TERASA ada yang berbeda pada senyum hangat Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie pada hari kedua rapat pimpinan partai di Hotel Mercure, Jakarta, Kamis malam 27 Oktober lalu. Hari itu seluruh pengurus daerah partai sepakat mendukungnya mencalonkan diri dalam Pilpres 2014. Tak ada konvensi seperti pada masa kepemimpinan Akbar Tanjung.Sehari sebelumnya, lembaga think tank politik Sugeng Sarjadi Syndicate merilis hasil survei yang menempatkan Partai Golkar sebagai partai terpopuler dengan elektabilitas 31,9%.Meski, masih dari survei tersebut, elektabilitas Aburizal hanya 6,8%, terpaut jauh dari peringkat Prabowo Subianto yang berada di puncak 28%, juga mantan menkeu Sri Mulyani yang 7,4%.Namun, entah kenapa, tetap saja senyum hangat Ical, panggilan akrabnya, terbit menyambut permintaan wawancara para wartawan, terkait dengan datangnya serentetan kabar itu.Sekadar informasi, beberapa jam sebelum wawancara itu, para pemimpin Eropa sepakat untuk memangkas 50% obligasi Yunani dan menambah dana talangan krisis menjadi US$1,4 triliun.Kamis sore waktu Indonesia, saat pasar Eropa dibuka, seluruh indeks acuan langsung melesat, yang serta-merta diikuti bursa AS saat dibuka beberapa jam berikutnya. Saat penutupan, indeks acuan Eropa seperti FTSE 100 dan Stoxx Europe 600 melompat 2,9% dan 3,6%. Di Wall Street, S&P 500 dan Dow Jones mendaki 3,4% dan 2,9%.Lompatan S&P 500 yang melampaui rekor reli bulanan sejak 1974 itu kian istimewa karena statistik pertumbuhan ekonomi AS yang dirilis malam itu menunjukkan akselerasi.Serentetan kabar tersebut praktis memberikan harapan kepada PT Bakrie & Brothers Tbk, kapal induk bisnis keluarga Bakrie, untuk tetap selamat dari ancaman gagal bayar. Saham Bumi PlcTERUTAMA sejak awal Oktober, harga saham emiten Grup Bakrie rontok dihantam sentimen negatif krisis Eropa yang kembali meletup 6 pekan setelah S&P menurunkan peringkat kredit AS.Apalagi, kinerja fundamentalnya juga tidak bisa dibilang meyakinkan. Utangnya masih menggunung, sebagian besar berjangka pendek dan mulai mendekati jatuh tempo.Paruh Oktober, bertiup kabar Bakrie & Brothers sedang menghadapi risiko kehilangan sahamnya di Bumi Plc, emiten Bursa Efek London yang didirikan bankir-investasi Nathaniel Rothschild. Bakrie & Brothers mengendalikan 47,8% saham Bumi Plc. Sementara itu, Bumi Plc menguasai 29% saham PT Bumi Resources Tbk dan 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk.Risiko kehilangan saham Bumi Plc muncul karena Bakrie & Brothers tak lagi memenuhi syarat perjanjian utangnya senilai US$1,34 miliar. Pinjaman itu memakai saham Bumi Plc sebagai jaminan.Perlu segera ditambahkan, dari pinjaman yang diberikan Credit Suisse itu, Bakrie & Brothers hanya menerima US$601,75 juta. Sisanya diberikan ke Long Haul Holdings Ltd.Penjaminan saham Bumi Plc dipatok pada harga tertentu. Konsekuensinya, jika harga riilnya kelak di bawah batas harga itu, Bakrie & Brothers harus melunasi atau memberi jaminan tambahan.Kian besar selisih harga saham riil dengan harga batas saham Bumi Plc yang disepakati di perjanjian, kian besar pula jaminan tambahan atau nilai pelunasan yang harus disediakan. Padahal, sejak krisis utang Eropa meletup kembali 2 Oktober, bursa Eropa nyaris bertahan terus di zona merah, hingga saham Bumi Plc pun terus terkoreksi. Akhirnya, sepekan menjelang pengujung Oktober, harga saham Bumi Plc berada pada BP7,3 per unit, atau di bawah batas BP8,5 per unit yang ditetapkan dalam perjanjian transaksi.Fakta itulah yang kemudian mendorong Bumi Resources membatalkan penjualan 75% saham anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk, ke Bumi Plc dengan obligasi tukar US$2 miliar.Tekanan itu pula, tanpa mengabaikan faktor fundamentalnya yang memang tidak meyakinkan, yang bekerja mengoreksi harga saham emiten Grup Bakrie di Indonesia. Itulah juga sebabnya kenapa saat rencana penambahan dana talangan krisis terkuak, saham Bumi Plc hanya naik 1,4%, sedang emiten sejenis seperti Eramet dan Glencor membubung di atas 10%. Situasi itu pula yang menjelaskan kenapa para paruh Oktober itu Glencore International Plc datang ke Bakrie menawarkan dana segar US$900 juta untuk membeli sebagian sahamnya di Bumi Plc.Jangan lupa, di luar itu, Nathaniel Rothschild yang sudah mengaku punya napsu besar jadi mayoritas di Bumi Resources dan Berau, juga mendapat angin untuk menguasai saham mayoritas Bumi Plc. Bayangkan kalau beberapa jam sebelum malam kedua rapim Golkar itu para pemimpin Eropa gagal mencapai kesepakatan. “Bakal galau dia [Ical],” kata seorang kawan setengah berseloroh.Karib dekatDI JAKARTA, risiko kegalauan itu niscaya ada dalam kendali Nirwan Darmawan Bakrie, adik kandung Ical yang selama ini berperan sebagai operator bisnis keluarga Bakrie. Pria berjuluk ‘berhati singa, memiliki 7 jantung, dan 1.000 akal’ ini sudah terbukti sukses menangani restrukturisasi utang Bakrie senilai US$1,2 miliar saat krisis global menghantam 3 tahun silam. Perlu diingat, anatomi utang Bakrie saat itu juga tak jauh berbeda dengan utangnya sekarang, yakni masih dengan modus repo (repurchase agreement) alias gadai saham. Konfirmasi munculnya bankir-investasi bernama Samin Tan yang menyingkirkan raksasa komoditas Glencore dalam kemelut penyelesaian utang Bakrie kemarin niscaya tidak datang dari ruang hampa.
