JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Pindang Ikan Indonesia (APPikanDo) mengeluhkan kelangkaan bahan baku ikan pindang serta kenaikan harga bahan baku menjadi Rp11.000 per kg dibandingkan dengan bulan lalu Rp7.000 per kg.
Ketua Umum APPikanDo E. F. Hamidy mengatakan berdasarkan laporan dari beberapa provinsi dari kooridnator APPikanDo wilayah masing-masing menyatakan stok bahan baku ikan pindang berkurang dan harga bahan baku pindang saat ini meningkat dibandingkan dengan bulan lalu.
"Hal ini sebagai akibat nelayan tidak dapat melaut, karena kondisi cuaca jelek. Penyebab lain, di pasar, masyarakat juga sudah semakin langka, sehingga sulit untuk mendapatkan ikan segar, sehingga beralih ke ikan pindang," ujarnya saat Konferensi Pers APPikanDo hari ini.
Salah satu penyebab berkurangnya stok ikan dan harga bahab baku mahal, karena para nelayan dalam beberapa pekan ini tidak dapat melaut akibat cuaca yang tidak memungkinkan.
Dia menuturkan pihaknya tidak berbicara soal impor, tetapi membutuhkan jaminan ketercukupan pasokan bahan baku pindang. "Kita tidak berbicara impor, yang penting ikan itu ada dan harga terjangkau."
Hamidy meminta pemerintah menjaga agar para pemindang terus berjalan, tidak boleh terhenti akibat kelangkaan bahan baku. Dia berpendapat seluruh persoalan bahan baku ikan pindang itu disebabkan sistem manajemen lodistik tidak berjalan dengan baik. "Sistem logistik yang harus dibenahi ke depan. Manajemen logistik kurang sempurna, karena saat panen ikan banyak tidak di manage dengan baik yang dapat menjadi penyangga."
Data APPikanDo mencatat total kebutuhan bahan baku ikan untuk pindang nasional sebanyak 157.838 ton per bulan, hanya mampu dipasok dari hasil penangkapan nelayan Indonesia sebesar 76.434 ton atau 48,43% per bulan. Oleh karena itu, pasokan bahan baku ikan pindang masih kurang 81.405 ton atau 51,57% per bulan.
Pada akhir bulan ini sebagai masa paceklik, untuk memenuhi kekurangan tersebut kebijakan impor tersebut, katanya, menjadi solusi sementara, dengan adanya kebijakan impor ikan di masa-masa tersebut, selain membantu kelangsungan usaha pengrajin ikan pindang, impor ikan ini juga ikut menyelamatkan ratusan ribu tenaga kerja yang menggeluti usaha ikan pindang.
APPikanDo, katanya, mendorong keseimbangan supply dan demand sehingga harga bahan baku relatif stabil. Pengalaman selama ini membuktikan impor ikan mampu menutup kebutuhan pengrajin ikan pindang saat musim paceklik datang yang ditandai dengan fluktuasi harga dan kuantitas yang tidak menentu.
Data asosiasi itu mencatat usaha ikan pindang menyerap tenaga kerja 354.355 orang per hari, terdiri dari pengrajin ikan pindang atau pengepul 65.000 orang, pekerja pemindang 157.830 orang (15 orang untuk 1 ton ikan dikalikan 5.261 ton).
Pedagang eceran pindang 78.915 orang (15 orang untuk 1 ton ikan x 5.621 ton). Pengrajin besek atau kemasan 52.610 orang (10 orang untuk 1 ton ikan x 5.261 ton).
Secara bersamaan, Penasehat APPikanDo Yusuf Ramli mengatakan stok bahan baku ikan pindang dalam beberapa pekan ke depan dipastikan akan habis.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku pindang saat ini mencapai 30%-40% dibandingkan dengan bulan lalu. Harga rata-rata bahan baku pindang seperti ikan salem pada bulan lalu Rp7.000-Rp8.000 per kg naik menjadi Rp11.000 per kg.
"Untuk bahan baku pindang yang umum itu tongkol, layang, kembung, dan ikan salem. Saat ini, APPikanDo rekomendasi untuk impor ikan salem saja," ujarnya.
Dia menjelaskan jenis bahan baku yang sangat dibutuhkan untuk industri pemindangan adalah ikan salem. Bahkan, terbatasnya bahan baku itu bisa berlangsung hingga Juni mendatang. "Baru mulai ada [stok bahan baku pindang normal kembali] mulai Agustus [2012]."
Menurutnya, stok bahan baku pindang yang masih ada saat ini merupakan stok lama, sedangkan ikan segar sudah tidak ada lagi. "Itu pun harga sudah naik tinggi."
Dia memprediksikan jika tidak ada impor ikan salem, maka harga bahan baku akan semakin melonjak tinggi. Dia menuturkan pemerintah memperbolehkan impor ikan salem, tetapi saat ini pemerintah tidak memberikan izin, karena ada opini publik yang menentang impor.
"Kami meminta itu [ikan salem] untuk segera melakukan importasi pada Februari 2012. Diperkirakan Februari-Juni 2012 masih terjadi kelangkaan ikan salem, sehingga harga semakin tidak terkendali."
Yusuf menambahkan kebutuhan ikan salem untuk industri pemindangan sekitar 20%. Menurutnya, saat ini sudah ada sekitar 10%-15% industri pemindangan yang berhenti beroperasi karena kesulitan bahan baku seperti di Belawan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Dia berpendapat ke depan pemerintah perlu untuk memberikan kewenangan kepada APPikanDo untuk memberikan rekomendasi bagi importir ikan salem, sehingga mempermudah pengawasan. Selama ini, katanya, importasi ikan salem berjalan masing-masing, sehingga banyak importir yang tidak bertanggung jawab. "Rekomendasi dari APPikanDo bisa membantu pengawasan."
Hamidy menambahkan persoalan kelangkaan bahan baku itu selalu terjadi setiap tahun saat musim paceklik akibat cuaca buruk. "Ke depan semua pihak harus sama-sama, membenahi stok ikan nasional, ada stok penyangga yang berfungsi, sehingga tidak perlu impor," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu membangun manajemen stok ikan nasional. APPikanDo, katanya, sudah merencakan untuk membangun gudang cold storage penyimpanan ikan di Kawarawang, sehingga bisa menjadi buffer stock.
Ramli menilai manajemen stok di dalam negeri masih buruk, berbeda dengan gudang penyimpanan di luar negeri seperti China yang sudah terbangun dengan baik.
APPikanDo mencatat nilai transaksi atau perputaran ekonomi di sektor perdagangan ikan pindang mencapai Rp89 miliar per hari dengan kisaran ikan pindang Rp17.000 per kg. Dalam sebulan saja, nilainya mencapai Rp2,6 triliun. Untuk data per tahun, perputaran ekonomi di sektor ini mencapai Rp32 triliun.
Rencana impor ikan di musim paceklik ikut menutup kekurangan pasokan bagi usaha ikan pindang di Indonesia. Kebijakan ini telah menyelamatkan pengrajin pindang atau pengepul, pekerja pemindang, pedagang eceran, pengrajin besek, yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, Jawa Timur, dan luar Jawa. (sut)
Showing 1 - 1 of 1 comments