RSS FEEDLOGIN

Bagus Susanto : Menghargai Perbedaan

Didit A. Susanto   -   Rabu, 06 Februari 2013, 09:11 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Mobil merek Ford di Indonesia identik dengan kendaraan taksi pada era 1980- 1990-an. Namun, dalam 10 tahun terakhir mobil ini cukup digandrungi oleh anak muda. Tak pelak pangsa pasarnya pun meningkat dengan menembus peringkat 10 besar mobil nasional.

Lalu apa kiat manajemen pabrikan asal Paman Sam itu melakukan penetrasi pasar di Tanah Air? Bisnis Indonesia berkesempatan wawancara dengan Managing Director PT Ford Motor Indonesia Bagus Susanto. Berikut petikannya:
 

Bagaimana perjalanan karier Anda sampai di Ford?
 

Saya lulus kuliah langsung mendapat panggilan interview di Toyota Astra dan TNT. Saya sempat interview di Surabaya. Kemudian diminta interview dengan bos di Jakarta. Saya berangkat ke Jakarta naik bis Lorena waktu itu. Kemudian turun di Pulogadung.
 

Datang ke situ sampai Jakarta mana saya tidak tahu. Apalagi mau ke kantor. Benar-benar asli kaum urban. Saya mau ke Sunter naik apa tidak tahu. Ini pengalaman yang masih diingat. Ini peristiwa tidak mudah dilupakan.
 

Setelah interview diterima langsung mencari kos-kosan. Waktu wawancara hari Jumat, kemudian Senin harus kerja. Saya sempat tanya HRD di mana mencari kos-kosan. Kemudian dikasih tahu, disuruh naik metro mini P07 turun pasar Cempaka Putih. Di situ saya dapat kos-kosan.
 

Itu pada 1997, setelah lulus kuliah. Saya waktu itu menjabat Area Sales Representative of Domestic Sales. Waktu di Astra saya sempat ditugaskan di Jepang selama setahun. Terakhir saya menduduki posisi Execu tive Officer of Corporate Planning di Toyota.
 

Lalu saya masuk Ford pada Mei 2003. Saya menjadi GM marketing. Kemudian menjadi marketing di rector pada 2007 awal.
 

Bagaimana pasang surut perusahaan yang Anda pimpin?
 

Perusahaan ini berdiri pada 2000, tapi resmi ber operasi menjadi anak usaha Ford
Company pada 2002. Kami membuka dealer pertama Maret 2002. Kami menjual produk pertama Ford Ranger. Setelah itu menambah jumlah outlet. Dari satu menjadi empat outlet.
 

Kemudian produk ditambah dari Ra nger menjadi Es cape, dan Everest. Kemudian Ford Focus pada 2005, dan Fiesta. Jadi saat ini menjadi lima produk. Kemudian kami terus membangun outlet. Akhir tahun lalu kami mempunyai 40 outlet. Outlet ada di Jawa dan luar Jawa.
 

Situasi tersulit apakah yang pernah dihadapi?
 

Tantangan kami lebih membangun merek. Sebagai pemain baru di Indonesia, bagaimana meyakinkan para dealer kami untuk berinvestasi. Karena mereka yang berinvestasi untuk purnajual.
 

Selain itu, bagaimana juga meyakinkan konsumen Indonesia. Ford harus menampilkan produk baru, sehingga stigma sebelumnya dikenal mobil taksi hilang. Ini dilakukan sejak awal dengan melahirkan produk baru. Sejak berdiri 2002.
 

Misalnya ada SUV Ford Escape. Ini keinginan agar dikenal Ford sebagai pemain global. Pelan tapi pasti, aware konsumen makin terbuka. Pada akhir 2010 kami luncurkan Ford Fiesta. Ini untuk melayani konsumen baru, untuk membantu image Ford di Indonesia.
 

Tahun lalu kami mengeluarkan dua produk global All New Focus dan All New Ranger. Kami perkenalkan desain hemat bahan bakar. Kami kenalkan fitur entertainment, voice comment dan lainnya.
 

Ini strategi kami memperkuat image Ford di Indonesia, terutama dalam technology advance dan yang pertama di kelasnya, mengeluarkan fitur smart, inovatif, dan modern.
 

Sekarang brand kami mulai kelihatan. Kalau dulu terlalu corporate, cukup di luar Jawa ke wilayah tambang, ini membuat banyak orang tidak tahu. Kemudian kami perkenalkan di Jakarta dengan SUV, tapi harga kami di atas Rp300 juta.
 

Selanjutnya dengan Fiesta dan Focus menjadi dikenal. Anak muda sangup beli Fiesta. Mereka bisa membandingkan dengan mobil kecil lainnya. Jumlah dealer kami pun makin lama makin tambah. Dulu image susah services, sekarang sudah bisa semua. Dealer kami sudah banyak.
 

Apa keputusan Anda yang dianggap paling monumental?
 

Pada 2002 kami jualan 1.400 unit setahun. Gaikindo dulu member banyak, ada 30-an, tetapi kami peringkat 16. Nah, sekarang produk kami makin luas dan dealer banyak, semakin lama makin meningkat.
 

