
Setiap berita yang menggunakan kata kunci Dahlan Iskan di media online dapat dipastikan menjadi mostviewed alias masuk dalam kategori paling banyak dibaca. Itu mencerminkan bahwa Menteri BUMN itu banyak dicari dan semakin banyak dibaca sehingga ia kian populer.
Boleh jadi sejumlah lembaga survei memunculkan nama Dahlan Iskan sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 karena nama itu makin ngetop saja. Namun di tengah populernya wartawan yang karirnya kinclong hingga menjadi Direktur Utama PT PLN (Persero) kemudian dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri BUMN, ternyata kinerja kementerian yang dipimpinnya tidak sebaik citranya. Lihat saja target BUMN tahun ini justru meleset.
Di samping itu, pengelolaannya dinilai tidak efisien yang mencerminkan bahwa pembinaan kemen terian itu tidak maksimal. Total laba bersih BUMN tahun ini 7,25% di bawah target sepanjang 2012.
Berdasarkan data Kementerian BUMN diketahui proyeksi laba bersih 140 BUMN tercatat Rp135 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan target Rp145,56 triliun. Jika dibandingkan dengan pencapaian 2011, nilai proyeksi itu naik 10,66% dari Rp122 triliun.
Adapun, pendapatan diperkirakan mencapai Rp1.546 triliun, lebih tinggi 3,34% dari target Rp1.496
triliun. Jumlah itu juga tercatat naik 11,46% dibandingkan dengan realisasi pendapatan tahun
lalu Rp1.387 triliun.
Mengapa itu bisa terjadi? Dahlan Iskan mengatakan tergerusnya laba bersih karena sejumlah BUMN yang bergerak di sektor komoditas seperti perkebunan, pertambangan, dan logam mengalami tekanan
akibat harga komoditas.
Namun, tidak semua pihak mau memahami apa yang dikatakan sang Menteri. Wakil Ketua Komisi VI DPR Erik Satrya Wardhana, misalnya.
Menurut anggota DPR itu, lebih rendahnya laba bersih dan pendapatan lebih tinggi dari target,
menunjukkan inefisiensi di BUMN. Dia mengatakan Dahlan Iskan juga harus bertanggung jawab terhadap kinerja BUMN. Selama ini Dahlan dinilai tidak terlalu fokus pada pembenahan di BUMN. Artinya pembinaan Kementerian BUMN gagal. Namun masih ada waktu untuk melakukan perbaikan. Jadi, bukan mencari alasan tetapi justru harus berbenah.
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.