Kondisi Bandara Soekarno Hatta Cengkareng (CGK) kini seolah tak mampu lagi untuk menampung pergerakan penumpang yang sekarang telah melampaui 50 juta orang.
Bandara yang pada awal pembangunannya didesain untuk menampung 22 juta penumpang ini memang sedang berbenah. Dalam jangka pendek hingga 2014, sedang dibangun beberapa infrastruktur dan fasilitas yang diharapkan dapat menambah kapasitas bandara.
Untuk mengefisienkan pergerakan pesawat (aircraft movement), beberapa fasilitas yang berhubungan dengan olah gerak pesawat di landasan sedang dibangun. Rapid exit taxiway ditambah agar pesawat bisa segera meninggalkan runway sehingga durasi waktu pesawat berada di runway bisa minimalkan sehingga kapasitas runway dapat dioptimalkan.
Tentunya semua ini harus pula dibarengi dengan upaya memodernisasi peralatan navigasi, menerapkan prosedur navigasi yang mutahir dan pengembangan sumber daya manusia ATC controller yang mumpuni.
Hal yang berkaitan dengan navigasi ini diharapkan dapat segera diwujudkan melalui pembentukan lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (PPNPI), serta pembangunan dan modernisasi Jakarta Aviation Air Traffic Services (JAATS) dan Makassar Aviation Air Traffic Services (MAATS).
Di samping rapid exit taxiway juga akan dibangun tambahan cross taxiway yang akan menghubungkan dua runway Utara dan Selatan, di sisi Timur area bandara. Sementara itu, Terminal 3 akan dikembangkan agar mampu menampung 25 juta penumpang, sedangkan Terminal 1 dan Terminal 2 akan diperluas boarding lounge-nya. Nantinya, semua terminal akan saling terhubung melalui alat angkut nir awak (automated people mover), seperti halnya kereta otomatis yang ada di Bandara Singapura.
Menariknya, pembangunan gedung utama yang berada di tengah antara Terminal 1 dan Terminal 2, akan menjadi ruang publik bagi para pengunjung bandara. Di gedung ini selain tersedia pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hiburan, juga terdapat stasiun transportasi antarmoda berikut tempat parkir kendaraan, bus dan kereta api. KA bandara jalur komuter sedang dikebut pembangunannya sehingga ditargetkan dapat mulai beroperasi pada 2014.
Untuk itu, tim koordinasi yang terdiri dari PT Kereta Api Indonesia, Ditjen Kereta Api, Angkasa Pura II, pemprov dan pemda serta instansi terkait sedang bekerja keras untuk mengikuti master schedule yang ada.
Kejenuhan di Heathrow
Kepadatan lalu lintas di bandara internasional ternyata tidak hanya terjadi di Cengkareng. Bandara London Heathrow juga mengalami kondisi serupa.
Sama halnya dengan situasi di Jakarta, lalu lintas udara dan jumlah penumpang di Bandara Heathrow mulai memperlihatkan kejenuhan.
Antrean penumpang saat check in maupun antrean pesawat saat take off dan landing (holding pesawat di udara) merupakan pemandangan sehari-hari. Meskipun Greater London dilayani oleh sembilan airport, proyeksi penumpang udara memperlihatkan bahwa tiga airport utama yakni Heathrow, Gatwick dan Stansted akan mengalami titik jenuh pada dekade mendatang.
Situasi ini memicu debat di antara para pemangku kepentingan di Inggris yang mengarah pada tiga opsi. Pertama, tidak menambah kapasitas sama sekali dengan alasan proteksi terhadap lingkungan hidup dan anggapan bahwa multi airport system yang ada masih mampu menampung proyeksi jumlah penumpang.
Kedua, membangun bandara baru di muara Sungai Thames senilai 50 miliar pound sterling, yang juga sering disebut dengan Boris Island (karena Wali Kota London Boris Johnson mengusulkan untuk mereklamasi muara dan membangun semacam pulau).