Pada 2011 yang lalu kami menjual 16.000 unit, tapi pada 2012 kami menjual 12.000 unit. Kami keterbatasan suplai karena Thailand kebanjiran. Sekarang kami peringkat 10 besar. Sekarang kami rangking Sembilan di Gaikindo. Itu berkat upaya membangun image Ford.
 

Kami juga berhasil menjalankan Strategi One Ford. Kenapa begitu? Karena sejak ada Strategy One Ford sukses di mana-mana. Mulai dari Ford Fiesta, sukses di Eropa, Amerika, Amerika Selatan, Asia Pacific dan Indonesia tentunya. Ini sangat berhasil.
 

Pernahkah Anda mengambil keputusan keliru dan Anda sesali?
 

Saya rasa tidak. Prinsip saya sekali melangkah tidak melihat ke belakang lagi.
 

Keputusan yang sangat sulit dan dilematis? Apakah itu?
 

Banyak. Seperti keluar dari Astra itu itu sulit untuk diambil. Selain itu, waktu di Ford ditawari pindah ke regional office, itu cukup dilematis. Tentunya saya sadar kerja di luar negeri sebagai ekspatriat sulit.
 

Satu faktor keluarga. Harus memastikan mereka bisa bersosialisasi.
 

Kedua bekerja di luar negeri memberikan tantangan lebih, misal sisi bahasa. Karena regional office bukan satu negara saja. Kalau Indonesia saya tahu marketnya seperti apa. Ada 11 negara, berbeda-beda orang dan bahasa.
 

Tapi, waktu mendapatkan tantangan itu saya bersedia. Seperti ditawari bekerja di Jepang waktu ma sih di Astra. Itu membuat keputusan sulit.
 

Bagaimana hasil akhir dari keputusan Anda tersebut?
 

Ini pengalaman berharga. Saya tahu manajemen Ford bagaimana. Punya networking luas kalau ada masalah saya bisa menghubungi. Mungkin dasar ini juga Ford memberikan kewenangan untuk memimpin Ford Motor orang Indonesia. Kalau perusahaan lain seperti Chevrolet, Mazda, Suzuki, dan Tata Motor rata-rata orang dari mereka.
 

Saya pikir kebanggaan dan tanggung jawab. Ford itu mempunyai prinsip mereka beroperasi akan mendevelop talent lokal. Mereka cenderung ingin mengembangkan. Saya merupakan bagian sistem mereka. Kenapa dulu tugas di Bangkok dan Shanghai? Ya karena itu, mereka memberikan tanggungjawab.
 

Apabila terjadi krisis langkah prioritas apa yang akan Anda lakukan agar perusahaan survive?
 

Saya tidak worry karena kami ada team Ford Asean. Tergantung situasi, saya akan mendiskusikan dengan Asean. Saya bisa mendiskusikan team Asia Pacific. Saya punya backup untuk mendukung kami. Kapan pun. Kami akan konsolidasi dengan tim regional kami.
 

Apa rencana aksi korporasi?
 

Dalam jangka panjang, kami akan memperluas jaringan product line up. Dengan lima produk yang ada sekarang ini kami meng-cover 15% total industri yang ada. Itu tidak ideal. Dalam upaya untuk ekspansi, ini harus ditambah.
 

Dengan adanya new product akan mendorong new market. Dengan meluncurkan produk baru. misal tahun lalu New Ranger dan All New Focus. Tahun berikutnya akan meluncurkan Ecosport. Ini untuk small SUV. Kami akan mendatangkan produk baru cakupan pasar kami.
 

Kedua memperluas dan memperkuat dealer network. Dengan pro duk makin bertambah, pasar besar, ha rus ditambah jaringan dealer-nya. Kami akan membuka outlet atau mengisi outlet yang ada.
 

Showroom di Cibubur sudah dibangun, Mei mudah-mudahan selesai. Di Bekasi, dan BSD sedang kami bangun showroom. Di luar kota akan bangun di Bandung menjadi dua. Di Jogja dan Surabaya dari satu menjadi dua dan di Bali juga. Kemudian akan bangun di Pontianak, Banjarbaru, Martapura, dan Lampung.
 

Penjualan akan ditarget berapa?
 

Ya tentu akan bertambah, tapi tidak bisa sharing.
 

Bagaimana Anda memersepsikan konsumen?
 

Ford ada karena konsumen. Bisnis Ford adalah layanan maksimal kepada konsumen. Dengan pandangan seperti itu kepuasan konsumen adalah yang utama. Ini bagi Ford Indonesia dan dealer.
 

Ini bagi layanan produk penjualan dan purnajual mendapat layanan khusus. Ini menjadi strategi kami. Untuk meningkatkan program yang maksimal kepada konsumen.
 

Misal tahun lalu jaminan 24 jam atau gratis. Jadi kalau tak ada spare part selama 1x24 jam gratis.
Kemudian memperluas ERA [emergency roadside assistance]. Kalau ada masalah tinggal telepon. Kami akan memberikan bantuan yang dibutuhkan. Sekadar tolong tanpa ada bayaran. ERA udah di kota besar.
 

