JAKARTA: Rata-rata harga tanah di berbagai lokasi strategis di Bali pada 2011 naik hingga 34%, tertinggi dalam 10 tahun terakhir akibat maraknya bisnis properti di pulau dewata itu sehingga lahan strategis terus menjadi incaran pengembang.
Dalam research konsultan properti Internasional Knight Frank, yang dirilis Selasa (21/02) hari ini, menyebutkan biasanya kenaikan rata-rata harga lahan per tahun hanya 8%-16%.
Pada daerah pesisir pantai atau dengan tebing di kawasan Seminyak dan sekitarnya seperti legian, Petitenget, dan Batu Belig, lonjakan harga rata-rata dapat mencapai kisaran 50%-87,5% pada tahun lalu.
Konsultan properti berskala internasional tersebut menyebutkan berdasarkan informasi pasar secara umum dan tergantung dari lokasi, bentuk, dan luasan area, harga jual kavling di daerah pesisir pantai
di daerah-daerah tersebut berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta per m2.
"Kebanyakan kavling tanah ditawarkan dengan status kepemilikan sewa (leasehold tenure) dan sangat sulit menemukan properti yang ditawarkan dengan status tanah hak milik atau freehold tenure," kata Senior Associate Director Knight Frank Indonesia Fakky Hidayat dalam laporan tersebut.
Namun, kata Fakky, beberapa kavling tanah yang memiliki lokasi strategis, status tanah hak milik, bentuk dan luasan yang diminati, khususnya di beberapa lokasi di kawasan petitenget dan Seminyak,
tercatat mampu mencapai kenaikan harga pasar yang sangat tinggi mencapai masing-masing 175% dan 120% pada tahun lalu.
Sebagai salah satu daerah pusat budaya yang terletak di tengah daratan pulau Bali, lanjutnya, pada tahun lalu Ubud mengalami kenaikan harga rata-rata sekitar 25%. Sedangkan Jimbaran mengalami lonjakan harga tanah hingga sekitar 45% dengan harga kavling tanah mencapai Rp8 juta per m2.
Dia menambahkan di kawasan Nusa Dua dan Benoa yang didominasi oleh hotel berbintang tercatat kenaikan harga sekitar 23%. (Bsi)

Showing 0 - 0 of 0 comments