RSS FEEDLOGIN

CHINA Janjikan perdamaian & dukungan ekonomi ke negara Asia

Amri Nur Rahmat   -   Minggu, 07 April 2013, 18:28 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130401_ri-china-1.jpgBISNIS.COM, BOAO, China-- Pemerintah China menyatakan akan terus berupaya memelihara dan menciptakan perdamaian di kawasan Asia sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi negaranya maupun secara global.

Selain itu, Presiden China Xi Jinping bahkan meminta para pemimpin korporasi bisnis maupun politik serta pemimpin dunia untuk memprioritaskan diplomasi dan dialog dalam penyelesaian sengketa serta permasalahan yang dikhawatirkan mengganggu stabilitas perekonomian di negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua tersebut.

"Sementara untuk di kawasan Asia, pembangunan masih menjadi kendala utama sekaligus merupakan faktor krusial dalam penyelesaian persoalan ekonomi," ujarnya dalam sebuah Forum di Boao, provinsi di Pulau Hainan, seperti yang dilansir Reuters, Minggu (7/4/2013).

Kendati demikian, kata Xi, pembangunan di suatu negara juga tak akan mampu terealisasi tanpa terciptanya perdamaian dan kemananan yang kondusif.

Dia memproyeksikan dengan kondisi keemanan yang stabil, target peningkatan PDB China dua kali lipat pada 2020 dibandingkan 2010.

"Perkembangan China yang lebih besar, diharapkan bisa berimplikasi terhadap penciptaan pembangunan yang merata di kawasan Asia dan dunia," kata Xi dalam forum yang juga dihadiri Perdana Menteri Australia Julia Gillard, Presiden Myanmar Thein Sein dan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.


Dalam satu dekade terakhir, perdagangan luar negeri China dengan negara tetangganya tumbuh dari $100 miliar lebih menjadi US$ 1,3 triliun dan menjadikan negara ini sebagai mitra dagang terbesar dan sasaran investasi oleh banyak negara lain.

Sementara untuk di kawasan Asia, nilai perdagangan di kawasan ini meningkat menjadi $ 3 triliun dari US$800 juta dalam satu dekade terakhir, dan perdagangan dengan daerah regional lain juga meningkat menjadi US$ 4,8 triliun dari dari US$1,5 triliun. (Reuters/c44/faa)

Source : Amri Nur Rahmat

Editor : Fahmi Achmad

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.