RSS FEEDLOGIN

China & India Andalkan Jasa Pulihkan Ekonomi

Fajar Sidik   -   Selasa, 05 Februari 2013, 19:53 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130205_china-india.jpgNEW DELHI—Kinerja industri jasa China dan India, dua negara dengan perekonomian terbesar masing-masing pertama dan ketiga di Asia, menguat menyusul kebijakan pemerintah untuk memulihkan perekonomian.

HSBC Holdings Plc. dan Markit Economics pada Selasa (5/2) melaporkan indeks purchasing manager (PMI) industri jasa China naik menjadi 54 pada Januari 2013, tertinggi dalam 4 bulan, dari 51,7 pada Desember 2012.

PMI industri jasa China versi pemerintah yang dirilis pada Minggu (2/2) juga menguat hingga level tertinggi bahkan sejak Agustus 2012. Level di atas 50 dalam indeks ini menunjukkan penguatan kinerja.

Data ekonomi ini menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi akan kembali menguat pada kuartal ini setelah berbalik menguat (rebound) pada kuartal IV/2012 dari perlambatan dalam 2 tahun.

Pemerintahan China mengandalkan industri jasa dan permintaan domestik untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi guna mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dan belanja investasi.

“Pemulihan pertumbuhan China sekarang semakin kuat. Kinerja pasar tenaga kerja yang masih solid dan ekspektasi bisnis yang tinggi dapat berujung kepada pemulihan pertumbuhan sektor jasa lebih lanjut,” kata Qu Hongbin, kepala ekonom HSBC untuk China.

Perekonomian terbesar kedua di dunia itu tumbuh 7,9% pada kuartal IV/2012 dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, rebound dari perlambatan selama 7 kuartal. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2012 tumbuh 7,8%, terendah dalam 13 tahun.

Sementara itu, PMI industri jasa India, yang juga dilaporkan HSBC dan Markit Economics pada Selasa (5/2), naik menjadi 57,5 pada Januari 2013, terpesat dalam setahun terakhir, dari 55,6 pada Desember 2012.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, industri jasa berkontribusi sekitar 57% terhadap PDB negara yang memiliki perekonomian terbesar ke-10 di dunia itu. Pada September 2012 pemerintah membuka perekonomiannya untuk mengundang lebih banyak investor asing.

Selain itu, pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Manmohan Singh itu telah mengambil sejumlah kebijakan untuk mengurangi defisit fiskal dan perdagangan, serta mempercepat pembangunan infrastruktur seperti jalan, rel kereta, dan pelabuhan.

Selain lewat kebijakan fiskal, bank sentral India juga ikut menggenjot pertumbuhan ekonomi yang telah melambat hingga terendah dalam 10 tahun dengan kebijakan moneternya, termasuk pemangkasan suku bunga acuan pada bulan lalu.

“Kenaikan jasa perlu didukung oleh kenaikan manufaktur yang hingga saat ini belum ada. Tekanan inflasi masih ada dan ini perlu diperhatikan,” kata Dharmakirti Joshi, kepala ekonom Crisil Ltd.

Meskipun telah turun hingga level terendah dalam 3 tahun, yakni 7,18% pada Desember 2012, tingkat inflasi India itu masih merupakan yang tertinggi dibandingkan negara berkembang besar yang tergabung dalam BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China). (Bloomberg/bas)(Foto: globalresearch.ca)

Source : Newswire/Achmad Puja Rahman Altiar

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.