Pertengahan Januari lalu, India memasuki musim dingin. Begitu mendarat di Bandara Internasional Indira Gandi di New Dehli, suhu sekitar 8 derajat Celcius mendirikan bulu roma. Beberapa pendaratan pesawat terpaksa dibatalkan dan dialihkan ke bandara terdekat karena jarak pandang tertutup kabut tebal.
New Delhi adalah ibukota politik yang padat, jalan-jalan selalu sesak oleh mobil yang sebagain besar nampak dekil diguyur debu kering subtropis. Kemacetan terjadi di mana-mana. Maklum, kabarnya populasi mobil di kota ini mencapai 6 juta unit dengan penambahan 10.000 unit mobil baru setiap tahunnya.
Jalanan di New Delhi yang umumnya tidak seberapa lebar, seperti di Jalan Mata Chowk, kawasan Mahipalur, selalu sesak. Di kiri-kanan jalan nampak toko, rumah dan bangunan-bangunan tua dengan tembok batu bata telanjang berwarna kusam. Spanduk, papan nama toko dan kertas-kertas reklame usang menempel tak beraturan.
Ratusan burung merpati dan jalak liar nangkring di atas lintangan kabel listrik dan telepon yang melengkung rendah. Di bawahnya sejumlah anjing mengerumuni tumpukan sampah di sisi trotoar penuh pedagang kaki lima.
Mobil, becak, angkot butut dan sepeda berlomba menyelinap di antara lalu lintas yang ruwet. Ditambah hobi warga membunyikan klakson menambah situasi ingar-bingar tak ramah.
Kemacetan yang akrab di New Delhi, memaksa petugas lalu lintas selalu berkerja ekstra keras mengurai ribuan mobil yang menyumbat jantung kota, mulai dari India Gate, Jalan Ashoka, depan ITO (income tax office/kantor pajak), kawasan Lodhi Colony hingga Connaught Place dan sekitarnya.
Pemandangan ini sungguh mencengangkan, jauh dari bayangan awal sebuah negara yang sedang mengalami kemajuan pesat dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata lima tahun terakhir di atas 7% per tahun.
"India sedang menuju perubahan. Pembangunan di mana-mana sehingga nampak tidak teratur. New Delhi juga sedang dikembangkan menjadi ibukota yang lebih hijau," kata Dashrath Singh Mahecha, pemandu wisata yang membawa rombongan Suzuki Indomobil Indonesia.
Kemajuan ekonomi, menurut Dashrath, juga mengacak-acak tatanan kasta di India yang dulu sangat ketat membagi golongan masyarakat ke dalam empat tingkatan, yaitu Brahman (imam/cendikiawan), Ksatria (prajurit/pejuang), Waisya (pedagang/pengusaha), dan Sudra (pekerja/petani).
Sementara kaum Dalit adalah kelompok tersendiri yang tidak masuk dalam kasta. Mereka adalah orang-orang yang terbuang dalam kelompok masyarakat India, sebagian besar berprofesi sebagai buruh dan pengemis.
"Sekarang hanya ada dua kasta, yaitu kaya dan miskin. Saat ini pun perkawinan antarkasta sudah jamak. Dulu ditabukan, karena jika orang menikah dengan yang berkasta di bawahnya, kasta yang tinggi akan diturunkan," kata Dashrath.
Menurut dia, meski suasananya tak nyaman--termasuk kulinernya-India terus dibanjiri turis asing, mereka terutama berniat melakukan kajian sejarah dan arsitektur. "Bagaimanapun India termasuk salah satu pusat budaya dan sejarah tertua di dunia."
Monumen tua
Kesemrawutan lalu lintas lebih terasa ketika memasuki Old Delhi, terutama di jalan Chadni Chowk menuju Jama Masjid yang megah, sebuah bangunan tua bersejarah yang menjadi salah satu objek wisata andalan India.
Jama Masjid adalah sebuah masjid utama di Old Delhi yang mampu menampung 25.000 jamaah setiap salat Jumat. Masjid ini selesai dibangun pada 1656 Masehi oleh Shah Jahan, Kaisar Mughal. Jama Masjid adalah monumen terakhir yang dibangun olehnya, sekaligus merupakan masjid terbesar dan terindah di India sampai saat ini.
Selain Jama Masjid, Shah Jahan juga membangun Taj Mahal dan masjid-masjid utama di Delhi, Agra, Ajmar dan Lahore.
Untuk membangun Jama Masjid, Kaisar mengerahkan 5.000 pekerja untuk membangun masjid ini selama enam tahun, termasuk relik dan manuskrip Al Quran di kulit rusa. Biaya yang dikeluarkan Kekaisaran Mughal dalam proyek ini mencapai 10 lakh (1 juta Rupee).
Masjid ini memiliki tiga pintu masuk (barat/pintu utama, utara, dan timur/pintu untuk keluarga raja), dua minaret (tempat muadzin mengumandangkan adzan) dan empat menara lain.
