RSS FEEDLOGIN

Disruption dan Respons Korporat

Endy Subiantoro   -   Rabu, 10 April 2013, 12:07 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130325_medium  ens.jpgSekali lagi seputar disrupted innovation atau big bang disruption atau kini menjadi fenomena disrupted disaster. “Mereka tidak menciptakan dilema untuk inovator, mereka memicu bencana [bagi korporat],” tulis Larry Downes & Paul F. Nunes  ( Big Bang Disruption, HBR, Maret 2013).

Fenomena disrupted innovator sebelumnya, pernah dikaji oleh Bower dan Christensen, 1995. Jauh sebelum era internet is things selama periode 2000-2011(meminjam istilah eksekutif Cisco).

Saat itu, sudah ada kegalauan kenapa sekelas Goodyear dan Firestone relatif terlambat masuk ke pasar ban radial. Xerox membiarkan Canon menciptakan pasar foto copy kecil. Bucyrus-Erie merelakan Caterpillar and Deere mengambil alih pasar eksavator mekanik. Sears melapangkan jalannya untuk Wal-Mart (raksasa ritel  dengan jargon “Everyday is low price”).


Memang, banyak faktor penyebabnya mulai  dari birokrasi, kesombongan sebagai leader market, sampai pertimbangan horizon investasi yang berjangka pendek. 

Namun alasan yang paling fundamental ada di jantung paradox yaitu perusahaan besar terlena bahkan tersandera konsumennya. Kesetiaan konsumen ternyata mudah berubah. Mereka bisa berpindah ketika pesaing menawarkan value (lewat teknologi) yang lebih baik.

KEEP IT SIMPLE

Fenomena ini sejalan dengan kajian Patrick Spenner & Karen Freeman, Mei 2012, terhadap lebih dari 7.000 konsumen dan wawancara dengan ratusan eksekutif marketing di AS, UK dan Australia.  Riset meliputi cakupan yang luas dari usia, pendapatan, dan etnik.

Hasilnya, konsumen tidak terlalu mau membangun “relasi” yang intens dengan produsen. Bantu saja mereka membuat pilihan yang tepat.  “Keep it simple.”

Ada tiga langkah untuk memudahkan konsumen melewati pengalaman berbelanja :

(1) Menavigasi

(2) Membangun kepercayaan

(3) Memudahkan mereka dalam memutuskan untuk membeli.  Di luar itu, lupakan saja.

Lantas apa hubungannya, antara Disruption- prilaku konsumen, dan respos korporat? Di Era Internet of Everything --menurut Cisco, mulai 2011 dan akan mencapai puncak pada 2020-- ketiga komponen itu membangun multisided platform (meminjam istilah Alexander Osterwarlder).

Di era tersebut terjadi koneksi intensif antara manusia, proses bisnis, data, dan gadget. Proses ini sedang terjadi. Dalam situasi semacam itu fenomena Big Bang Disruption menjadi semakin mencemaskan buat korporat.

Big Bang Disruption memiliki ciri –ciri:

(1) unencumbered development yakni pengembangannya tanpa beban (liabilitas atau apapun)

(2) Unconstrained growth: pola perkembangannya tidak mengikuti pola distribusi normal. Artinya, begitu produk /teknologi baru muncul langsung dikonsumsi trial user (pengguna baru) dan diikuti lonjakan early adopter (pengguna berikutnya). Namun siklusnya berlangsung singkat begitu ada produk-teknologi baru.

(3) Undisciplined strategy. Mereka tidak mengikuti pola baku strategi kompetisi. Biasanya, bisnis mensinergikan tujuan strategiknya dengan salah satu dari tiga disiplin yaitu low cost, product leadership, atau customer intimacy.

DISRUPTION IN THE MAKING

Karena keunikan disruption tadi, maka mereka mengubah aturan bermain. Produk yang ada, bisa hilang hanya dalam satu malam. Mereka juga bisa memperpendek siklus hidup produk.  Teknologi betul-betul memperluas fungsi tubuh manusia (Chris Shilling).

Contohnya adalah kehadiran Black Berry dengan BBM menenggelamkan Nokia dan Sony-Erricson. Kemunculan Ipad dan Samsung Tab membuat semua pemain termasuk di media massa harus bersiap-siap gulung tikar.

Gejala disruption besar yang sedang terjadi antara lain pengembangan mobil listrik dan mobil hybrid, perluasan penggunaan tablet (ipad,Samsung Tab), serta proses pembayaran via internet (migrasi dari transaksi dari kartu kredit ke smartphone).

Bagaimana sikap korporat terhadap fenomena tersebut? Ada beberapa tips: (1) Mencermati kehadirannya (2) Memperlambat periode “kerusakannya” untuk menyiapkan respons balik. (3) Siap-siap “cabut” dari bisnis jika sulit dilawan (4) Melakukan diversifikasi bisnis.

Kabar baiknya, big-bang disruption menyimpan potensial yang dahsyat bagi siapa saja yang belajar dengan cepat.Bisnis kita, bisa saja digantikan sesuatu yang lebih dinamis, tidak stabil, tapi juga lebih menguntungkan. Intinya, cepat beradaptasi, proaktif, dan terus belajar.

Source : Endy Subiantoro

Editor : Martin Sihombing

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.