RSS FEEDLOGIN

BERANDA: Mendambakan Bermunculannya Energreenpreneur

Ahmad Djauhar   -   Minggu, 06 Januari 2013, 17:54 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

“Jadi apa usulan konkret Saudara tentang ba­­gai­mana mengamankan kepentingan energi bagi negara kita. Saudara kan terampil mengangkat persoalan yang bia­sa­nya sekadar menjadi wacana di media, tapi kali ini saya minta Sau­dara memberikan solusi yang riil dan aplicable bagi bangsa kita,” ujar sebuah suara yang sayup-sayup makin jelas di telinga saya.

Suara itu, bagiku, sangat tidak asing. “Oh... Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rupanya,” saya membatin dan sempat merasa gelagapan untuk sesaat.

ENERGI TERBARUKAN


“Eee... Salah satu upaya yang riil dan sangat layak ditempuh adalah menumbuhkembangkan kewira­usa­haan di bidang energi terbarukan atau green energy alias energreenpreneur. Ini adalah strategi mendorong sebanyak mungkin warga negara kita menjadi peng­usaha energi nonkonvensional, hingga skala rumah tangga bila per­lu. Caranya, adalah dengan men­jadikan setiap rumah di negeri ini sebagai produsen energi. Kalau rakyat mulai mandiri dalam pe­­me­nuhan kebutuhan energinya, saya yakin akan bermunculan barisan pengusaha baru yang memiliki ke­­mandirian ekonomi tinggi,” jawab saya sambil mencoba meyakinkan.

“Coba jelaskan lebih detail mak­sud Saudara,” timpal Pak SBY seakan tidak sabar.

“Begini, Bapak Presiden. Kita ini kan hidup di wilayah khatulistiwa yang berkelimpahan energi berupa sinar matahari dan angin yang tersedia sepanjang tahun. Kalau pe­­me­rintah mampu menyediakan pe­­ranti penangkap energi matahari dan/atau angin itu dengan harga terjangkau, dapat dipastikan program swasembada energi itu tercapai. Kenapa potensi energi amatdahsyat ini tidak kita optimalkan pemanfaatannya, malah kita menghambur-hamburkan anggaran un­­tuk subsidi energi yang harganya makin mahal itu,” kata saya.

“Padahal, kalau kita bisa menangkap dan memanfaatkan energi surya dan bayu itu, alih-alih pemerintah mengalami defisit akibat nomboki subsidi BBM yang kian membengkak tersebut, APBN kita justru akan berlebih karena neraca energi Indonesia dipastikan surplus. Sebab, kita bisa mengekspor lebih banyak minyak dan gas yang selama ini kita konsumsi itu,” ujar saya dengan mantap.

“Bagaimana Saudara begitu yakin bahwa program seperti itu akan berhasil,” lanjut Presiden Yudhoyono dengan mimik penasaran.


“Bapak waktu didampingi Pak JK [Wakil Presiden Jusuf Kalla] kan pernah berhasil dengan gemilang melakukan program transformasi pemanfaatan energi oleh masyarakat pengguna minyak tanah ke kompor gas elpiji. Setelah program itu dijalankan, kan banyak yang happy... Beberapa tahun kemudian muncul puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan usaha skala mikro-kecil-menengah yang mengandalkan gas elpiji. Kalau strategi serupa ditempuh untuk energi matahari dan angin, Pak Presiden, saya yakin akan lebih efektif membangkitkan minat siapapun untuk menjadi pengusaha energi terbarukan di negeri kita,” ucap saya penuh harap.

“Hmm.. boleh juga usulan Saudara. Tolong Pak Menteri Koordinator Perekonomian dan Pak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengkaji masukan ini,” komentar Presiden SBY singkat dan berwibawa, seperti biasanya.

“Mohon maaf, Pak Presiden. Jangan sekadar dikaji. Ini upaya yang sangat layak dicoba, mengingat pendekatannya sangat riil, seriil implikasinya bagi perekonomian nasional. Dan subsidinya pun hanya sekali, tidak setiap tahun seperti terjadi selama ini. Yang jelas ini bukan praktik tipu-menipu, karena komponennya jelas... Nyata.. Saya masih ingat waktu Bapak Presiden dengan semangat menjelaskan tentang Blue Energy di sela-sela Pertemuan Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam di Dakar, Senegal, pada 2008 silam waktu saya mengikuti rombongan Bapak, ternyata kan kita semua sebagai bangsa yang besar begini kena tipu daya orang-orang yang tak bertanggung jawab itu...” ujar saya dengan bangga, tapi mendadak saya merasa menyesal dengan kalimat yang rasanya tidak patut diungkapkan di depan pemimpin dari 245 juta penduduk Indonesia itu.

GUBRAKKK...


Belum selesai menyesali kalimat yang saya sampaikan tersebut, tiba-tiba... Gubrakkk... Pandangan mata saya nanar dan berangsur-angsur sadar bahwa saya baru saja jatuh dari tempat tidur. Ternyata saya bermimpi diundang (lagi) oleh Presiden Yudhoyono ke kantor Kepresidenan—bersama sejumlah tokoh—untuk diminta masukan kami dalam upaya pemerintah untuk menyusun kebijakan di sektor energi.

Saya pun langsung duduk tercenung mengingat rentetan mimpi barusan, yang seolah-olah nyata, senyata kejadian beberapa tahun silam ketika kami—sejumlah pemimpin media massa—diundang beneran oleh Presiden SBY untuk memberikan masukan bagi calon Gubernur Bank Indonesia dan akhirnya terpilihlah Pak Boed(iono) yang kini Wakil Presiden itu.

Saya langsung merasa bersyukur bahwa itu tadi ternyata sekadar mimpi, yang kata orang merupakan bunga tidur. Karena kalau benar saya menyampaikan dalam forum yang mulia seperti itu, ah betapa lancangnya saya ini. Tapi, tunggu dulu, saya rasa substansi pemikiran yang saya sampaikan kepada Presiden Yudhoyono tadi, kendati hanya dalam mimpi, tidak naif betul dan saya kira workable.

Ingatan pun melayang bahwa beberapa hari sebelumnya, saya membaca artikel di majalah Popular Mechanics tentang bagaimana sekelompok warga di sebuah wilayah di AS yang mencoba menjadi produsen energi skala rumah tangga itu. Alih-alih menjadi konsumen daya listrik, mereka kini malah berstatus menjadi pengusaha energi tersebut secara tidak langsung, karena ketika penggunaan daya listrik di rumah tidak optimal, mereka dapat menjualnya ke jaringan PLN setempat.

Padahal, kawasan tempat tinggal mereka tidak sepanjang tahun menikmati curahan sinar mentari, mengingat beberapa bulan dalam setahun matahari tidak menyinari kawasan itu karena musim dingin yang tak jarang bersalju beberapa pekan lamanya.

Artinya, inilah peluang bagi rakyat Indonesia untuk menjadi pengusaha energi terbarukan dengan sendirinya. Kalau saja peranti energi pengubah sinar surya menjadi energi listrik itu dapat diproduksi secara massal, niscaya akan terjangkau oleh banyak keluarga di negeri ini. Ini benar-benar mimpi yang seharusnya dapat diwujudkan. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
 

Editor : Lahyanto Nadie

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.