BISNIS.COM,JAKARTA -- Penggunaan bahan bakar non gas oleh Industri di wilayah Medan sudah mencapai 70%, karena pasokan gas yang terus turun.
Pengusaha Keramik di Medan Fredi Chandra mengatakan hingga kini Medan defisit gas, bahkan kian parah. Belum lagi, naiknya harga gas industri semakin membuat industri di kawasan Medan, tercekik. Pasalnya, naiknya harga gas tidak diikuti dengan peningkatan pasokan gas.
Bila hal ini tidak cepat ditangani, akan banyak industri di Medan yang akan gulung tikar. Bila pada Februari lalu penggunaan bahan baku non migas perusahannya mencapai 60%, kini sudah mencapai 70 %.
“Sekarang sudah sekitar hampir 65%-70% ya,” katanya ketika dihubungi melalui telepon, Selasa (16/4).
Dia terpaksa menggunakan solar dan batu bara yang tentunya dengan harga lebih mahal.
Dia mencontohkan, perusahaannya hanya membutuhkan gas sebesar 2,5 juta kaki kubik per hari (MMscfd), namun yang diperoleh hanya sekitar 1 MMscfd.
Selain pasokan, kualitas kualitas gas pun terus menurun. Kemudian, ditambah dengan melambungnya harga gas. Seperti diketahui, pemerintah memutuskan untuk melakukan penaikan harga gas bagi industri (hilir) sebesar 50 % yang akan dilakukan secara bertahap, yakni kenaikan 35 % pada September 2012, dan kenaikan 15 % pada April 2013.
Fredi merinci, saat ini harga dari hulu sekitar US$7,2 per MMbtu. Kemudian ditambah dengan biaya angkut (toll fee) sebesar US$1,8 per MMbtu.
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatra Utara Johan Brien mengatakan kebutuhan gas di Medan sekitar 17 MMscfd. Pada November 2011 lalu, pasokan menurun hingga 11,5 MMscfd. Terakhir pada Maret tahun ini, produksi tersisa 7 MMscfd. “Kami dapat informasi, Juni ini akan habis juga, tidak adil ini,industri di sini gunakan gas sudah lebih dari 60%,” katanya.
Selama ini industri di Medan mendapat pasokan gas dari ladang gas Pangkalan Susu, Sumatera Utara milik Pertamina EP dan ladang gas Glagah Kambuna, Sumatra Selatan yang dioperasikan oleh Pertamina EP bersama Salamander Energy NSL dan disalurkan PGN.
Namun, sekarang pasokan gas dari kedua lapangan tersebut hanya mencapai 7 MMscfd. Belum lagi gas dari PT Pertiwi Nusantara Resources (mitra PGN) yang sudah habis pada Maret lalu, padahal kontraknya berlaku hingga 2015.
Vice President Corporate Communication PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Ridha Ababil menolak bila pihaknya dikatakan tak berdaya. Pasalnya, pihaknya sudah berusaha mencari pasokan gas untuk industri sejak lama. Namun, memang belum mendapatkan hasil.
“Kami sudah cari terus, ada ketemu yang kecil-kecil gasnya, tentu tidak akan masuk keekonomiannya bila dibangun infrastruktur,” jelas Ridha.
Bukannya tidak ingin membangun infrastruktur, lanjut Ridha, perseroan sudah merencanakan pembangunan floating storage regasification unit (FSRU) Belawan untuk memenuhi kebutuhan gas di Medan. Namun, pemerintah memindahkan proyek tersebut ke Lampung.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Edy Hermantoro mengatakan pemerintah akan mencari jalan keluar untuk masalah pasokan gas di seluruh Indonesia. Menurutnya, pihak Pertamina EP sedang berusaha mencari pasokan gas baru Sumur Benggala di Sumatera Utara.
Deputi Pengendalian Komersial SKK Migas Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan pemerintah masih membahas dan mencarikan jalan keluar untuk masalah industri di Medan. “Kami masih bahas, rencananya yang pasokan dari Sumur Benggala tinggal persetujuan Put on Production (POP) ke Deputi Perencanaan,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah bukannya tidak memikirkan industri. Bahkan, lanjut Wawan, dari seluruh produksi gas yang dialokasikan ke domestik sepanjang kuartal pertama tahun ini, sektor industri merupakan sektor yang paling besar menerima alokasi.
Produksi gas pada kuartal pertama tahun ini mencapai 8.300 MMscfd. Dari jumlah tersebut, produksi yang dijual (lifting) sebanyak 7.400 MMscfd-7.500 MMscfd. Dari produksi untuk domestik sebesar 3.650 MMscfd, 33% diserap oleh sektor industri, 27 % untuk listrik, 20% untuk pupuk, dan 10% untuk lifting. Sisanya untuk city gas dan yang kecil-kecil lainnya.
Source : Riendy Astria
Editor : Bambang Supriyanto
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.