
Belajar merupakan kesempatan bagi siapapun untuk menambah ilmu dan pengetahuan, tak terkecuali untuk memperoleh pelajaran kehidupan. Mengenai pelajaran kehidupan ini, sesuai namanya, hanya dapat diperoleh di sela-sela kita menempuh kehidupan itu sendiri tentunya. Pelajaran tentang kehidupan malah jarang diperoleh dari bangku pendidikan formal.
Salah satu pelajaran kehidupan yang akan saya bagikan di kolom ini, saya peroleh pekan silam sewaktu berkunjung ke kota Manado dalam rangka menghadiri rangkaian acara Hari Pers Nasional. Tapi, pelajaran ini bukan saya peroleh dari wejangan Pak SBY di acara puncak HPN yang molor dua hari dari jadwal seharusnya, 9 Februari, karena saya keburu kembali ke Jakarta.
Pelajaran kehidupan tentang bagaimana kiprah umumnya entrepreneur berdasarkan etnis tertentu ini saya peroleh dari Adi, sebut saja begitu, seorang kenalan yang mengaku sudah cukup lama berkecimpung di lingkungan bisnis, "namun karena mungkin saya ini mewarisi bakat pribumi, jadi kurang berani berbisnis atau insting bisnis saya tumpul."
"Saya kira sama saja lah kita ini semua, tidak peduli orang pribumi ataupun keturunan, semua memiliki bakat berbisnis. Hanya keberanian dan kemampuang mengasahnya saja yang berbeda," ujar saya dengan nada menyergah.
"Oh, beda, Mas.. Dalam sedih dan susah, etnis pribumi seperti kita-kita ini justru mudah berbagi. Sampeyan tidak percaya ya.. Butuh bukti," Ujarnya berbalik tanya kepada saya.
"Bagaimana nalarnya kok bisa seperti itu," saya menimpalinya dengan pertanyaan pula.
"Begini.. Kalau kita punya rokok sebungkus--bagi kaum penghisap asap itu--tidak segan-segan untuk berbagi beberapa batang kepada siapa pun, termasuk kenalan baru sekalipun. Juga ketika punya uang, misalnya, 100.000 rupiah di kantong, tidak segan-segan untuk mentraktir temannya hingga 50.000 rupiah. Bahkan kalau punya uang sejuta rupiah, untuk teman karibnya dia ikhlas nraktir 200.000 rupiah malah," ungkapnya.
"Ya begitulah.. Itu hal yang wajar," kata saya.
"Dengar dulu lanjutan cerita saya.. Tapi begitu punya 10 miliar rupiah, dia akan berpikir sangat panjang untuk berani memberikan kepada rekannya. Padahal, sang teman itu mungkin memiliki ide cemerlang yang mungkin dapat menghasilkan keuntungan beberapa miliar nantinya. Tapi, bisanya, orang kita agak sulit untuk memercayai temannya sendiri, termasuk jika si teman tadi siap melaksanakan ide bisnis tersebut tapi tidak punya modal," lanjut Adi.
"Saya kira semua orang begitu deh nampaknya," saya menimpalinya kembali.
"Berbeda lho dengan yang dilakukan saudara kita yang keturunan China, misalnya. Mereka lebih mampu untuk melihat peluang, termasuk memanfaatkan kedekatan dengan penguasa, kalau memang dianggap menguntungkan mereka siap memfasilitasi sang penguasa tersebut dengan materi, yang pada akhirnya akan kembali dalam jumlah yang jauh lebih besar dan berlimpah. Ini yang jarang diperhatikan oleh entrepreneur kita," ujar Adi dengan mimik serius.
"Kalau soal kongkalikong begitu mah, orang kita [pengusaha berdarah pribumi] juga banyak yang melakukannya, bukan hanya mereka.. Karena itulah sekarang makin banyak pejabat digaruk KPK," ucap saya bernada protes.
"Tapi harus diakui bahwa sikap mental untuk meraih sukses bersama tidak banyak ada di kalangan entrepreneur pribumi. Silakan dilihat kenyataannya. Masih banyak yang bersikap bahwa kalau bisa yaa dikuasai sendiri, kenapa harus berbagi dengan orang lain," imbuhnya yakin.
"Mungkin itu pola pikir pribumi di masa lalu. Kalau sekarang tampaknya sudah berubah lho. Lihat saja entrepreneur muda masa kini, mereka tidak ragu kok untuk menghargai tinggi ide temannya, misalnya, sehingga mereka kemudian mendanainya bahkan mengajaknya untuk turut menjadi pemegang saham," tutur saya asal ngomong tanpa didasari fakta.
Saya memang terprovokasi oleh pendapat Adi tersebut. Namun, saya masih menyimpan ketidakpercayaan atas asumsi bahwa tipikal entrepreneur pribumi seperti itu, yakni kurang mampu memberikan trust kepada seseorang yang sebenarnya berpotensi menjadi calon mitra kerja.
Memang harus diakui bahwa kondisi sektor kewirausahaan di Indonesia bersifat pareto. Mayoritas penduduk pribumi merupakan minoritas di dunia usaha, sebaliknya kelompok etnis minoritas menjadi penguasa kegiatan bisnis di negeri ini.
Tapi, saya yakin bahwa hal itu lebih disebabkan oleh banyak hal, bukan semata-mata bakat ataupun DNA alias asam deoksiribonukleat--ciri yang ada di dalam sel makhluk hidup pembentuk karakteristik fisik yang bersangkutan.
Kalaupun banyak saudara-saudara dari etnis China mampu menjadi entrepreneur, tampaknya hal itu lebih disebabkan oleh pengalaman yang diperoleh dari nenek-moyang mereka yang memang memiliki jiwa petualang dan pedagang. Karenanya, tidak heran jika etnis China terdapat di mana saja di seluruh permukaan planet Bumi ini.
Sedangkan untuk sebagian besar warga pribumi yang memiliki sejarah panjnag sebagai rakyat biasa di masa kerajaan zaman dulu dan lebih bangga bila dapat menjadi pegawai ataupun ambtenaar, pengalaman kolektif itu terbawa oleh sebagian besar masyarakat kita.
Sampai generasi yang lahir era 1980-an, kalau mereka lulus perguruan tinggi masih banyak yang bercita-cita menjadi pegawai. Berbeda dengan generasi kelahiran 1990-an, yang hidupnya cukup kaya dengan informasi, termasuk pengetahuan tentang kewirausahaan, maka tidak sedikit yang kini bercita-cita untuk mandiri menjadi entrepreneur.
Walhasil, kita akan menyaksikan kebangkitan kaum entrepreneur baru di masa-masa sekarang dan mendatang. Karenanya, generasi yang kini sedang 'berkuasa' hendaknya menyiapkan bekal yang cukup agar angkatan setelah kita merupakan genereasi entrepreneur yang dapat menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Masih ada kesempatan bagi kita untuk menjadikannya. (
djauhar@bisnis.com)
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.