The world stands aside for the person who knows where he or she is going.
(John Nasbittt, author of Megatrends)
Sir Alex Ferguson, Manager Manchester United, dan David Beckham memutuskan pensiun dari sepak bola, Mei ini. Ikon sepakbola itu meninggalkan jejak legenda dalam konteks berbeda.
Di bagian lain, Tony Fernandes, disrupted innovator, di industri low cost carrier gagal menyelamatkan klubnya Queens Park Rangers (QPR) dari jurang degradasi ke divisi 1 Liga Inggris.
Pertanyaannya kemudian, apakah keputusan pensiun di puncak karir atau membesarkan klub hebat (great) adalah sebuah pilihan sadar?
Ketika Fergie (71) mengumumkan pensiun pada 8 Mei 2013, harga saham MU di bursa saham New York langsung melorot dari US$18,77 menjadi US$17,73. Penurunan 5,5% itu mencerminkan nilai Fergie (US$385 juta) atau 11% dari nilai korporat MU US$3,5 miliar. George Soros tercatat juga memiliki saham klub ini, 7,85%.
Selama 26 tahun lebih memimpin Red Devils, Fergie sukses meraih 2 kali juara Liga Champion,13 kali juara liga Inggris, 5 kali piala FA, 4 piala Liga, 10 Community Shield, 1 piala Winners, 1 piala Super Eropa, 1 piala Interkontinental, dan 1 piala Dunia Antarklub.
Torehan emas itu sejalan dengan lonjakan nilai klub. Nilai global brand MU di 2012 tercatat US$293 juta, atau di atas Real Madrid US$255 juta. Setan Merah tercatat sebagai klub paling berharga kedua di dunia senilai US$$3,17 miliar selama musim 2011-2012. Sedikit di bawah Real Madrid US$3,3 miliar. Diperkirakan sekarang nilainya sudah menembus US$3,5 miliar.
Ferguson juga dikenal sebagai manager terkaya di Inggris. Kekayaannya mencapai f34 juta, di atas Arsene Wenge pelatih Arsenal f29 juta dan Roberto Mancini (Manchester City) f21 juta. Dia juga pebisnis di sektor properti, pacuan kuda, dan dunia film. Pada 2003, Fergie membeli tujuh gedung perkantoran di jl. Gracechurch 70 senilai f150 juta (Rp2,2 triliun).
Apa kunci sukses Fergie? Forbes menyebut paling tidak ada tiga. Pertama, jeli melihat dan mengelola talent (pemain berbakat). Kedua, motivator ulung. Ketiga,sikap paradoks dalam menggabungkan kekuasaan dan control dalam fleksibilitas.
Beckham-ikon global
Beckham adalah ikon sepakbola global. Keahliannya mengolah kulit bundar, penampilannya yang bak model menjadikan dia merek global laris(lead user, trend setter, atau influencer).
Dia menempati peringkat ke-8 sebagai atlet dunia dengan bayaran tertinggi, the World’s highest-paid Athletes versi Forbes dengan bayaran US$46 juta. Angka tersebut di atas pemain sepakbola termahal dalam sejarah olah raga, Cristiano Ronaldo US$42,5 juta (peringkat 9) dan Lionel Messi US$39 juta (peringkat 11). Ronaldo ditransfer ke Real Madrid dari Old Trafford senilai US$132 juta.
Total penghasilan suami Victoria “Posh Spice” Adams selama 2012 mencapai US$50,6 juta.Dari jumlah itu, US$44,1 di antaranya didapat dari sponsor Adidas, Breitling (jam tangan), Coty (parfum), H&M (ritel), dan Sainsbury (pasar swalayan).
Kendati tetap moncer dan diinginkan klub kaya Paris Saint-Germain (Perancis), Beckham lebih memilih pensiun di usia 38 tahun.
