RSS FEEDLOGIN

Charles SaerangMemahami kebutuhan perempuan

Peni Widarti   -   Minggu, 06 Mei 2012, 17:12 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Sebagai pemilik dan top eksekutif perusahaan jamu, kecintaan Charles Saerang terhadap obat tradisional itu tak diragukan lagi dan telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Dia rajin mengonsumsi jamu setiap hari sembari berolahraga untuk mempertahankan stamina tubuh.

 
Jangan heran, bagi orang yang baru mengenalnya,siapa sangka bapak dua anak ini ternyata sudah berusia 60 tahun.
 
“Lihat wajah saya, masih kencang dan segar kan? Padahal sudah tua. Semua karena jamu, khasiatnya sudah disadari oleh banyak orang, bahkan mendunia,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.
 
Mempertahankan ritme kegiatannya, mulai dari pekerjaan kantor hingga urusan organisasi yang cukup menyita waktu, Charles mengaku selalu meluangkan waktu untuk berolahraga, salah satunya adalah  lari.
 
Dia tidak sekadar lari di dekat rumah atau di pusat kebugaran. Salah satu kegemarannya adalah mengikuti lomba lari maraton. Mengikuti lomba lari jarak jauh merupakan kegiatan rekreasi baginya dan mempertahankan semangat berkompetisi.
 
“Saya berusaha memiliki waktu untuk mengikuti lari maraton, baik 5 maupun 10 kilometer. Namun, untuk kegiatan triathlon rasanya nggak sanggup karena masih harus berenang dan bersepeda,” tuturnya.
 
Menjadi pemimpin dan pemilik Nyonya Meneer selama puluhan tahun, membuat Charles menyadari masih banyak kekayaan alam Indonesia yang belum digarap dengan maksimal dan memerlukan dukungan besar dari  berbagai pihak.
 
Satu bahan dasar tanaman saja, menurutnya, bisa dikembangkan menjadi banyak produk dan di pa sarkan ke berbagai negara, disesuaikan dengan segmen pasar. Satu bahan tanaman lainnya bisa diminum, dimakan, hingga menjadi bahan spa dan aromaterapi untuk relaksasi. Kekayaan alam Indonesia memang  sungguh menakjubkan.
 
Konflik perusahaan keluarga
 
Sebagai turunan ketiga dari Nyonya Meneer—pendiri pabrik Jamu Nyonya Meneer—ternyata perjalanan karier Charles Saerang jauh dari kata mulus sebelum akhirnya menjadi pemilik dan CEO perusahaan yang dibangun oleh neneknya itu.
 
Banyak menghabiskan waktu bersekolah di luar negeri, Charles dipanggil pulang ke Indonesia oleh sang ayah ketika keluarga menghadapi masa-masa genting.
 
Saat itu, sang ayah terkena pe nya kit kronis yang akhirnya meninggal dunia. Tak lama berselang sang nenek, Nyonya Meneer, juga mengembuskan napas terakhir.Kepergian keduanya membawa ma salah besar bagi perusahaan keluarga.
 
Masuk sejak 1976, Charles merasakan bagaimana pertikaian keluarga membuatnya beberapa kali berhadapan dengan keluarga sendiri di pengadilan.
 
Posisinya di perusahaan pun tidak langsung enak. Charles sempat merasakan dipindah ke berbagai daerah sebagai tenaga pemasaran.
 
Namun, pengalaman itulah yang membuatnya semakin mencintai jamu. Keluarga keturunan Nyonya Meneer pada masa itu terancam pecah hingga permasalahan keluarga berujung ke meja hijau. 
 
Begitu sengitnya pertikaian tadi hingga Menaker saat itu Cosmas Batubara ikut turun tangan. Pemilik tunggal Beruntung kisruh bisnis keluarga bisa terselesaikan. Anggota keluarga yang lain sepakat menjual ke pemilikan sahamnya di Nyonya Meneer kepada Charles hingga pada 1991. 
 
Setelah penyelesaian konflik, Charles langsung menjadi pemilik tunggal sekaligus pimpinan. Charles  memutuskan menggantikan saudaranya yang duduk di bidang operasional menjadi komisaris.
 
Posisi manajemen diserahkan kepada profesional agar perusahaan berjalan lebih fokus dan terhindar  dari konflik internal.
 
Terobosan  Fitofarmaka
 
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan jamu ke luarga yang telah melewati tiga generasi ini berkembang pesat. Jumlah karyawan naik menjadi 3.500 orang dari semula 140 orang. Produknya pun kini mencapai 254 merek dan berhasil dipasarkan ke tiga benua yakni Asia, Eropa, dan Amerika.
 
