Industri penerbangan dunia melihat Indonesia sebagai potensi pasar yang sangat besar. Selain pertumbuhan penumpang seiring dengan meningkatnya penduduk dengan ditopang pertumbuhan ekonomi yang baik, Indonesia juga akan menjadi pahlawan bagi negara produsen perakit pesawat seperti Boeing dan Airbus.
Bagaimana Boeing dan Airbus tidak senang, setelah memborong 230 unit pesawat Boeing pada 2 tahun lalu, maskapai penerbangan nasional Lion Air kini memborong 234 pesawat Airbus dengan nilai kontrak US$24 miliar. Sebuah pembelian dengan angka fantastis dan terbesar sepanjang sejarah.
Penandatanganan itu dilakukan oleh CEO Grup Lion Rusdi Kirana dan Presiden & CEO Airbus Fabrice Bregier serta disaksikan oleh Presiden Prancis Francois Hollande di Istana Presiden Prancis, Elysee Palais, Senin (18/3).
Indonesia disebut sebagai pahlawan bagi negara lain tercermin dari pernyataan Hollande bahwa kontrak antara Airbus dan Lion Air merupakan bukti nyata kerja sama ekonomi yang erat antara Indonesia dan Prancis.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan perekonomian yang kuat di Asia dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6%,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Presiden Prancis itu menekankan bahwa kontrak pengadaan 234 pesawat itu memberikan peluang 5.000 pekerjaan bagi Airbus untuk 10 tahun mendatang.
Soal infrastruktur memang menjadi pekerjaan rumah yang berat sejak lama.
Nah, bayangkan di tengah kesulitan yang membesut negaranya dan kawasan Eropa pada umumnya, Indonesia datang dengan berbelanja sebesar itu. Maklum, permintaan pesanan dari Eropa dan Amerika begitu lemah akibat turunnya perekonomian mereka.
Dia terus terang mengakui bahwa perusahaan Indonesia memberikan sumbangan yang berharga bagi penyehatan finansial Eropa secara tidak langsung.
Armada yang diborong Lion adalah seri A320neo (sebanyak 109 unit), A320ceo (60 unit), dan A321neo (65 unit).
Gebrakan sebelumnya dari Lion Air adalah membeli 230 unit pesawat Boeing pada November 2011 senilai US$21,7 miliar. Sebanyak 201 unit di antaranya tipe B-737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900 Ers. Perjanjian itu memungkinkan Lion menambah pesanan 150 pesawat atau senilai US$14 miliar.
Perusahaan penerbangan nasional boleh berbangga diri. Dibandingkan dengan industri penerbangan di dunia. Di tengah gejolak ekonomi Eropa dan Amerika yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan serta naiknya harga bahan bakar menjadi tantangan berat yang harus dihadapi industri penerbangan dunia.
Asosiasi transportasi udara internasional (International Air Transport Asociation/IATA) memprediksikan keuntungan industri penerbangan dunia akan turun secara signifikan tahun ini. Alih-alih bisa membeli pesawat baru dan memperluas layanan, bisa mempertahankan usahanya saja sudah bagus. Mereka harus melakukan penghematan besar-besaran.
kini yang perlu disiapkan adalah kelengkapan infrastruktur dan keandalan sumber daya manusia untuk menopang bisnis yang begitu besar.
Bagi Indonesia, kini yang perlu disiapkan adalah kelengkapan infrastruktur dan keandalan sumber daya manusia untuk menopang bisnis yang begitu besar.
Di tengah perekonomian yang stabil sehingga menumbuhkan kelas menengah dan atas yang baru, luasnya wilayah juga menjadi persoalan tersendiri.
Soal infrastruktur memang menjadi pekerjaan rumah yang berat sejak lama. Lihat saja bandara udara besar di berbagai kota di Indonesia. Kita akan melihat antrean penumpang yang sangat panjang. Inilah yang perlu segera dibenahi.
Pekerjaan rumah lainnya adalah soal SDM. Setelah penumpang pesawat udara terus bertambah, pesawat baru terus berdatangan, terminal penumpang kelebihan beban, tentu membuat pengelola bandara mendirikan terminal baru yang lebih besar. Semua itu tentu saja membutuhkan sumber daya manusia untuk mengelolanya.
Dari tahun ke tahun kebutuhan akan sumber daya manusia untuk sektor penerbangan selalu bertambah. Jumlahnya mencapai ribuan dan tersebar di berbagai sektor.
Dari data Kementerian Perhubungan, Indonesia membutuhkan tambahan 500 sampai 1.000 pilot, 500 tenaga ATC dan 1.000 teknisi pesawat udara setiap tahunnya. Sebaliknya, sekolah di bidang penerbangan tak pernah mampu memenuhi kebutuhan itu.
Harian ini menyarankan agar Kementerian Perhubungan terus membuka sekolah-sekolah di bidang penerbangan dan menggandeng swasta untuk memenuhi kebutuhan SDM penerbangan agar kita makin kuat bersaing di pasar global.
Source : Bisnis Indonesia
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.