Sedangkan Chadni Chowk di sisi utara Jama Masjid dulu dibangun sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan yang sama tuanya dengan kota ini. Sayangnya, waktu telah mengubah kawasan yang dulunya cantik dan mewah ini menjadi padat dan kumuh.
Kini, di sisi kanan-kiri jalan Chadni Chowk yang sempit dipenuhi pedagang barang bekas mulai lampu, alat pertukangan, suku cadang motor dan mobil, hingga pakaian dan kelengkapan dapur.
Toko-toko tua berderet berimpitan, sebagian berwarna kusam merah bata, di bagian bawahnya kotor oleh percikan air hujan bercampur lumpur selokan. Becak dan bajaj roda tiga sembarangan ngetem di pinggir jalan.
Tempat ibadah lain di Delhi yang tersohor adalah Lotus Temple yang selesai dibangun pada 1986. Ini merupakan salah satu dari enam tempat ibadah kepercayaan Bahai di seluruh dunia. Lotus atau teratai merupakan bunga nasional India yang melambangkan kemurnian dan perdamaian serta manifestasi para dewa.
Monumen lain yang tak kalah megah di Delhi adalah India Gate, salah satu bangunan yang didesain oleh Lutyens didirikan pada 1921 untuk mengenang puluhan ribu tentara India yang gugur dalam Perang Dunia I dan perang di Afghanistan pada 1919.
Nama-nama mereka yang gugur dituliskan pada monumen setinggi 42 meter itu, yang sepintas tampak seperti monumen kemenangan (Arc de Triomphe) Paris ini. Di bagian bawah monumen terdapat api abadi Amar Jawan Jyoti untuk menghormati mereka yang gugur pada perang India-Pakistan 1971.
Rasanya tak lengkap ke India jika belum mengunjungi Taj Mahal. Kereta api eksekutif adalah pilihan terbaik. Dari stasiun Delhi yang kotor dan terbekap dalam gerbong pengap, sekitar 4 jam melewati daerah pertanian yang kering, sampailah di Kota Agra, lokasi Taj Mahal.
Taj Mahal dibangun Shan Jahan pada 1631-1648 untuk mengenang istrinya, Arjuman Bano Begum, atau lebih dikenal sebagai Mumtaz Mahal. Monumen ini sebagai contoh karya arsitektur muslim India sekaligus lambang cinta abadi Kaisar untuk permaisurinya itu.
Mumtaz Mahal meninggal pada 1631 di usia ke 39, ketika melahirkan anak ke-14. Kematian Sang Permaisuri ini membuat Kaisar sangat berduka. Dia pun sepenuh hati memenuhi pesan terakhir istrinya untuk dibuatkan makam yang tak pernah sepi dikunjungi dunia untuk mengenangnya.
Akhirnya Shah Jahan mengerahkan 20.000 pekerja untuk menunaikan pesan istrinya itu, mendatangkan material bangunan dari seluruh India dan Asia Tengah dengan menggunakan 1.000 gajah untuk mendirikan kubah utama yang amat megah setinggi 57 meter.
Selain itu digunakan 28 jenis batu-batuan indah dari berbagai wilayah Asia, seperti batu pasir merah dari Fatehpur Sikri, jasper dari Punjab, jade dan kristal dari China, batu pirus dari Tibet, lapis lazuli dan safir dari Srilanka, batu bara dan batu kornelian dari Arab, serta berlian dari Panna. Lantai pualam yang bercahaya didatangkan dari Makrana, Rajasthan.
Taj Mahal juga memiliki taman yang luas di depan makam. Langit yang melatarbelakangi Taj Mahal menjadikan monumen ini nampak begitu gemerlap dengan warna. Komposisi bentuk dan garisnya pun simetris sempurna
Meski awalnya Shan Jahan menyebut masjid itu hanya sebagai makam Mumtaz Mahal, namun akhirnya berkembang menjadi Taj Mahal yang berarti Istana Mahkota, sebuah perluasan dari nama Mumtaz Mahal yang berasal dari Persia.
Terakhir adalah Benteng Agra yang juga termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Letaknya 2,5 km arah barat laut Taj Mahal. Keduanya dipisahkan oleh Sungai Yamuna. Benteng ini merupakan bangunan penting bersejarah bagi Kerajaan Mugol yang dibangun pada awal abad ke 15 Masehi.
Bangunan seluas 2,5 km2 itu dominan dengan material batu bata merah dan batuan berjenis marmer. Seni kaligrafi Islami mendominasi dinding-dinding benteng ini, sebagian warna biru pada dinding ini sudah pudar karena tergerus zaman, tetapi struktur bangunannya masih terlihat sangat kokoh.
Benteng ini dibangun dengan biaya 35 lakh Rupees. Monumen Agra Fort merupakan bangunan terpenting dalam sejarah Mughal, tercatat semua keturunan Mughal, dari King Akbar, Raja Jehangir, Shah Jahan, hingga Aurangzeb menempati benteng ini sebagai istana mereka. (edy.barlianto@bisnis.co.id) (tw)

Showing 0 - 0 of 0 comments