Samin Tan adalah mantan auditor Deloitte Touche Tohmatsu yang mengendalikan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk bersama Surjadinata Sumantri melalui PT Republik Energi & Metal. Keduanya juga pendiri Renaissance Capital.
Pasar tahu, Samin Tan, yang melalui Borneo Energi menyuntik dana US$1 miliar ke Bakrie untuk 23,8% saham Bumi Plc adalah salah satu karib terdekat Nirwan.
Pasar juga tahu, kalau harga beli 23,8% saham Bumi Plc senilai US$1 miliar itu setara dengan BP10,91 per unit, premium 48,44% dari harga riilnya kemarin, BP7,35 per unit, alias kemahalan.Dalam konferensi persnya bersama Presdir Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar kemarin, Samin Tan mengaku dana yang disuntik ke Bakrie adalah pinjaman Standard Chartered bertenor 5 tahun.
Jaminannya—seraya menekankan bahwa transaksi dengan Bakrie itu adalah kemitraan jangka panjang—saham anak usaha Borneo Energi, PT Asmin Koalindo Tuhup & PT Borneo Mining Service.
Gadai saham dan harga kemahalan itulah penjelasan kenapa saat kemarin Borneo Energi merilis kinerja yang begitu meyakinkan, harga sahamnya justru terpelanting 15,53% ke Rp870 per saham.Asal tahu saja, harga batu bara kokas yang tembus US$330 per ton pada Juni telah mendongkrak laba bersih Borneo Energi 406,94% ke Rp1,32 triliun dengan pendapatan +115,13% ke Rp4,44 triliun.Rumor lamaMASIH dari konferensi pers itu, Samin Tan juga mengungkapkan masuknya Borneo Energi ke Bakrie sebenarnya sudah dibicarakan September 2010, 2 bulan sebelum Borneo Energi listing di bursa. Namun, rencana tersebut tak terealisasi. Dan beberapa bulan lalu, sambungnya, Borneo Energi juga ikut menawar saham Bakrie di Bumi Minerals seharga US$1,8 miliar, yang belakangan juga batal. “Akhirnya 3 bulan ini kami intens, hingga kami melakukan penandatanganan kerja sama ini,” katanya seraya mengatakan setelmennya diteken bulan depan pascaRUPSLB Borneo Energi 15 Desember.Sebagai salah satu karib terdekat Nirwan, kehadiran Samin Tan dalam pusaran bisnis keluarga Bakrie melalui transaksi bermotif 'diversifikasi & kemitraan jangka panjang' itu jelas bukan cerita baru.Situasi ini pararel dengan rumor lama soal koneksi Bakrie dengan Recapital berikut Sandiaga S. Uno dan Rosan P. Roeslani, yang kini 'terbukti' via kepemilikan Bakrie di Berau Energy melalui Bumi Plc.Pasar niscaya belum lupa, ketika 5 tahun silam Borneo Energi sekonyong-konyong mencaplok Bumi Resources dengan nilai fantantis US$3,2 miliar, sebelum kemudian batal.Rumor yang berkembang saat itu, Borneo Energi hanyalah kendaraan dari satu konsorsium yang dipimpin Renaissance Capital, dengan anggota Marubeni Corporation, Thiess Contractor, dan DBZ.Dan Bakrie menaruh US$750 juta dalam konsorsium itu, hasil patungan sejumlah relasi utama Bumi seperti Marubeni dan Thiess, dengan kompensasi a.l. penjualan batu bara dan proyek kontraktornya.Adapun sisanya, US$2,5 miliar diambilkan dari pinjaman sejumlah bank yang diatur Credit Suisse First Boston yang bekerja sama dengan JP Morgan sebagai penasehat Bumi Resources.Tentu saja rumor pedas itu segera dibantah keras. Sampai pada konferensi pers kemarin, dan entah kenapa, terasa ada yang berbeda pada senyum Samin Tan. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.