RSS FEEDLOGIN

EDITORIAL BISNIS: Belajar dari Korea Selatan

Lahyanto Nadie   -   Selasa, 26 Februari 2013, 13:51 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

121126_compact_samsung_white_21.pngUntuk pertama kalinya, rakyat Korea Selatan mulai kemarin dipimpin oleh seorang presiden wanita, Park Geun Hye. Bukan wajah baru dalam elite negara itu, mengingat Geun Hye merupakan putridari mantan Presiden Park Chung Hee, yang memimpin Korea pada 1963 hingga 1979 sebelum tewas ditembak kepala intelijennya sendiri.

Sebagai sebuah negara, Indonesia dan Korea sebenarnya memiliki kemiripan dalam perkembangannya. Kedua negara ini sama-sama merangkak dari kepedihan Perang Dunia II di bawah penjajahan Jepang. Bahkan, Korea sempat mengalami perang saudara pada 1950, yang kian memecah negara itu menjadi dua bagian, Selatan dan Utara.

Secara teknis, kedua Korea itu masih dalam kondisi berperang. Di sisi perekonomian, Indonesia dan Korea Selatan juga baru mulai aktif membangun mulai 1970-an. Hasilnya, kedua negara ini mencapai tingkat perekonomian yang lumayan. Bahkan, Korea menjadi salah satu dari empat macan Asia bersama Singapura,Taiwan dan karena keajaiban ekonominya. Indonesia sendiri kemudian juga sempat menjadi macan baru Asia, bersama Malaysia, Thailand dan Filipina.

Munculnya krisis ekonomi Asia 1997 juga melanda Korea Selatan dan Indonesia. Kedua negara itu pun sempat menjadi pasien dari International Monetary Fund (IMF) untuk menyehatkan perekonomiannya. Setelah sempat kontraksi, baik Korea maupun Indonesia mampu bangkit kembali perekonomiannya meski dalam skala yang berbeda. Bahkan, negara itu mampu ditunjuk menjadi penyelenggara Olimpiade hingga Piala Dunia 2002, yang tanpa adanya kemajuan perekonomian maka mustahil menyelenggarakan pesta olahraga tersebut.

Korea Selatan mampu bertransisi dari semula negara penerima bantuan dari OECD, berubah menjadi negara pendonor dengan pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita saat ini mencapai US$30.000. Dalam kurun wak tu 20 tahun, negara itu telah mencatatkan kenaikan PDB hingga tiga kali lipat.

Memang saat ini perekonomian Korea Selatan tidak lagi melaju kencang seperti beberapa tahun silam. Bank sentral Korea Selatan memprediksikan perekonomian tahun ini hanya akan tumbuh 2,8% dan tahun depan juga sama. Melambatnya mesin ekonomi Korea tidak terlepas dari akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Geun Hye, mengingat sang ayah pada 1970-an mampu menggenjot ekonomi tumbuh hingga 10%.

"

Tidak hanya dari sisi perekonomian Korea Selatan menunjukkan dominasi dirinya. Dari sisi budaya pun, selama beberapa tahun terakhir ‘ekspor’ budaya negara itu juga merambah Asia, termasuk Indonesia, lewat budaya K-pop baik dalam bentuk film maupun musik. Bahkan, videografi penyanyi PSY lewat Gangnam Style-nya menjadi tontonan paling banyak diakses di Youtube.

"

 

Selama ini, hubungan Indonesia dengan Korea Selatan berjalan cukup dekat, baik secara politik, militer, ekonomi hingga budaya. Data Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, per kuartal IV/2012, Korea menduduki peringkat kedua dalam soal merealisasikan investasinya di Indonesia. Ekspor Indonesia ke negara itu selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Demikian pula sebaliknya, impor dari Korea juga meningkat. Meski secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan kedua negara tercatat positif untuk Indonesia.

Kita bisa belajar banyak dari Korea Selatan. Kemajuan perekonomian mereka menunjukkan sikap mau bekerja keras, inovatif dan kreatif menjadi kunci utama sehingga dapat menjadi salah satu keajaiban eko nomi Asia. Masyarakat Korea pun bangga—bahkan fanatik—dengan produksi dalam negeri. Tanpa adanya kebanggaan rakyat akan produksi domestik, merek-merek seperti Samsung, Hyundai ataupun LG tidaklah mungkin akan mengglobal seperti sekarang.

Pun sikap dan semangat para pemimpinnya saat berhadapan dengan hukum. Saat muncul dugaan penyuapan oleh pengusaha dan korupsi yang melibatkan keluarga dekat dan pembantu Presiden Roh Moo Hyun, dia berani berterus terang mengaku salah dan menyatakan bertanggung jawab terhadap kasus itu. Bahkan akhirnya dia bunuh diri melompat dari tebing sebagai bentuk penyesalannya.

Kasus penyuapan dan korupsi yang melibatkan penguasa dan pengusaha juga marak di Indonesia. Perbedaannya, di sini begitu dinyatakan terkait kasus korupsi, penguasa di negara ini malah sibuk memoles diri seolah-olah hanya sebagai korban atau ramai-ramai membantah. Sangat jarang yang langsung mengaku dan menyesali perbuatannya. Indonesia tidak perlu malu meniru Korea Selatan untuk lebih maju.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.