BISNIS.COM, MUMBAI—Malaysia menetapkan pajak atas ekspor minyak sawit mentah tidak berubah pada bulan Juni, setelah produsen kedua terbesar di dunia berusaha untuk meningkatkan pengiriman dan persediaan di tengah penurunan harga, menyebabkan nilai kontrak turun.
Menurut pernyataan Departemen Bea Cukai Malaysia, pengiriman akan dikenakan pajak sebesar 4,5% bulan depan setelah harga acuan yang ditetapkan sebesar 2.332,02 ringgit (US$777) per ton. Sebelumnya pada bulan Januari dan Februari tidak ada tarif, lalu dinaikkan menjadi 4,5% pada bulan Maret.
Nilai kontrak merosot 29% pada tahun lalu karena produksi melebihi permintaan, meningkatkan persediaan di Malaysia mencapai rekor pada bulan Desember. Pemerintah Malaysia mengatakan pada Oktober akan memotong pajak ekspor menjadi antara 4,5% dan 8,5% dari sekitar 23% untuk membantu memangkas stok dan bersaing dengan Indonesia, produsen terbesar.
Chandran Sinnasamy, kepala perdagangan di LT International Futures Sdn., mengatakan jumlah pajak tersebut berada dalam ekspektasi pasar karena harga telah melayang dari batas alokasi pajak sebelumnya.
"Ekspor dari Malaysia tidak akan menerima banyak bantuan dari besaran pajak yang terus berubah karena Indonesia lebih kompetitif," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/5/2013)
Surveyor Intertek mengatakan jumlah ekspor dari Malaysia turun 7,6% menjadi 599.300 ton dalam 15 hari pertama bulan ini. Sementara itu, Dewan Minyak Sawit Malaysia mengatakan pada 10 Mei, pengiriman turun 5,6% menjadi 1,45 juta ton pada April, sedangkan persediaan turun 11% menjadi 1,93 juta ton.
Di sisi lain, Indonesia menurunkan bea ekspor menjadi 9% pada bulan ini dari 10,5% bulan sebelumnya. Adapun nilai kontrak pengiriman Juli turun sebanyak 1,1% menjadi 2.277 ringgit per ton di Malaysia Derivatives Exchange, dan berada di 2.280 ringgit pada Rabu (15/5/2013) pukul 11.00 di Kuala Lumpur. (mfm)
Source : Bloomberg
Editor : Fatkhul Maskur
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.