Nyonya Meneer pada 12 tahun lalu pernah membuat terobosan dengan mengeluarkan produk fitofarmaka bermerek Rheumaneer untuk mengobati penyakit rematik. Fitofarmaka adalah obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan dan lulus uji klinis.
 
Di Indonesia hanya ada lima perusahaan yang menge luarkan fitofarmaka, dan Nyonya Meneer satu-satunya perusahaan jamu, sisanya adalah perusahaan farmasi. Rheumaneer adalah jawaban Charles menanggapi dunia kedokteran terhadap khasiat jamu.
 
Biaya untuk riset hingga menghasilkan produk meng habiskan Rp3 miliar dan memakan waktu 8 tahun. Akan tetapi menjadi bukti bagaimana jamu dapat sejajar dengan obat-obatan kimia.
 
Bagi Charles, mbok jamu dan pedagang jamu kaki li ma yang biasanya memiliki warung kecil, adalah  ujung tombak dari perdagangan jamu Nyonya Meneer.
 
Dia sangat paham pangsa pasarnya, meskipun kini beberapa produknya menyasar segmen menengah atas dan ekspor.
 
 
80% produk untuk perempuan
 
Bertanya mengenai jamu memang paling tepat  menemui bapak satu ini. Dia tidak akan segan menjelaskan  setiap jenis jamu dan khasiatnya, serta apa saja jenis jamu yang Anda butuhkan.
 
Charles juga dikenal mengerti kebutuhan perempuan, bagaimana tidak, sekitar 80% produk Nyonya Meneer menyasar segmen perempuan.
 
Paket lengkap persalinan Nyonya Meneer menjadi senjata banyak perempuan untuk mengembalikan kondisi tubuh pascapersalinan. Ada juga beberapa jamu untuk kesehatan yang banyak dikonsumsi.
 
Charles sendiri saat ini fokus mengembangkan lima bahan dasar, yaitu samiroto, jahe, kencur,  temulawak, dan pegagan. Kelima bahan dasar ini dijualnya sebagai komponen tunggal dalam berbagai jenis produk untuk menembus pasar internasional.
 
“Setiap negara memiliki kegemaran berbeda, sebelum masuk biasanya kami riset. Ada juga pengusaha di sana yang membeli dari kami, mengemasnya ulang dan menjualnya dengan harga jauh lebih mahal tapi  laris diborong konsumen,” ujarnya.
 
Di Malaysia, jamu yang  paling laris adalah jamu yang berkhasiat mengencangkan payudara, sedangkan di Taiwan kebanyakan untuk kesehatan seperti dengan kom­ponen tunggal temulawak dan jahe.
 
Teh temulawak, teh jahe, kopi jahe, atau kopi temu lawak merupakan beberapa produk yang sedang di kembangkannya untuk mendorong peningkatan volume eks por yang kini baru mencapai 10% dari total penjualan Nyonya Meneer.
 
Saat ini pasar ekspor Nyonya Meneer adalah Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda, Arab Saudi, Suriname, dan Australia.
 
Charles baru saja membuat kesepakatan untuk memperluas pasar ke China dan berencana menembus ekspor ke India dan Afrika Selatan.
 
“Potensi besar pasar jamu [sebenarnya] negara di kawasan Timur Tengah. Hanya perlu dukungan pemerintah terkait beberapa izin dan rekomendasi yang diperlukan untuk memperkenalkan produk jamu Indonesia di sana,”  paparnya.
 
Puluhan tahun memimpin Nyonya Me neer, Charles ternyata masih memiliki beberapa ambisi. Selain menyeimbangkan volume ekspor dan penjualan produk di dalam negeri, dia juga mengidamkan meraih total penjualan Rp1 triliun pada 2015.
 
Terkait kompetitor antarpabrik jamu yang banyak terdapat di Indonesia, dia mengaku tidak terlalu  khawatir. Ternyata pangsa pasar mereka sebagian besar berbeda, sehingga kompetitor hampir tidak ada.
 
“Lha kalau ketemu [rekan sesama kom petitor] ka mi tertawa-tawa saja sebab semua punya produk dan pasarnya sendiri-sendiri. Banyak yang sama-sama menyasar perempuan, tetapi produknya beda,”  tuturnya sambil tersenyum.
 
Jamu memang produk khas Indonesia yang tidak le kang dimakan zaman. Nyonya Meneer adalah salah satu  saksi sejarah yang telah membuktikan itu. (sut/fita.indah@bisnis.co.id)
 
 
 
+++ JANGAN LEWATKAN ARTIKEL BERIKUT:

Awas! FBI Sadap Facebook, GMail, YM dan Skype!

ROKOK Bukan Penyebab KANKER?

Ini Dia SAHAM PILIHAN Hari Ini

Baca Koran BISNIS INDONESIA Hari Ini

Editor : Sutarno

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.