RSS FEEDLOGIN

BOM DEPOK: Pukulan Bagi Akademisi UI. Anda sepakat?

ahmad kusumadijaya   -   Minggu, 09 September 2012, 17:19 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

JAKARTA: Depok makin terkenal setelah terjadi ledakan bom rakitan di dekat jalan Kecipir, Perumahan Depok Utara, (bukan di Jalan Nusantara Depok I yang selama ini ditulis banyak media), namun itu merupakan pukulan bagi intelektual kota pendidikan itu.Staf pengajar FISIP Universitas Indonesia Rissalwan Habdi Lubis menjelaskan bahwa ikatan sosial di masyarakat makin melemah sehingga kian mudah teroris menyusup langsung ke masyarakat. "[Ketua] RT mestinya lebih tahu lebih dahulu jika ada orang bukan warganya yang tinggal di lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya," katanya kepada Bisnis, Minggu (9/9/2012).Memang, katanya, saat ini di Depok tidak ada lagi peringatan bahwa tamu 2x24 jam harus melapor kepada ketua RT setempat. "Sebaiknya tidak harus ditulis, tapi [kesadaran] harus melapor dari warga setempat itu mestinya muncul."Menurut dia, ketua RT harus curiga ada orang asing. "Itu karena ketua RT hanya menjalankan tugas fungsional saja. Masih untung [teroris] tak memakai kos-kosan mahasiwa," ujarnya geram.Kasus peledakan di Depok, kata Lubis, juga mencerminkan bahwa intelektual UI masih belum membumi dan berjarak dengan masyarakat. Hal itu juga dikeluhkan oleh pemerintah derah bahwa akademisi tidak mau menyentuh daerah setempat."Mereka [akademisi UI] maunya ke Jakarta dan mengangkat isu internasional dan isu [pemerintahan] pusat."Lubis menjelaskan bahwa kabar baiknya adalah saat ini politisi dan pejabat pemerintahan Depok mulai banyak yang sekolah di UI, sudah buka jalan sehingga birokrat nantinya bisa berkualitas.Di tempat terpisah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengungkapkan bahwa selain menyita barang bukti bahan peledak dan senjata api di lokasi ledakan di Depok, polisi juga menemukan surat wasiat. Isi surat wasiat itu tentang pesan dari terduga pembuat bom rakitan kepada keluarganya. (foto: lensaindonesia/LN) 

Editor :

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.