Besok umat kristiani di seluruh dunia memperingati kematian Yesus. Menjelang atau di tengah suasana peringatan kematian dan kebangkitan Yesus pada Paskah tahun ini, suara penyair Kahlil Gibran agaknya layak didengar lagi. Penyair asal Libanon ini pernah merenungi penderitaan Yesus di salib seperti tertuang dalam kumpulan puisinya, Jesus, the Son of Man.
Dalam salah satu sajaknya dia menulis “Ketika Orang kesayangan itu mati, seluruh umat manusia pun mati, seluruh makhluk sejenak terdiam dan kelabu. Ufuk timur menggelap, badai terlepas dari sana menyapu daratan. Mata langit berkedipan, hujan tercurah dari saluran membasuh darah yang mengucur dari tangan dan kakinya.”
Gibran tentu benar bahwa umat manusia pantas berkabung ketika seorang pewarta dan pejuang kemanusiaan itu mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan. Dia mati di atas kayu salib didahului pengadilan yang menyesatkan.. Itulah risiko yang harus ditanggung lantaran keberaniannya melawan perselingkuhan antara pemimpin agama Yahudi dan penguasa politik Roma saat itu.
Musuh-musuhnya tidak tinggal diam. Tibalah saatnya yang tepat ketika Yesus terang-terangan menyebut dirinya ‘Tuhan’ dan publik mengelu-elukan dirinya sebagai raja orang Yahudi ketika memasuki kota gerbang Yesusalem. Kata-kata dan opini publik itu dianggap mengganggu ketentraman religius dan politik.
Para imam Yahudi berkumpul dan sepakat mempersoalkan Yesus pada sebuah pengadilan agama. Imam Agung Anas dan Kayafas berperan dalam pengadilan itu. Melalui proses yang melelahkan, pengadilan tidak menemukan kesalahan Yesus. Lalu, dia dibawa ke pengadilan negara.
Pilatus ada di sana. Untuk menjaga popularitasnya, Pilatus sebagai penguasa Roma di Yudea saat itu merestui tuntutan para pemimpin Yahudi agar Yesus disalibkan. Sebagai ganti, Pilatus membebaskan seorang penjahat yang bernama Barabas.
Salib dan penderitaan senantiasa hadir di mana dan kapan saja, selalu berulang dalam sejarah perabadan umat manusia. Bahkan, hampir setiap hari ada penyaliban atas orang-orang kecil dan tertindas di sekitar kita. Atau mungkin kita sendiri adalah orang-orang tersalib itu.
Aksi kekerasan, baik oleh para preman yang membunuh Santoso, anggota pasukan Kopassus, maupun pembantaian oleh pasukan terlatih dan teroganisasi yang ditengarai sebagai aksi balas dendam itu merupakan ketidakadilan yang harus dikutuk.
Penyaliban itu tengah dialami oleh orang-orang yang menderita akibat kenaikan harga bahan bakar. Jalan penderitaan itu juga sedang ditapaki para pencari kerja. Pemikul jalan salib itu bisa juga mereka yang tidak mendapat perlindungan hukum di negeri ini, para korban premanisme dan kekerasan, baik kekerasan yang dilakukan oleh sesama masyarakat sipil maupun oleh aparat negara.
Tragedi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman Jogjakarta baru-baru ini merupakan salah satu dari peristiwa penyaliban itu. Aksi kekerasan, baik oleh para preman yang membunuh Santoso, anggota pasukan Kopassus, maupun pembantaian oleh pasukan terlatih dan teroganisasi yang ditengarai sebagai aksi balas dendam itu merupakan ketidakadilan yang harus dikutuk.
Tentu saja tragedi Cebongan hanya sebuah contoh kecil sebuah ketidakadilan dan kekerasan atas nama negara yang makin sering terjadi kahir-akhir ini.
Namun, apakah kita lalu menyerah pada situasi seperti ini? Mestinya tidak. Mari kita belajar dari peristiwa kematian Yesus.
Cerita tidak berakhir di sana. Yesus yang yang seperti sudah mati konyol itu tetap hidup dan menyemangati para pengikutinya. Kendati tidak hadir lagi secara fisik, semangat Yesus membakar mereka. Yesus sudah bangkit, demikian mereka mengimani.
Kebangkitan itu sudah terjadi dan akan terus terjadi. Mereka yang sedang mati semangatnya lantaran ketidakadilan, kemiskinan dan tekanan ekonomi, mereka yang diperlakukan secara semenamena oleh negara tetangga, mereka yang terpinggirkan oleh agama, ideologi dan politik, saatnya sekarang untuk bangkit.
Mari kita meyakini bahwa di mana saja ketika keadilan menang atas dorongan untuk berkuasa, di mana manusia mengupayakan perdamaian dan persaudaraan sejati, di mana saja cinta menang atas egoisme, dan di mana saja harapan mengalahkan rasa putus asa dan sinisme, proses kebangkitan sedang terjadi dan akan menjadi kenyataan.
Source : Bisnis Indonesia
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.