JAKARTA:Ekspansi bisnis waralaba Amerika Serikat di Indonesia dinilai tepat, karena daya beli pasar di Tanah Air cukup tinggi dengan pendapatan perkapita US$3.500 per tahun.
Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), mengatakan masuknya pengusaha waralaba AS ke Indonesia sebenarnya sudah berlangsung pada tahun 1970 an, namun banyak yang tidak sukses karena pendapatan per kapita masyarakat baru US$568.
"Jaringan waralaba AS yang masih eksis dan berkembang dengan 370 oulet di seluruh Indonesia baru KFC. Jadi masuknya perusahaan waralaba AS sekarang ini sudah tepat karena income kita sudah tinggi US$3.500/tahun," katanya di sela-sela pertemuan delegasi International Franchise Association (IFA) AS di Hotel Shangrila Hari ini
Dia berharap kedatangan delegasi AS justru akan memicu pengusaha Indonesia untuk mengembangkan usaha dan membuat waralaba di luar negri.
"Saat ini baru sekitar 10-15 perusahaan Indonesia yang go global. Pemerintah harus dorong mereka untuk berwaralaba di tingkat global. Pengusaha Indonesia seharusnya sadar jangan Indonesia saja yang dijadikan pasar besar bagi perusahaan asing," tegasnya.
Sedikitnya 13 perusahaan mewakili 19 brand franchise Amerika Serikat menjajaki kerjasama waralaba dengan perusahaan Indonesia melalui pertemuan dua hari di Jakarta.
Beth Solomon, Vice President Strategic Initiatives and Industry Relations IFA Amerika Serikat, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih bagus dari AS membuat RI jadi pasar yang prospektif.
"Daya tariknya bukan dalam hal jumlah populasi saja tapi ketahanan menghadapi krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi di tingkat Asia dan global yang tinggi membuat anggota delegasi melirik pasar besar Indonesia," ujarnya pada sesi pertemuan delegasi AS-RI di Hotel Shangrila, Hari ini.
Pertemuan yang dijadwalkan hingga 13 Desember 2011 itu merupakan perjalanan bisnis delapan hari dari para pelaku franchise (waralaba) AS mewakili 19 brand yang melakukan sedikitnya 50 sesi pertemuan di Jakarta dan Vietnam. (sut)
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.