BISNIS.COM, SURABAYA – Meskipun mengalami pembengkakan biaya operasional produksi yang cukup tinggi, pengusaha kafe dan restoran tetap melakukan ekspansi ke sejumlah daerah di Tanah Air sepanjang tahun ini.
Sekretaris Jenderal Apkrindo Mufid Wahyudi mengatakan kelonjakan biaya operasional produksi tersebut disebabkan a.l kenaikan tarif dasar listrik (TDL), LPG, kenaikan upah minimum kota/kabupaten, kenaikan bahan bakar minyak (BBM), pembatasan beberapa jenis hortikultura, dan kelangkaan beberapa jenis hortikultura.
“Pada 4 bulan ini kelonjakan biaya operasional produksi karena beberapa hal itu memang cukup tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena waktunya yang bersamaan. Tetapi, kami tetap harus melakukan ekspansi karena kalau tidak bisa digantikan dengan kafe dan restoran yang lain,” ujar Mufid, Jumat (19/4/2013).
Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang besar di Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial yang sedang dilirik oleh beberapa negara. Banyak pemilik kafe dan restoran asing yang mencari peluang di Tanah Air.
“Kalau kami tidak bergerak, maka bisa tergantikan oleh mereka. Empat bulan ini kenaikan biaya operasional mencapai 20%, tetapi kami hanya menaikkan harga makanan 10%-15%. Jadi margin yang kami dapatkan memang cukup tipis,” imbuhnya.
Dia menuturkan pihaknya juga harus menghadapi kondisi beberapa pabrik yang kesulitan keuangan sehingga berimbas pada karyawan mereka, padahal pasar dari kafe dan restoran adalah karyawan itu.
“Jika tidak ada faktor yang memicu kenaikan seperti dalam 4 bulan ini yang waktunya bersamaan, kami juga menaikkan harga makanan karena ada biaya produksi yang naik. Tetapi paling maksimal 10%,” ungkapnya.
Ketua Apkrindo Jatim Tjahjono Haryono mengatakan potensi pengembangan bisnis makanan dan minuman di provinsi ini cukup potensial karena Jawa Timur memiliki beragam jenis makanan khas dan sifat khas masyarakatnya yang suka berburu makanan.
"Banyak pengusaha kafe dan restoran dari luar Jawa Timur yang mengincar masuk ke Jawa Timur karena itu. Selain dari masyarakat Jawa Timur sendiri, banyak juga masarakat dari luar Jawa Timur yang ingin mencoba menikmati kuliner disini," ujarnya.
Ketua Umum Apkrindo Eddy Susanto mengatakan kenaikan TDL pada pelanggan 1300 VA ke atasdan LPG menjadi tantangan yang harus dihadapi para pelaku usaha. Menurutnya, kenaikan TDL dan LPG tersebut memberikan kontribusi 15% terhadap total biaya produksi.
"Kenaikan dua komponen ini sangat terasa dampaknya bagi pengusaha kelas menengah atas. Nemun, terkait dengan penaikan upah minimum provinsi tidak semua terkena getahnya. Bagi restoran dengan skala kecil justru memperoleh berkah karena daya beli konsumen mereka bertambah," ujarnya.
Dia menambahkan kafe dan restoran selalu mempunyai prospek yang bagus yang diindikasikan dengan banyaknya brand yang muncul. Hal ini jangan sampai membuat pelaku usaha menjadi lengah mengingat persaingan semakin ketat. Apalagi, jumlah pengusaha baru lebih banyak dibandingkan pengusaha yang sudah lama. (faa)
Editor : Fahmi Achmad
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.