Selain itu, kami memonitor kepuasan konsumen melalui telepon. Kami monitor terus. Tahun lalu kita peringkat tiga di GT Power, lembaga pe meringkat konsumen secara global.
 

Apabila ada karyawan yang menentang, bagaimana Anda memperlakukannya?
 

Justru saya mendorong tim untuk beda pendapat. Itu menjadi kultur Ford Motor Indonesia. Tak ada hierarki atasan selalu benar. Kami minta untuk beda pendapat. Saya ambil positif saja, speak with data, speak with fakta.
 

Misal ada yang nggak setuju harus disampaikan dengan data dan fakta. Saya ada team management. Saya ada regular team setiap minggu. Di mana setiap minggu mereview hal yang strategis bagi perusahaan. Di situ setiap orang berhak tanya dan pendapat.
 

Bagaimana Anda mencapai posisi puncak di perusahaan ini? Siapakah orang di balik sukses Anda?
 

Yang jelas kalau ada saya sukses ya istri saya. Karena selalu mendampingi ke mana pun berada. Termasuk ke Jepang. Pindah Ford ada peranan. Keputusan ini dilematis. Satu sisi nyaman dan enak. Mapan, punya rumah, mobil, karir bagus.
 

Waktu itu istri tanya juga, keluar dari zona comfort. Kalau kamu yakin keluar kamu akan sukses di mana pun. Ok, saya yakin sukses di mana pun juga. Jadi kenapa peran istri besar, karena kalau terjadi apa-apa istri saya juga yang merasakan.
 

Apakah Anda menyiapkan kader atau CEO pengganti Anda nanti? Bagaimana cara kaderisasinya?
 

Itu pasti. Itu tugas utama pemimpin untuk men-develop yang baru. Kalau melihat diangkat menjadi pimpinan tertinggi di Ford Motor Indonesia kebanggaan dan tanggung jawab. Kebanggan lokal, tapi tanggung jawab talent dari lokal untuk meneruskan apa yang sudah dirintis. Menurut saya seorang pemimpin harus berhasil melahirkan pemimpin lain.
 

Bagaimana cara Anda menggerakkan orang-orang?
 

Simple saja. Pertama, untuk mencapai tujuan karyawan harus tahu tujuan nya. Kami harus komunikasikan targetnya. Kami harus menjelaskan setiap orang dan departemen terhadap tujuan tersebut. GM harus tahu kontribusi pencapaian tahun ini. GM sales, after sales harus tahu. Mereka harus bisa membaca lebih detail.
 

Kedua, menurut saya harus bisa membantu setiap orang agar mencapai performa secara maksimal. Tugas saya bukan marketing, karena pimpinan penjulanan. Tapi saya memberikan bantuan dan arahan untuk memaksimalkan performa mereka. Hadir saat mereka memerlukan arahan.
 

Budaya kerja juga. Kami menerapkan culture meeting harus on time, kalau nggak on time bayar. Ka lau manajemen telat bayar Rp50.000, sedangkans staf ke bawah Rp20.000. Kita siapkan kotak merah. Tapi informasi jelas. Kami memulai dan mengakhiri meeting ontime.
 

Sekarang redbox nggak ada. Tapi semua sudah berubah. Saya datang, 5 menit sebelumnya mereka sudah datang. Kami sebagai pemimpin memberikan teladan.
 

Bagaimana urusan keluarga dan pekerjaan?
 

Keseimbangan itu sangat penting. Keseimbangan kehidupan kerja sangat penting bagi saya dan perusahaan. Kami juga memotivasi untuk keseimbangan itu. Kami punya program tahun lalu setiap jumat jam 5 sore harus pulang.
 

Kalau nggak pulang dari kantor bayar. Ini diskusikan dengan management, karena mereka pekerja keras semua rata-rata kalau kerja dari jam tujuh sampai sepuluh malam. Kalau mereka lembur setiap hari, waktu weekend teller. Padahal punya istri suami dan anak.
 

Jadi kami biarkan kerja leluasa Senin sampai Kamis. Tapi, kalau Jumat harus pulang lebih awal yang bujangan terserah, mau nonton, atau apa silahkan.
 

Buat saya sendiri juga penting, saya katakan istri dan anak-anak hari biasa tidak bisa diandalkan untuk pulang sore. Tapi, Sabtu-Minggu totalitas buat keluarga. Saya tidak golf. Meskipun suka diajak teman-teman.
 

Apa hobi Anda?
 

Saya sebenarnya lebih senang traveling atau outbond. Daripada pergi ke mall, ke pantai, naik gunung saya memilih itu.
 

Siapakah tokoh idola Anda?
 

Saya rasa idola ayah saya. Karena ayah saya berangkat dari nol. Seorang pedagang dan menjadi semangat tidak putus asa.

Source : Hendri T. Asworo

Editor : Sitta Husein

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.