Ketika didaulat menjadi pemuncak Bank BNI, Gatot Suwondo mewarisi kinerja bisnis yang relatif stabil. Artinya Bank BNI tidak dalam posisi puncak, namun juga tidak menunjukkan diri sebagai bank pelat merah yang terjerembab dalam krisis multidimensi.Bank BNI masih menjadi salah satu bank raksasa di Indonesia. Namun melihat kecenderungan yang terjadi, Bank BNI sebelum era Gatot Suwondo perlahan-lahan memperlihatkan diri mengalami keterengah-engahan menghadapi persaingan antarbank yang semakin sengit.Dua bank yang setingkat dengan Bank BNI-BCA dan BRI-berlari kencang dan pada sebuah titik menyalip laju Bank BNI. Dengan demikian kedudukan Bank BNI dari sisi aset maupun profit, tidak lagi berada pada posisi nomor dua di bawah Bank Mandiri. Malah keuntungan Bank BNI jauh dari yang diharapkan. Dalam kondisi seperti ini Gatot Suwondo mulai memimpin Bank BNI.Ketika ditunjuk menjadi CEO Bank BNI, banyak pihak meragukan kemampuan Gatot Suwondo. Namanya nyaris tidak pernah beredar di publik. Hanya kalangan tertentu saja yang kenal dan memahami kemampuan kepemimpinan Gatot Suwondo. Dalam posisi demikian ini merupakan tantangan pertama yang dihadapi oleh Gatot Suwondo.Tantangan berikut yang tak kalah berat, Bank BNI merupakan bank milik pemerintah di mana aneka kepentingan bermain di dalamnya. Lebih menyedihkan lagi, seperti halnya dengan BUMN lainnya, sering aneka kepentingan tersebut tidak berhubungan langsung dengan aktivitas bisnis yang menunjang kinerja organisasi.Strategi kepemimpinan apa yang dilakukan oleh Gatot Suwondo dalam mengelola Bank BNI menjadi bank prestisius kebanggaan karyawan dan lebih jauh lagi, bangsa? Jack Welch, CEO terbaik sedunia abad 20, merumuskan ada tujuh program yang layak dijalankan oleh pemimpin untuk meningkatkan kinerja organisasi secara signifikan, yaitu: (1) Membangun visi untuk berbisnis, (2) Mengubah budaya untuk meraih visi, (3) Membentuk organisasi yang ramping, (4) Mengurangi birokrasi, (5) Memperkuat individu pekerja, (6) Menambah kualitas dan efisiensi, (7) Mengurangi sekat-sekat antar divisi.Hampir setiap perusahaan selalu merumuskan visinya dengan penuh percaya diri dan cita-cita nan tinggi. Hal demikian baik adanya. Namun visi tersebut hanya berhenti sebatas visi semata apabila spirit bisnis tidak ada di dalamnya. Agar tidak terjebak pada formalitas visi, Gatot Suwondo memberi spirit di dalamnya. Secara sederhana, visi a la Gatot Suwondo adalah membawa kembali Bank BNI menjadi bank prestisius di Tanah Air dengan pencapaian laba berkesinambungan. Selanjutnya memperkuat kiprah Bank BNI di kancah regional dan sejajar dengan bank milik negara tetangga seperti Bank UOB, OCBC, Maybank, CIMB atau Bangkok Bank.Budaya perusahaanVisi yang memiliki spirit bisnis ini akan menjadi aplikatif dan mudah dicapai apabila didukung oleh budaya perusahaan nan kuat. Dalam konteks budaya perusahaan, Bank BNI relatif tidak mengalami persoalan serius. Budaya perusahaan Bank BNI sudah merasuk ke dalam alam bawah sadar para karyawannya dan membentuk karakter dan perilaku mereka.Bisa dikatakan Bank BNI merupakan bank lokal yang mempelopori profesionalisme dalam mengelola perusahaan (bank). Namun karena tidak dipelihara dengan konsisten, alhasil profesionalisme karyawan Bank BNI mengalami penurunan. Kiat apa yang dilakukan oleh Gatot Suwondo untuk mengembalikan kembali profesionalisme karyawan Bank BNI? Ternyata sederhana: Gatot Suwondo berpikir profesional, bersikap profesional