Sementara itu, opsi ketiga, membangun tambahan runway (runway ketiga) di Bandara Heathrow, termasuk menghubungkan Heathrow dan Gatwick dengan kereta api cepat (Heath-wick).
Namun, opsi ketiga berupa penambahan runway ketiga di Heathrow senilai 5 miliar poundsterling ini tidak didukung oleh pemerintahan saat ini. Penolakan tersebut membuat banyak pihak khawatir Inggris akan kehilangan daya saing sebagai hub penerbangan internasional di Eropa.
Terkait dengan pengembangan infrastruktur Bandara Cengkareng, dalam jangka pendek hingga 2014, proyek ini akan mampu meningkatkan kapasitas hingga 62 juta penumpang per tahun.Namun, langkah itu tidak akan mampu menjawab proyeksi jumlah penumpang di Jabodetabek yang diperkirakan mencapai 64 juta pada 2016.
Oleh karena itu, terdapat dua pilihan kebijakan. Pertama, membangun runway ketiga di Bandara Cekangkreng (berikut pembangunan Terminal 4) yang lokasinya berada di sebelah utara runway yang ada.
Luas tanah yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 740 hektare dengan estimasi biaya pembebasan lahan berkisar Rp4 triliun. Saat ini, lahan yang akan menjadi calon lokasi proyek dihuni oleh sekitar 2.000 kepala keluarga.
Opsi kedua adalah membangun bandara baru dengan kemampuan pengembangan hingga empat runway dan memiliki kapasitas hingga 90 juta penumpang per tahun.
Perkiraan awal estimasi biaya bandara baru ini mencapai Rp30 triliun, yang dikerjakan secara bertahap seiring dengan pertumbuhan penumpang dan barang.
Beberapa Parameter
Saat ini, dilakukan studi secara detail tentang lokasi yang mengarah pada area di sebelah timur Jakarta, di sekitar Karawang. Beberapa parameter yang dipakai untuk menentukan lokasi di antaranya adalah daya dukung lingkungan, tidak mengganggu area persawahan yang ada, kesesuaian tata ruang, ketersediaan ruang udara, dan aksesibilitas lokasi.
Dalam sistem multibandara, maka bandara baru dan Bandara Cengkareng haruslah terhubung dengan akses jalan dan kereta api sehingga transfer antar bandara bisa dilakukan secara efisien.
Lokasi di timur Jakarta dianggap cukup ideal untuk memecah konsentrasi lalu lintas bandara sehingga tidak terpusat ke arah Cengkareng semata. Selain itu, pemilihan lokasi di sekitar Karawang juga memungkinkan tumbuhnya klaster logistik di Karawang-Cikarang yang mencakup pelabuhan baru Cilamaya, bandara baru, dan kawasan mega-industri di sekitarnya.
Salah satu aspek yang perlu diwaspadai dalam proyek tersebut yakni keberadaan area persawahan yang saat ini menjadi penopang utama bagi wilayah Karawang dan sekitarnya sebagai lumbung padi nasional.
Namun, kebutuhan untuk membangun bandara baru tersebut menjadi keniscayaan dalam mengantisipasi pertumbuhan penumpang udara di Jabodetabek, sehingga harus segera diputuskan waktu (timing) pembangunannya.
Membangun bandara baru di area baru (green field project) berkecenderungan akan memakai konsep aerotropolis (kota bandara) yaitu konsep kerja sama pemerintah dan swasta (public private partnership) akan diaplikasikan untuk membangun kota beserta isinya.
Soal opsi mana yang akan diambil tentunya akan sangat bergantung pada cost benefit analysis dari kedua pilihan ini. Diperlukan kehati-hatian dalam memilih opsi mengingat biaya yang diinvestasikan sangat besar.
Meskipun demikian kecepatan pengambilan keputusan sangat diperlukan agar kita tidak selalu terlambat dalam mengantisipasi kebutuhan infrastruktur pada masa depan.
Source : Bambang Susantono - Wakil Menteri Perhubungan
Editor : Sitta Husein
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.