RSS FEEDLOGIN

Begini caranya membuat konsumen loyal

Adhitya Noviardi   -   Kamis, 16 Februari 2012, 22:48 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

 

JAKARTA: Ingin mengubah teman biasa menjadi seorang sahabat sejati atau soulmate? Butuh waktu dan usaha untuk mencapainya. Begitu juga dengan menciptakan konsumen yang loyal dan dekat dengan suatu brand.

 

“Menciptakan konsumen yang dekat dengan brand, tidak mudah. Semua itu harus direncanakan dan diusahakan oleh pemilik merek,” kata Amalia E. Maulana, saat peluncuran buku terbarunya berjudul Brandmate: Mengubah Just Friends menjadi Soulmates,” di Jakarta Kamis 16 Februari.

 

Menurut doktor lulusan School of Marketing, University of New South Wales, Australia ini, selama ini ada salah persepsi tentang branding dengan markom (marketing communication).

 

“Seringkali branding dipersepsikan sama dengan markom. Jadi disangka branding adalah kegiatan marcom, yaitu seputar pembuatan logo, slogan, pameran, spanduk, iklan, dan event saja,” ujar pendiri dan Direktur Etnomark Consulting ini.

 

Padahal, lanjutnya, pengertian branding lebih luas dari itu semua. “Bahkan, marcom hanya salah satu dari kegiatan dalam branding. Branding mencakup bagaimana proses pencapaian cita-cita perusahaan melalui berbagai kegiatan, dan bukan marcom saja,” kata Amalia yang juga seorang brand consultant and ethnographer ini.

 

Menurut dia, perlu riset mendalam dan pemahaman tentang konsumen dalam branding ini. Selama ini, lanjutnya, banyak perusahaan yang hanya mengandalkan asumsi saja tentang konsumen.

 

“Tanpa riset yang mendalam, termasuk dengan studi etnografi,maka perusahaan akan terus berada pada situasi gambling dalam spending uang perusahaan melalui badget marcom-nya,” ungkap Amalia pada talkshow bukunya yang dimoderatori oleh Andy F. Noya itu.

 

Masalah brand  dan proses penciptaan soulmate itu, dijabarkan oleh Amalia dalam buku setebal 231 halaman tersebut.  Dia menuturkan ide menulis buku ini lahir dari perjalanan karirnya sebagai brand consultant, dan mengamati banyaknya mispersepsi di industri tentang pemahaman branding. (ea)

 

Editor :

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.