Klub beda korporat
Kisah berbeda terjadi pada Tony Fernandes, CEO AirAsia. Sukses membenahi AirAsia, tidak terjadi pada klubnya, Queens Park Rangers. Klub yang 33% sahamnya dimiliki konglomerat India Lakshmi Mittal (nilai kekayaan bersih US$16,5 miliar) akhirnya tergelincir ke divisi 1 Liga Inggris.
Tony sudah menggelontorkan ratusan juta poundsterling untuk mendatangkan pelatih Harry Redknapp, serta pemain bintang seperti Park Ji-sung, Julio Cesar, dan Jose Bosingwa. Pengeluaran gaji pemain pun melonjak menjadi Rp701 miliar per musim. Terakhir, mereka mendatangkan Loic Remy dan Christopher Samba. Hasilnya nol.
Padahal, Tony berhasil menyehatkan local cost airlines yang disubsidi pemerintah dan sedang bleeding, menjadi untung hanya dalam 2 tahun.Visinya menjadikan AirAsia sebagai local cost carrier terbesar di kawasan regional Asia.
Apa penyebab kegagalan QPR? Mungkin Tony bermain di luar kompetensi intinya. Kekuasaan dan kontrol disiplin manajemen klub menjadi lemah. Sebagai, entrepreneur tentu kita bisa menduga maneuver Tony selanjutnya.
Hebat sebagai pilihan
Sepak bola atau airlines adalah industri dengan lingkungan ekstrem (hypercompetition). Fergie, Beckham, dan Tony menciptakan kinerja ekstrem di lingkungan ekstrem.
Dalam konteks korporat, Jim Collins & Morten T. Hansen, penulis Great by Choice, menamainya 10xer, yakni perusahaan yang tidak sekadar bertahan atau sukses. Mereka benar-benar Berjaya.
Setiap perusahaan 10x mengalahkan indeks industry di AS paling tidak 10 kali. Contoh perusahaan ini a.l.Southwest Airlines (periode 1967-2002), Stryker (1977-2002), Microsoft (1975-2002), dan Intel (1968-2002). Southwest bahkan memiliki kinerja relatif terhadap industri 550,4 kali. Dalam konteks kemimpinan mereka disebut pemimpin tingkat 5.
Para pimimpin 10xer merangkul paradox control dan nonkontrol. Artinya, di satu sisi mereka menyadari menghadapi ketidakpastian terus menerus. Di sisi lain, mereka menolak kondisi eksternal menyetir hasil mereka.
Mereka kemudian menghidupkan ide tersebut dengan menggerakkan segi tiga prilaku kemimpinan 10 x yaitu (1) disiplin fanatik (2) kreativitas empiris (3)paranoia produktif. Menggerakan ketiga prilaku inti adalah kekuatan ambisi level 5.
Artinya, pemimpin besar yang lestari menikmati situasi paradoks. Mereka mensinergikan, disiplin dan kreatif; validasi empiris dan langkah berani; kehati-hatian dan tujuan muluk; paranoid dan pemberani; serta sangat ambisius dan tidak egosentris.
Disamping, mengelola standar kinerja ketat dan tidak pernah kebablasan/mampu menahan diri; tidak bisa meramalkan masa depan dan bersiap untuk yang tidak bisa diramalkan; serta pemikiran disiplin dan tindakan tegas.
Dalam konteks leadership, ketiganya memiliki ciri-ciri kepemimpinan tingkat lima: (1) kemauan professional & kerendahan hati.(2)ambisi untuk perusahaan termasuk menyiapkan pengganti (3) Kesederhanaan (4) Ketetapan hati yang teguh (5) Membagikan pujian & sukses perusahaan kepada orang lain dan eksternal.
Dari cerita di atas, dapat dipahami menjadi tokoh hebat bagi Fergie dan Beckham--kemudian memilih pensiun--adalah pilihan sadar. Kasus serupa untuk kebersamaan Tony dan QPR.
“Mereka [pemimpin besar] tidak bisa meramalkan masa depan, tapi bisa menciptakannya,” kata Jim Collins. (mfm)
Editor : Fatkhul Maskur
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.