lebih baik di bidang perdamaian, perlindungan hak azasi manusia, penghentian perang, diakhirinya diskriminasi, kerja sama antaragama, pencegahan kerusakan lingkungan, sistem ekonomi global yang lebih adil, dan pemberantasan kemiskinan.
Amerika Selatan adalah kawasan dengan sejarah panjang perjuangan yang kadang keras dan brutal dari bangsa-bangsa yang mendambakan kemerdekaan, keadilan, demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran. Jorge Mario Bergoglio tidak asing dengan semua itu.
Semoga Paus Fransiskus tak hanya mampu menyelesaikan banyak masalah berat yang menimpa gereja dan umatnya saat ini, tetapi juga dapat menjawab tantangan akan dunia yang lebih baik bagi siapapun, di mana pun.
Source : bisnis indonesia
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.