BRUSSEL: Yunani berjuang untuk mendapatkan aliran dana bantuan tahap kedua, yang kemungkinan hanya dapat dikucurkan dengan persyaratan baru sebagai upaya untuk menjaga agar kawasan Eropa tetap bersatu.
Rencana bantuan termasuk menghilangkan 70% keuntungan dari para pemegang obligasi dan memberikan pinjaman sebesar US$171 miliar atau 130 miliar euro. Rencana ini dijadwalkan akan disepakati dalam beberapa minggu ini.
Holger Schmieding, Ekonom dari Berenberg Bank London, menyatakan rencana itu tidak akan membuat kerugian pihak manapun.
“Yunani aakan menanggung lebih banyak utang, dan sangat kecil pertumbuhannya, dan sangat besar lubang anggaran jika tidak mendapatkan bantuan dari negara-negara lain di kawasan Eropa, yang saat ini dipimpin oleh Jerman. Meskipun jumlah bantuan akan diperbesar,” ujarnya.
Schmieding menyatakan Yunani berada dalam masalah besar. Saat ini, katanya, Yunani sedang melakukan program penyesuaian. Dia mengatakan program penghematan yang dilakukan pemerintah Yunani sangat kurang dukungan dari sisi pasokan.
Selain itu, tambahnya, secara administratif, Yunani sangat tidak berkompeten, ditambah dengan adanya deadlock secara politik yang membuat perekonomian Yunani semakin parah.
Pada saat yang sama pemerintah Yunani bernegosiasi dengan perwakilan Troika, yang terdiri dari Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan International Monetary Fund, Chief executive Deutsche Bank AG Josef Ackermann melawat ke Athena pada minggu ini untuk berbicara dengan para mitra terkait dengan kemungkinan penghapusan utang Yunani senilai 200 miliar euro.
Para kreditor telah bersiap untuk menerima rata-rata kupon yang rendah sebesar 3,6% untuk obligasi yang baru, dengan jangka waktu 30 tahun. Meskipun demikian, kesepakatan akhir belum ditandatangani. Tujuan untuk pemangkasan beban utang Yunani hingga 120% ini ditargetkan dicapai pada 2020, dari sebelumnya 160% pada 2011.
Ackermann menyatakan kesepakatan itu kemungkinan akan dicapai dalam beberapa minggu, dan kemungkinan dalam beberapa hari. Pada saat yang sama para menteri keuangan dari negara-negara Eropa yang mendapatkan peringkat AAA, seperti Jerman, Luxembourg, Belanda, dan Finlandia, telah merencanakan pertemuan di Berlin, pada hari ini.
Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble menyatakan kami tidak dapat membayar semuanya. “Yunani perlu program baru, dan tidak ada pertanyaan lagi terkait hal itu. Yunani harus merancang situasi itu,” katanya.
Selama dua tahun ini, Yunani berada dalam pengawasan terkait dengan krisis utang Eropa. Kondisi yang terjadi di Yunani ini memicu kesabaran negara-negara di kawasan Uni Eropa. Pada akhir November lalu, pada saat membahas situasi di Yunani, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengemukakan kemungkinan Yunani keluar dari keanggotaan di Uni Eropa.
Kegagalan untuk mengawasi masalah yang dihadapi Yunani, membuat Irlandia dan Portugal juga masuk dalam program bantuan. Upaya ini untuk meningkatkan biaya pinjaman untuk Italia dan Spanyol. Masalah ini membuat Bank Sentral Eropa berada pada posisi mengimplementasikan program yang dinilai sangat kontroversial seperti pembelian obligasi. Masalah ini juga membuat lembaga peringkat internasional, Standard & Poor’s menurunkan peringkat Prancis dari posisi teratas di peringkat kredit. (Diena Lestari/sut)
Showing 0 - 0 of 0 comments