dan bertindak profesional. Alhasil pikiran, sikap dan tindakan profesional Gatot Suwondo meluncur ke bawah, mempengaruhi seluruh bawahannya. Budaya profesional Gatot Suwondo menjadi budaya profesional seluruh warga Bank BNI.Dapatkah gajah menari dengan lincah dan memukau para penontonnya? Bank BNI bisa diibaratkan seperti gajah. Gajah (besar) dalam sisi aset, jumlah karyawan, kantor cabang dan unit pelayanan lainnya. Dalam rimba raya bank yang penuh persaingan, jelas gajah ini diharapkan lincah dan adaptif. Jack Welch memberi resep agar organisasi yang sudah terlanjut besar tetap lincah dan gesit dalam beroperasi, melalui dua cara, yaitu mengurangi birokrasi dan mengurangi sekat-sekat antardivisi. Resep ini yang dijalankan oleh Gatot Suwondo.Nuansa birokrasi sedikit banyak masih diidap oleh Bank BNI lantaran dirinya sendiri tak lain entitas bisnis bernama BUMN. Birokrasi yang sering menghambat untuk berekspansi dan berkreasi hanya bisa dicairkan oleh pemimpin tertingginya manakala sang pemimpin bersikap egaliter. Sikap ini yang ditunjukkan dan dijalankan oleh Gatot Suwondo. Hubungan dengan bawahan tidak berhenti pada tingkat direksi dan manajerial saja. Gatot Suwondo rajin berdialog dengan para staf, hingga staf yang berhadapan langsung dengan nasabah (front liner). Keangkeran sosok direksi BUMN diubah menjadi sosok yang akrab lagi melindungi.Keegaliteran Gatot Suwondo ini yang kemudian berpengaruh pada pencairan ego sektoral (divisi) yang dulu diidap oleh divisi-divisi yang ada di tubuh Bank BNI. Lha, bagaimana Bank BNI ingin bersaing dengan bank besar lainnya, baik lokal maupun multinasional, manakala antardivisi yang ada pada internal organisasi tidak solid? Bagaimana katakanlah divisi pemasaran mau berpromosi gencar bila dukungan dari divisi teknologi bersifat minim dan setengah-setengah? Sekat-sekat antardivisi ini yang kemudian disatukan menjadi jauh lebih solid oleh Gatot Suwondo menjadi satu tim bernama tim BNI.Bank adalah bisnis yang menjual jasa. Selain jaringan-baik bersifat konvensional bernama kantor cabang maupun modern disebut tehnologi informasi-hampir semua produk yang ditawarkan bank kepada nasabah bisa disebut sama. Yang membedakan hanya tunggal; orang-orangnya. Orang (karyawan) akhirnya menjadi garda depan bagi bank untuk memenangkan persaingan.Berbasis pada konsep ini, Gatot Suwondo semakin peduli pada pengembangan karyawan. Pusat-pusat pelatihan milik Bank BNI yang di masa lalu menjadi pusat pelatihan terbaik, mulai direvitalisasi dikembalikan kepada kejayaan masa lalu. Kerjasama dengan berbagai lembaga prestisius dilakukan untuk membawa kembali Bank BNI sebagai lembaga perbankan nan prestisius. Tokoh-tokoh kelas dunia, mulai dari Michael Porter hingga Stephen Covey diundang untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada karyawan Bank BNI. Tujuannya tak lain menjadikan insan Bank BNI menjadi bankir profesional berkelas dunia dengan sentuhan Indonesia.Pencapaian Gatot Suwondo bisa disebut luar biasa. Menjadi sebentuk kewajaran apabila berbagai lembaga mengganjar Bank BNI dengan aneka penghargaan. Termasuk penghargaan kepada Gatot Suwondo sebagai CEO terbaik di Indonesia. (tw)
*) AM Lilik Agung adalah Trainer bisnis, pembicara publik. Mitra Pengelola LA Learning.
*) Tulisan ini diadopsi dari harian Bisnis Indonesia. Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.
Source : A.M. Lilik Agung
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.