Ibarat waktu, menggambarkan aktivitas yang dilakukan Tri Mumpuni tak kurang dari tujuh hari selama 24 jam penuh. Namun, sepanjang perjalanan dia tidak menunjukan wajah kelelahan. Energinya seolah terisi dengan sendirinya.
Loncat dari satu negara, bertemu orang baru, menghadiri rapat, mengisi kuliah umum, hingga menjadi penceramah dalam berbagai seminar merupakan hal lazim yang kini terus digelutinya.
Dia menyebut rutinitas yang digelutinya sebagai combining business and pleasure. “Belum lama ini saya ke Amsterdam Belanda, tiba di bandara jam enam pagi. Dijemput langsung rapat jam tujuh pagi. Selesai rapat saya ke Austria naik kereta, istirahat tidur di kereta. Waktu di sana ada waktu senggang Sabtu dan Minggu, saya sempatkan naik gunung selama 6 jam,” tuturnya.
Tapi, jika sudah di kembali ke Indonesia, satu daerah tujuan utamanya yakni pasar tradisional. Tempat yang menurutnya masih menunjukkan sisi kemanusiaan, dimana masyarakat masih bisa bertemu, saling menyapa untuk menjalankan kegiatan bisnis secara khas.
Bahkan untuk hobi yang satu ini, orang di lingkungan kerja maupun maupun anak-anaknya sangat mengenali betul kesukaan Puni mengunjungi berbagai pasar tradisional.
“Sampai diapali sama anak-anak. Mereka bilang kalau ibu nggak ke pasar tradisional udah kayak mau kiamat saja,” katanya sembari tertawa.
Hal sama juga terjadi dalam urusan hidangan makanan di meja makan. Setelah banyak menghabiskan waktu bepergian ke luar kota maupun luar negeri, satu hidangan spesial yang mampu membunuh rasa kangennya yakni tumis kangkung dan tempe goreng.
Menu ini seolah menjadi hidangan wajib. Tak heran, saat berkunjung ke kantornya beberapa waktu lalu, sajian ini menghiasi dapur belakang. “Yang penting ada kangkung dan tempe goreng, sudah cukup bagi saya,” katanya.
Sesekali, kegiatannya saat lengang juga dihabiskan untuk menemani suaminya memasak. “Suami saya hobi masak, nah saya membantu masaknya saja,” imbuhnya.
Saat berada di Pasar Mayestik, Puni menyempatkan diri membeli majalah. Halaman demi halaman majalah ditelusurinya. Sesekali dia menyimak, lalu melepas komentarnya atas tulisan atau foto yang ada di halaman yang dibacanya.
Saat dia menemukan satu halaman yang memuat foto dirinya di sebuah sudut hotel berbintang di Jakarta, ceritanya kembali mengalir. “Ini saya rangkap mas. Mereka minta saya difoto dengan baju yang mereka bawa, karena saya malas ganti, ya sudah saya rangkap saja,” tawa renyahnya lepas lagi.
Showing 0 - 0 of 0 comments