Menjadi entrepreneur makin hari semakin tidak mudah, kalau paradigma yang digunakan adalah model berbisnis tradisional. Tapi di era media sosial seperti sekarang ini, berwirausaha bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena peraihan konsumen dalam jumlah besar dapat dicapai dalam jangka cepat dan tentu saja hasil yang dicapai pun dapat luar biasa.
Tidak percaya? Lihat, misalnya, bagaimana Jeff Bezos yang dalam hitungan belasan tahun menjadi miliarder dunia, dengan akumulasi kekayaan sekitar US$23 miliar. Sumber kekayaannya bermula dari hanya berjualan buku secara online melalui toko daring Amazon.com, yang kini menjadi raksasa ritel terkemua di planet kita ini.
Masih banyak contoh yang kiranya terlalu banyak disebut di kolom yang relatif sempit ini. Tapi, intinya, model usaha masa sekarang sudah sangat berbeda dibandingkan dengan priode awal 1990-an saat Internet masih dalam fase tumbuh-kembang. Korporasi besar yang tidak—ataupun terlambat—mengantisipasi dan/atau memanfaatkan fenomena teknologi informasi tersebut ternyata bernasib nahas pada akhirnya.
Ciri yang menandai perusahaan di era sosial media ini adalah mereka (harus) makin memiliki kedekatan (dan pendekatan) yang intens dengan konsumennya. Perusahaan harus memiliki kepekaan makin tinggi untuk mendengar apa pun omongan konsumen, kalau tidak ingin memperoleh omelan orang sejagat, termasuk mereka yang bukan customer langsungnya.
Tingkat kedekatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah berbisnis inilah yang menciptakan pola hubungan baru antara dunia usaha dan stakeholders-nya yang kemudian berevolusi menjadi sosiopreneurship alias entrepreneurship yang berbasis (atau memiliki dimensi) sosial, bukan bisnis semata.
Ini fenomena yang kian mendunia, yang kemudian ditangkap antara lain oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa—waktu itu, 2004—Kofi Annan sebagai dasar pembentukan gerakan kekompakan sejagat atawa United Nation Global Compact. Gerakan ini memperoleh dukungan luas dari segenap pelaku usaha, termasuk kalangan entrepreneurs, di banyak negara. Indonesia pun tak terkecuali.
Penggalangan dunia usaha ini oleh PBB dimaksudkan sebagai mitra strategis untuk membantu menyukseskan berbagai program yang telah digariskan dalam Millennium Deelopment Goals (MDGs). Untuk gampangnya, kira-kira begini gambarannya. PBB memiliki keprihatian bahwa banyak negara tidak bakal mampu memenuhi sasaran pembangunan milenium yang sudah disusun capek-capek oleh para anggotanya itu.
Tampaknya, PBB yakin bahwa banyak pemerintahan di sejumlah negara hanya mampu bersikap omdo alias omong doang untuk meluluskan MDGs itu. Karena memang terbukti bahwa pembangunan berkelanjutan, penghapusan kemiskinan, penurunan polusi, dan sebagainya yang menjadi poin MDGs itu sebagian besar meleset.
Pelibatan kaum pengusaha ini ternyata tidak sia-sia, mengingat kedekatan mereka dengan komunitas. Tidak sedikit program yang difasilitasi oleh Indonesia Global Compact Network, misalnya, cukup efektif untuk menjembatan kebuntuan yang selama ini terjadi ketika program pemerintah kurang mampu menembusnya.
Minimal bagaimana meningkatkan kepedulian bangsa terhadap berbagai program yang berorientasi pada kepentingan masyarakat sehingga pemerintah lebih concern terhadapnya.
Dalam pertemuan bertajuk Private Sector Leadership Roundtable Post-2015 Development Agenda di kawasan Nusa Dua Bali pekan ini, sikap paling mengemuka dari kalangan dunia usaha adalah betapa masih besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dalam memenuhi Sasaran Pembangunan Milenium tersebut.
“Lha gimana, kami sebenarnya pengen bergerak lebih jauh sehingga skala usaha kami dapat meningkat jauh lebih besar. Sayangnya, hambatannya tidak sedikit. Hal itu terjadi antara lain karena masalah kepastian hukum di negeri ini yang serba tidak jelas,” ujar seorang pengusaha senior.
Padahal dengan skala usaha lebih besar yang diyakininya dapat dicapai, menurutnya, hal itu berarti akan memperbesar pundi-pundi pemerintah dari sisi pajak maupun pungutan resmi lainnya serta peningkatan kegiatan prolingkungan sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka sebagai entitas usaha.
Para pemimpin usaha sektor swasta tadi selama ini telah membuktkan kiprah mereka untuk meningkatkan peran serta dalam membantu meringankan beban pemerintah, termasuk ikut membangun sarana dan prasarana pendidikan, peningkatkan gizi warga sekitar tempat usaha, peningkatan kualitas lingkungan untuk membantu memperbaiki taraf hidup masyarakat.
“Kami ini kok lama-lama merasa seperti pemerintah saja, karena makin banyak ikut menjalankan program yang seharusnya menjadi tanggung jawab birokrat. Padahal, kami kan sudah membayar pajak yang sebenarnya dimaksudkan agar dikelola secara efektif pemerintah untuk kemudian dimanfaatkan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Tapi, ternyata banyak program yang tidak tepat sasaran. Akhirnya, kami lagi yang turun tangan karena kami peduli,” tutur seorang pengusaha di bidang produk kesehatan.
Keseriusan kaum pebisnis maupun wirausahawan dalam ikut memikirkan program pembangunan global pasca-2015 itu layak diapresiasi, mengingat mereka lah yang nantinya akan turut mengawal keberhasilan rencana besar nan mulia tersebut. Namun, di sisi lain, pemerintah hendaknya memberikan juga kepastian agar mereka dapat mengembangkan usaha secara layak berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Masalahnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini bukan masa yang mudah untuk doing business di Indonesia akibat berbagai hal, termasuk di antaranya adalah banyaknya pungutan—baik resmi maupun yang liar—yang tentu saja kian membebani usaha mereka. Selain itu, akibat inefisiensi di sektor transportasi menjadikan harga produk yang dihasilkan oleh pengusaha nasional menjadi kurang kompetitif dibandingkan dengan produk sejenis dari negara lain.
Padahal, di era informasi yang terbuka lebar seperti sekarang, produsen seluruh dunia berlomba-lomba untuk menjual dengan harga paling kompetitif, karena mereka menghadapi konsumen yang sama yakni warga global. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
Source : bisnis indonesia
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.