RSS FEEDLOGIN

CHINA Cemaskan Perjanjian Kelautan Jepang & Taiwan

Reporter   -   Kamis, 11 April 2013, 00:39 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130411_sx057_1440_9.jpgBISNIS.COM, BEIJING—China langsung mengeluarkan reaksi setelah Jepang menandatangani perjanjinan dengan Taiwan mengenai isu penangkapan ikan di kepulauan sekitar Laut China Timur, yang selama ini menjadi sumber konflik antara Beijing dan Tokyo.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei berkata pada Rabu (10/4/2013), “Kami sangat cemas pada Jepang dan Taiwan, yang membicarakan dan menandatangani perjanjian penangkapan ikan.”

Lei menambahkan bahwa China berharap Jepang akan bersungguh-sungguh menaati janji-janjinya dan bertindak hati-hati dalam permasalahan dengan Taiwan.

Sikap Jepang yang bekerjasama dengan Taiwan mengecewakan China karena Negara Matahari Terbit tersebut memiliki hubungan diplomatik hanya dengan China dan mengakui Taiwan sebagai bagian dari Negara Tirai Bambu.

Namun, pada saat yang bersamaan, Jepang tetap menjaga hubungan ekonomi dan kebudayaan yang kuat dengan Taiwan.

Negara pimpinan Shinzo Abe tersebut menandatangani perjanjian dengan Taiwan untuk mengizinkan kapal-kapal nelayan Taiwan beroperasi di zona eksklusif Jepang, yang mencakup kepulauan yang juga diklaim oleh China dan Taiwan.

Jepang menamai perairan tersebut Senkaku, sedangkan China menyebutnya Diayou. Lokasi tersebut kaya akan ikan dan dilaporkan juga memiliki kandungan minyak dan gas yang banyak.

Sengketa wilayah antara China dan Jepang menegang beberapa bulan terakhir. Kedua negara tersebut saling meluncurkan jet tempur dan kapal patroli untuk meningkatkan pengawasan di daerah perairan tersebut.

Hal tersebut memicu kekhawatiran akan terajadinya insiden atau bahkan bentrok militter yang lebih besar.  (ra)

Source : Wike Dita Herlinda/Reuters

Editor : Rustam Agus

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.