JAKARTA: Bank Indonesia memproyeksikan inflasi bulanan Juli 2012 sebesar 0,65% atau hanya naik sedikit dari inflasi Juni yang sebesar 0,62%. Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi Johansyah menjelaskan proyeksi tersebut berdasarkan tren pergerakan inflasi di bulan puasa sepanjang 2002—2011. “Secara historis rata-rata inflasi Juli 0,65%. Kami melihat perkembangan sampai saat ini tidak berbeda dengan historisnya,” katanya, Selasa (24/7). Dia mengatakan kenaikan harga beberapa bahan pangan menjelang dan pada awal Ramadan tahun ini merupakan gejolak mingguan yang terjadi setiap tahun. Difi menambahkan gejolak harga pangan beberapa pekan terakhir didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan global akibat kendala produksi di beberapa negara penghasil utama.“[Inflasi Juli] bisa tumbuh sedikit di atas 0,65% karena kebetulan ada gejolak di luar negeri, tapi tidak besar karena bobotnya kecil,” katanya. Dia menjelaskan harga pangan impor seperti kedelai, gandum dan jagung hanya memiliki pengaruh sekitar 8% dari indeks harga konsumen di Indonesia. Bank Indonesia optimistis tren penurunan harga komoditas global, harapan atas inflasi yang membaik dan respons pasokan terhadap permintaan yang memadai bisa mempertahankan inflasi 2012 sesuai target yaitu 3,5%—5,5%. Difi mengatakan risiko pengaturan tata niaga impor hortikultura dan penaikan harga LPG pada September 2012 hanya akan berpengaruh kecil pada inflasi tahun ini.
Editor :

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.