RSS FEEDLOGIN

EDITORIAL BISNIS: Masa Depan Pelabuhan Priok

Editor   -   Senin, 25 Maret 2013, 11:16 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130321_pelabuhan.jpgSetelah tertunda satu tahun, akhirnya peletakan batu pertama proyek pelabuhan Kalibaru, yang dinamakan Pelabuhan Kalibaru New Priok, berhasil dilakukan Jumat (22/3) pekan lalu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir pada upacara peletakan batu pertama tersebut, menandai kesungguhan pemerintah untuk mewujudkan pengembangan infrastruktur vital, yakni pelabuhan Tanjung Priok.

Untuk tahap pertama, menurut Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II R.J. Lino, terminal Pelabuhan Kalibaru New Priok siap beroperasi mulai 2014, yang terdiri dari tiga terminal peti kemas dan dua terminal produk migas.

Masing-masing proyek tersebut akan menambah kapasitas 4,5 juta TEUs peti kemas, dan produk migas 9,4 juta m3. Perkembangan ini melegakan. Terkait dengan keberadaan infrastruktur, selain jalan dan jalan tol serta bandar udara, pelabuhan laut menempati posisi yang sangat strategis sebagai tulang punggung distribusi logistik nasional.

Sejak awal pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, pencanangan konektivitas nasional begitu menggema sebagai salah satu kredo pemerintah. Salah satu sasarannya adalah integrasi sistem logistik nasional, yang akan menjadi tulang punggung bagi pengembangan industri dan perdagangan antardaerah, antarpulau dan antarkawasan.

Di tengah arus pesat perkembangan ekonomi nasional, mobilitas barang menjadi salah satu indikator penting, bukan cuma mobilitas manusia. Mobilitas barang -utamanya distribusi antarpulau dan antarkawasan—hanya bisa diakomodasi secara lebih efisien melalui moda dan jalur transportasi laut, mengingat Indonesia negara kepulauan.

penambahan kapasitas ini, tentu diharapkan akan menurunkan biaya karena waktu bongkar muat di pelabuhan Priok jadi lebih singkat

Maka dari itu, transportasi laut memegang peranan yang sangat penting, yang tidak bisa ditandingi oleh moda transportasi udara karena kapasitas, dan biaya. Pasalnya, pengembangan pelabuhan udara atau bandar udara lebih berorientasi mobilitas manusia.

Itu dari sisi kepentingan domestik. Di sisi lain, dari sisi kepentingan internasional, meski posisi Indonesia, yang berada di simpang jalur
perdagangan internasional, sangat strategis, sejauh ini belum memiliki pelabuhan laut yang mampu bersaing di tingkat global.

Kondisi, kapasitas, dan fasilitas Pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, masih kalah jauh jika dibandingkan dengan
pelabuhan jiran, seperti Singapura. Negeri itu memiliki pelabuhan yang mam pu menjadi hub perdagangan internasional karena sejumlah keunggulan baik dari sisi kepabeanan maupun infrastruktur dan fasilitas lainnya.

Maka, demi kepentingan perekonomian domestik dan internasional, pengembangan pelabuhan Tanjung Priok tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Oleh karena itu, peletakan batu pertama proyek Pelabuhan Kalibaru, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pengembangan pelabuhan
Tanjung Priok, menjadi momentum yang penting dan strategis, meskipun realisasinya boleh dikatakan sangat terlambat.

Karena itu, menjadi sangat masuk akal apabila banyak harapan ditumpukan pada proyek senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp23 triliun tersebut,
karena akan mendongkrak kapasitas pelabuhan. Dengan penambahan kapasitas ini, tentu diharapkan akan menurunkan biaya karena waktu
bongkar muat di pelabuhan Priok jadi lebih singkat.

Saat ini, waktu bongkar muat atau dwelling time di pelabuhan Tanjung Priok masih rata-rata 6,2 hari, yang tidak kompetitif jika
dibandingkan dengan pelabuhan tetangga yang bisa 2 atau 3 hari.

Demi kepentingan perekonomian domestik dan internasional, pengembangan pelabuhan Tanjung Priok tidak bisa ditawar-tawar lagi

Itu sebabnya, kerap terjadi kongesti atau kemacetan arus barang karena menunggu antrean bongkar muat, yang menyebabkan ongkos distribusi lebih mahal dan komoditas ekspor Indonesia menjadi kalah bersaing. Tidak itu saja, kebutuhan impor juga kerap terkendala karena layanan bongkar muat yang lambat.

Harapan itu bukan cuma berhenti pada otoritas pelabuhan. Fasilitas dan infrastruktur pelabuhan yang baik tidak akan bermakna apa-apa apabila infrastruktur untuk pengumpan barang dari dan ke pelabuhan masih tetap macet.

Oleh sebab itu, penting untuk mengingatkan kembali agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta bahu-membahu, agar penyelesaian infrastruktur dari dan ke pelabuhan segera tuntas.

Jalur itu penting untuk menghubungkan Priok dengan sentrasentra industri dan perdagangan di Jawa Barat dan Banten yang berkembang pesat. Dengan demikian, manfaat proyek Pelabuhan Kalibaru New Priok akan lebih maksimal, dalam menopang jalur distribusi dan logistik nasional guna menyongsong prospek ekonomi yang lebih cerah lagi.

Source : Bisnis Indonesia

Editor : LAHYANTO NADIE

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.